Ada batas yang seringkali tersembunyi
di balik kesediaan menanti
Yang dicipta waktu
yang dijaga kelu
Sengaja kuabaikan, batas itu
***
Ada batas yang seringkali tersembunyi
di balik kesediaan menanti
Yang begitu nyata
Jelas adanya
Sengaja kuabaikan, batas itu
***
Hai,
apa kabar, kamu?
saved as draft.
 |
| copyright picture above. google search |
Yang terbuang sayang, sebuah penantian.
Sebuah kerinduan.
Dalam batas - batas letih yang menuan, di ujung - ujung pengharapan.
Dalam celah - celah rindu yang cakap bergaung.
Terbaring jiwa yang pesakitan.
Mencinta Ia sakit
Merindu Ia sakit
Mengharap Ia sakit
Menanti Ia sakit
Mengeluh Ia sakit
Sakit yang pilu,
amat pilu dan memilukan.
Sakit yang menyebar, tak kenal arah.
Sebab tuannya tak peduli arah.
***
Kembali merangkul hujan di ujung akhir kemarau,
yang tak berkesudahan.
Dalam romansa kerisauan yang tak kenal akhir.
Sebab tak pernah ada waktu baginya saling berkenalan
Dengan akhir, yang tak bersahabat dengan awal.
Masih terbaring di sana, pesakitan itu.
Mencinta Ia sakit
Merindu Ia sakit
Bahkan mimpipun baginya menyakitkan
***
Kita bersamaan dengan waktu,
berkenalan dalam awal dan akhir.
Kemudian menjadi pesakitan, Kita.
Yang sakit saat saling mencinta
Yang sakit saat saling merindu
Yang sakit saat saling mengharap
Yang sakit saat saling menanti
Yang sakit saat saling mengeluh
Mencintamu aku sakit, Merinduku kamu sakit
***
Bersamaan dalam perbaringannya yang belum juga berakhir
Tak ada penawar bagi jiwa pesakitan itu
Tidak juga keikhlasan
Sebab mereka - kami - kita yang pesakitan merasa
betapa ikhlasnya untuk menikmati sakit
Mencinta aku sakit, aku ikhlas mencintamu
Merindu kamu sakit, kamu ikhlas merinduku
***
Sebab tak ada pesakitan yang benar - benar sakit dalam sakitnya
Sebab sakit bisa jadi suatu jalan untuk bahagia
Bahagia yang menyembunyikan sakit
Lalu hilang sakitnya.
***
Bekasi, 26 Juli 2013
Sufia.
Untukmu Kashva, Sang Pemindai Surga
Apa kabarmu, Kashva?
Terakhir kita bertemu, kau tengah sibuk mencari Xerxes, anak lelaki dari mantan kekasihmu, Astu. Kau tampak begitu lelah baik jiwa dan ragamu, usai perjalanan panjang menuju Yang Terpuji harus terhenti di negeri atap dunia.
Aku begitu mengagumimu, sungguh. Bukan hanya karena kecerdasanmu dalam berbagai hal, ataupun keberanianmu mencari kebenaran. Lebih dari itu. Sosokmu terlalu mendekati sempurna untuk kukagumi. Kesetiaanmu akan cinta membuat kekagumanku semakin besar.
Ialah Astu, wanita beruntung itu. Wanita cerdas nan cantik yang menerima kesetiaanmu. Astu adalah sahabatmu sejak kecil, teman diskusi yang paling hebat di matamu. Namun sayang sekali, sepuluh tahun sudah Ia mengecewakanmu namun Kau masih setia mengenangnya. Sementara Ia sudah berbahagia dengan suami dan anak lelakinya, Xerxes, yang tengah Kau cari.
Kau memutuskan untuk melakukan perjalanan dari Persia menuju tanah tempat tinggal Yang Terpuji, yang namanya tertulis dalam kitab ajaran agamamu. Namun tiada sangka, di tengah perjalanan Kau bertemu Astu bersama suami dan anaknya. Sementara Pasukan yang diperintah Raja Koshrou tengah menyerbumu usai Kau melakukan penyerangan kecil terhadapnya. Astu dan suaminya memintamu untuk melanjutkan perjalanan dengan membawa Xerxes, sementara Ia dan suaminya berusaha menahan pasukan Koshrou. Kemudian sampailah Kau di Tibet hingga karena suatu kecerobohan kau kehilangan Xerxes.
Hai, Kashva.
Kau disebut pemindai surga karena kejeniusanmu dalam berbagai hal seimbang dengan ketaatan terhadap ajaran agamamu. Kau juga penyair luar biasa yang pernah kukenal.
