May 19, 2011

MONOLOG (1) - terluka tapi tidak tercela

Wajah kusam, senyum sendu
Rupa masam, tatapan pilu
Apalagi?

Lagi? Apanya?

Merenung penuh ratap
Menangisi nasib
cih ! Lihat betapa mengenaskan rupamu

Biarkan aku menikmati tiap detik sayatan luka menganga
Biarkan aku bergelut dalam airmata
Biarkan, sebab kelak kan kudapati sendiri hikmahnya

Omong kosong dengan retorika, kawan
Kenyataannya apa?
Kau masih terpuruk tapi pura – pura tegar
Membusuk dibalik topengmu yang sesumbar

Tau apa kau perihal keterpurukan?
Kehilangan yang menjadi racun dalam tiap udara yang kau hela
KEHILANGAN
Sumpal mulutmu sebelum paham artinya

Aku paham luar kepala
Kehilangan itu maksudmu ketiadaan, benar?
Ketiadaan yang kau buat sendiri
cih ! Betapa sempit pikirmu, kawan

Untuk apa membuang waktu dengan membuat ketiadaan, hah?
Ialah kehilangan penyebab seolah semua tiada
seolah segala tak ada arti apa – apa

Lihat.
Kau yang berucap dengan lidahmu sendiri
Rasa kehilanganmu itu yang menciptakan segala luka
segala tiada yang dibuat – buat agar penghuni surga iba
Lekaslah malu, sebelum seisi dunia menertawakan kepedihanmu itu

Belum pernah kau temui cinta jelas kepalamu sekeras batu
Juga hatimu
Juga pikirmu
Atau jangan – jangan kau tak punya hati, hah?

Hey wanita sok tau !
Cinta adalah kebahagiaan, bukan luka seperti yang kau agungkan
Bila cinta pada akhirnya berujung pada perpisahan
Maka hanya dengan melepaskan, cinta akan tetap bersemayam kekal, penuh kehormatan

Ah, tua sekali segala ucapmu !
Lihat dirimu sendiri
iya, SENDIRI
Tidakkah kau bosan berkutat dengan semua retorika kehidupan?
Petuah – petuah basi yang kau bilang kalimat bijak
Kedewasaan yang dieluh – eluhkan semua orang
Padahal jauh di lubuk sana, kau RAPUH
Menasihati orang membuatmu dapat menyingkirkan gelisah, kan?

Setidaknya itu lebih baik tinimbang berpura – pura bahagia
Setidaknya dengan menasihati orang lain aku telah menasihati diriku sendiri
Setidaknya aku bukan kamu

Apa kau bilang?
Aku bukan kamu?
BODOH
Sudah jelas kita hidup berlekatan
Dalam raga yang serupa
Itu jelas berarti aku dan kamu adalah kamu dan aku

(diam)

Diam berarti iya, kan?
HAHA

(tetap diam)

Ternyata kau sepecundang itu, ya
Belagak tau segala hal
Padahal seperti yang kubilang, RAPUH

Sesaat tadi aku berpikir betapa bodohnya kau
Dan betapa dungunya aku
Betapa munafiknya kau
Dan betapa idiotnya aku
Beginilah, sebab aku adalah kamu dan kamu adalah aku

Jadi intinya, aku masih boleh mencintainya atau tidak?

Dalam hal ini jelas kau memang paling bodoh
Sudah jelas sedari tadi kita tidak membahas itu

Boleh atau tidak?

Dia sudah punya yang baru
Lepaskan ia, lalu berbahagia
Relakan saja, lantas bersuka cita

Jawab sajalah, iya atau tidak?

Tidak ada yang perlu dijawab sebab kau jelas sudah tau jawabannya

Jawabku iya, itu jugakah jawabmu?

BODOH
Lalu apa bedanya kau dengan wanita itu bila kau masih berani mencintainya, hah?

Why not?

Cause there isn’t yes anymore, dude.

***

dua tiga lima bilangan prima
lantas sepuluh seratus seribu hakikatnya dua angka saja
sudah kelu hati juga pikir berucap 'iya'
disakiti diam saja, kini letih temui jera

jatuh bangun atlet lari jarak jauh
tak kalah berpeluh atlet panahan
sungguh pilu seakan berjumpa teluh
jangan sekali - kali jatuh cinta bila tak ingin terluka, kawan.

***

SUFIA, Mei 2011
ketika jiwa - jiwa nakal berkelahi di dalam pikiran sempit penuh sesak


#Sufia

Sorbonne, Seoul, Saudi Arabia, SOON