"Aku mau jadi anak baik, biar bisa buat Bu Ellys masuk surga,"
***
Hai.
Mengajar anak-anak memang banyak kejutannya. Setiap hari selalu ada cerita, yang lucu ataupun menyebalkan, yang sedih ataupun membahagiakan. Celoteh, tawa, tangis sudah jadi makanan sehari-hari. Anak-anak berumur 6-7 tahun ini mengajarkan saya banyak hal.
Kejadiannya kemarin. Saya kebetulan mengajar sendiri karena partner saya sedang menjadi penguji tes masuk. Mengelola kelas sendiri (apalagi kelas 1 SD) membutuhkan energi yang besar. Tidak boleh emosi, tidak boleh berteriak.
Hari itu saya mengajar pengurangan dengan cara meminjam. Ada 7 orang yang kesulitan dalam memahami. Alhasil saya harus menukar posisi duduk mereka menjadi baris paling depan. Saya tukar dengan anak-anak yang sudah lebih paham. Salah satu diantara yang lebih paham itu adalah Adelia.
Adelia adalah anak yang kemampuan kognitifnya di atas rata-rata. Kemampuan psikomotor dan sosialnya juga tinggi. Dia sudah lebih nalar dibandingkan dengan anak yang lain. Mungkin karena dia adalah anak yang kedua orangtuanya bekerja, sehingga lebih mandiri. Emosinya saja yang belum terkontrol jadi dia suka menegur temannya dengan nada suara yang tinggi, sampai temannya menangis.
Setelah saya pindahkan Ia ke belakang, Ia mengobrol dan mengganggu konsentrasi kelas. Saya tegur dengan memberikan Ia pengertian dan lumayan berhasil walau sesekali masih mengobrol.
Setelah pelajaran usai dan kelas sedang persiapan untuk makan siang, Adelia sudah kembali ke posisi duduknya semula. Ia menyeletuk, "Bu Ellys, aku mau jadi anak baik, biar bisa buat Bu Ellys masuk surga,". Saya tentu saja terkejut mendengar kata-kata itu keluar dari mulut anak kelas 1 SD. Ia berkata lagi "Iya kan kalo aku baik trus masuk surga, nanti ditanya siapa ibunya siapa ayahnya siapa gurunya,".
Saya tahu Adelia pasti baru mendengar kata-kata itu dari orang yang lebih tua, mungkin orangtuanya atau guru mengajinya di rumah. Tapi celoteh yang sederhana itu menyentil hati saya.
Apakah saya sudah cukup baik untuk bisa membuat kedua orangtua saya dan seluruh guru yang pernah mengajar saya masuk surga kelak?
Semoga.
***
Mungkin pekerjaan saya secara formal tertulis 'pengajar' tapi sungguh sebenarnya saya yang terus-menerus belajar banyak dari anak-anak ini. Alhamdulillah.
Tabik,
S.