Namun aku khawatir, sebab pikiranmu mungkin terlalu lelah sehingga kau mulai berimajinasi yang berlebihan, setidaknya itu yang diucapkan Mahsya dan Vhakshur, dua orang yang menemani perjalanan panjangmu.
Entahlah, bulan depan akan ada kelanjutan kabar darimu. Aku berharap kau tidak apa - apa. Aku harap kau berkesempatan menemui Yang Terpuji kemudian menceritakannya padaku. Aku juga berharap kau menemukan Xerxes, dan menemukan cintamu.
Dariku, pengagummu yang tinggal sangat jauh dari Persia, tempatmu.
note:
Kashva adalah tokoh fiksi dalam novel MUHAMMAD karangan Tasaro GK. Sudah ada 2 buku yaitu Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan dan Muhammad, Para Pengeja Hujan. Bulan depan buku ketiga akan terbit sebagai lanjutan perjalanan Kashva dan juga perjalanan Rasullullah.
Untukmu, yang senyumnya masih kurindu.
Di tempatmu, gelap sudah menggeser petang sementara senja baru saja datang di tempatku. Malam minggu ini kau tengah larut dalam sibukmu di sana. Bicara tentang malam minggu, ingatkah kamu tentang malam minggu pertama kita?
Bulan Oktober lalu, aku begitu bahagianya sebab kamu menyempatkan diri ke sini, menemuiku. Aku menjemputmu di pintu kedatangan luar negeri bandara internasional Soekarno - Hatta. Dengan wajah lusuh usai kegiatan praktikum di kampusku, aku menjemputmu.
Aku tidak menyangka ternyata jam kedatanganmu dipercepat. Sehingga, tepat lima belas menit aku tiba, rombonganmu datang.
Kamu berdiri di sana.
Dengan kaus abu - abu.
Kemudian bergerak semakin dekat, di depan mataku.
Aku gugup, tentu saja.
Ini kali pertama kita bertemu secara nyata, mata bertemu mata, kemudian hati bertemu hati.
Saat itu, kau berdiri tepat lima jengkal dari tempatku berdiri.
Kau tersenyum.
Sementara aku membatu.
Begitulah pertemuan kita memeluk segala rindu.
Senja itu di hari Kamis, aku seutuhnya merasa memilikimu secara nyata. Sebab selama ini dunia maya terlalu asyik mempermainkan hati. Kemudian kita bertukar janji, untuk bertemu di hari sabtu. Iya, malam minggu pertama kita.
Waktu terasa begitu cepat membawaku ke hari Sabtu, tepat tanggal tiga belas Oktober tahun lalu. Kita bertemu, seperti muda - mudi lainnya. Kita bercengkrama, seperti muda - mudi lainnya. Saat itu mungkin aku terlihat begitu bodoh, karena sungguh, aku benar - benar gugup melewati malam minggu pertama kita. Sementara kamu begitu mahir mencairkan suasana.
Kemudian malam mendekap cerita kita, sesempurna malam menguapkan rindu kita.
Malam minggu ini, di surat ketigabelas, entah mengapa setiap detik di malam minggu tiga belas Oktober lalu begitu nyata di benakku. Sederhana saja, aku merindukanmu.
Hai, Kamu.
Malam minggu tahun lalu adalah malam minggu pertama dan malam minggu terindah, tapi tentu, bukan malam minggu terakhir.
Semoga waktu dengan cepatnya mempertemukan kita di malam minggu kedua, ketiga, dan malam minggu kesekian kalinya pada waktu yang tak ditentukan.
Sekali lagi, aku merindumu.
Dariku, yang malam minggu ini hanya bertemankan rinduku akan senyummu.
Untukmu, yang namanya tengah dieluh-eluhkan ribuan orang malam ini.
Aku hanya melihatmu terbang dengan sayapmu dari kejauhan.
Aku di sini.
Melihatmu dengan luapan rindu yang begitu membuncah ruah.
Malam ini terakhir, usai perjalanan kerjamu yang begitu panjang.
Esok akan ada waktu istirahat untukmu, lelaki yang selalu penuh semangat.
Malam ini, melihatmu lebih banyak tersenyum membuatku bahagia.
Meski terlalu jauh jarak membentang.
Namun senyum itu sama dengan senyum di 13 Oktober tahun lalu.
Senyum yang membuatku membatu di tempatku berdiri kala itu.
Esok lusa kau akan kembali bergelut dalam proyekmu berikutnya.
Esok lusa kau akan kembali dalam kesibukanmu.
Aku harap
Esok lusa senyummu tetap sama
Esok lusa semangatmu tetap sama
Esok lusa, dan esok lusa seterusnya.
Esok lusa, saat waktu mengizinkan mata kita bersua, dan melebur rindu bersama.
Esok lusa.
Dariku, yang malam ini tersenyum bersamamu, dalam dekapan jarak yang mempesona kita.
Kepadamu yang senyumnya lebih indah dari lembayung senja,
Hujan yang tengah menemui musimnya mengurangi intensitasku menikmati senja. Bila dibanding fajar, aku lebih menggemari senja. Karena senja melukiskan lembayung di langit, warna yang begitu menghangatkan.
Bila hujan berhenti tepat sebelum petang, tepat sebelum gelap pertama tiba, dan mentari berada di posisi dimana memungkinkan munculnya pelangi, maka lengkaplah keindahan senja. Jingga yang tidak terlalu terang, lembayung yang terbias diagonal, serta pelangi yang melengkung syahdu. Aku sungguh menggemarinya.
Hai, kamu.
Hari ini awan tengah sendu. Tidak gelap, namun putihnya menutup rapat. Seolah menghalau senja, yang beberapa hari ini aku rindukan.
Dua tahun lalu, senja menemaniku menangis di bawah Pohon Ficus tua. Menangisi kepedihanku. Lalu setelahnya, tiap senja kulalui dengan sendu yang tiada ujungnya.
Kemudian ingatkah kamu suatu hari di bulan Oktober tahun lalu? Senja juga menjadi saksi perjumpaan kita pertama kalinya. Kamu dengan kaus abu - abumu, tersenyum. Hari itu, langit berhiaskan lembayung senja. Merangkul kerinduanku yang menguap seketika.
Esok hari di surat ketigabelas, akan aku ceritakan saat kita bertemu pertama kalinya.
Hai, kamu.
Entah kapan lagi kita dapat bertemu. Entah kau yang akan menemuiku kembali, atau aku yang menghampirimu suatu saat kelak. Hanya waktu yang mampu menjawab.
Dariku, yang hampir pingsan di suatu senja di bulan Oktober tahun lalu.
Untukmu yang kesepuluh kalinya,
Surat ini terhitung terlambat, namun aku berdoa semoga ada keajaiban sehingga surat ini tetap sampai untukmu, semoga.
Menulis surat selama 30 hari penuh membutuhkan konsistensi agar tidak jenuh. Saat ini aku bingung dan mulai terhalau jenuh. Hanya keajaiban yang mampu membuat matamu tidak jenuh saat membaca surat - surat ini.
Ah, keajaiban ya. Setidaknya keajaiban adalah salah satu hal yang berperan besar dalam perjalanan kita. Aku tidak percaya keajaiban. Aku hanya percaya campur tangan Tuhan. Dan ternyata kamu juga percaya itu.
Bahkan pertemuan kita secara langsung pun terjadi karena keajaiban. Akan kuceritakan di suratku yang ketigabelas, sebab pada tanggal tigabelaslah kita bertemu.
Sudah ya, aku hanya ingin bilang di surat kesepuluh ini, bahwa aku masih merindumu, hingga sepuluh hari berikutnya, sepuluh minggu kemudian, dan untuk waktu yang tak dapat ditentukan.
Hai, kamu.
Bagaimana sepuluh surat cintaku?
Dariku, yang merindumu sepuluh kali lipat dari hari pertama kutulis surat cinta buatmu.
Untukmu, dan memang hanya untukmu, yang aku rindukan
I’ve gone through so many shallow relationships
I thought you’d brush past like that too
But as time went by, I realized you were a little different
There was no pretense, you showed me your whole heart
Kadang kala, patah hati memang meninggalkan luka yang perihnya terlalu dalam untuk dilupakan walau sejenak. Namun, entah mengapa. Mungkin aku terlalu lemah berhadapan dengan putus cinta. Hingga kau datang, aku masih terpuruk di awal. Tetapi waktu berpihak padamu, pada kesabaran dan kesungguhanmu. Sedikit demi sedikit dan perlahan tapi pasti, kamu mengisi segala ruang hati. Entah sejak kapan, aku tidak terlalu memperdulikannya. Seperti bunga musim semi yang bermekaran usai salju menutupi tangkainya. Sesederhana itu.
So we’ll walk togetherYou and me
The two of us
We’ll walk together from now
Hai, kamu.
Bila waktu berhasil membuatmu hidup di hatiku, maka biar waktu jua yang akan menjaganya tetap hidup.
Dariku, yang sejauh ini tetap merindumu.
#Sufia
Sorbonne, Seoul, Saudi Arabia, SOON ♡