Kita hidup untuk alasan-alasan yang harus kita hidupi dan pada akhirnya menghidupi kita. Saya bingung menentukan siapa yang menghidupi siapa pada konteks kalimat itu. Saya percaya bahwa tiap dari kita pasti punya alasan untuk melakukan apapun atau menjadi siapapun dan bagaimanapun caranya. Saya makan karena saya lapar. Saya tidur karena saya mengantuk. Saya ingin menjadi guru karena........... dan karena-karena lainnya dalam hidup kita.
Saya gemar mencari alasan. ha ha ha ha. Jadi saya suka banyak nanya, "kenapa begini? kenapa begitu?". Kalo ada yang baik meladeni pertanyaan saya ya pasti dijawab, tapi untuk mereka yang gak sabar pasti jawab "Gak semua yang terjadi harus ada alasan, Pi," atau "Gak punya alasan juga alasan orang gak mau jawab, kan?" sampe kayak gini "gak semua pertanyaan ada jawabannya,". Ya pokoknya begitu. Pada akhirnya saya menelan rasa penasaran dan semua kenapa yang ada di kepala saya sendirian.
Kebetulan semester akhir memang memancing saya untuk sedikit lebih banyak mengeluh dibanding semester sebelumnya. Sebentar-sebentar capek, sebentar-sebentar males, sebentar-sebentar galau, sebentar-sebentar pengin main. Ya gitulah. Semester ini seru banget sih, cuma ya jadi cepet ngeluh, lebih manja, pengin diperhatiin, dll.
Makanya saya memutuskan untuk ikut ke Cibuyutan hari Sabtu lalu, bermalam di sana lagi untuk kedua kalinya setelah 3 tahun nggak ke sana. Saya pernah cerita tentang di mana Cibuyutan dan pengalaman saya ke sana waktu itu di sini. Saya dan teman-teman juga punya wadah untuk siapapun yang mau bantu Cibuyutan di sini. ((promosi))
Salah satu perbedaan dari perjalanan pertama saya waktu itu dan perjalanan saya kemarin adalah waktu itu kami berangkat pagi, jadi cuaca belum terlalu panas. Sementara kemarin kami naik ke Cibuyutan tengah hari pas matahari ada di atas kepala. ha ha ha ha. Seruuuu kan.
Alhamdulillah banyak perubahan yang terjadi di Cibuyutan semenjak kedatangan pertama kami waktu itu. Banyak pihak yang membantu dan mendukung Cibuyutan dari segi apapun. MI Miftahussolah sekarang sudah berbentuk bangunan dengan fasilitas yang memadai, tidak lagi bilik bambu seperti kandang sapi. Setiap sabtu dan minggu ada kegiatan belajar untuk orang tua yang tuna aksara. Cibuyutan sudah punya panel surya, jadi setiap malam bisa menikmati listrik tergantung cuaca pada siang harinya. Kalau terik seperti kemarin, listrik bisa tahan semalaman sampai pagi. Alhamdulillah.
Saya ke sana memang dengan niat untuk mencari alasan agar tidak cepat mengeluh. Anak-anak Cibuyutan yang melanjutkan sekolah ke tingkat SMP harus turun dari kampungnya menuju kampung di bawah yang lebih maju, melewati hampir 10 km pulang pergi perjalanan dengan trek bebatuan yang naik turun terjal. Tapi mereka tidak mengeluh. Anak-anak harus belajar dengan semangat dari diri mereka sendiri tanpa bantuan siapapun di rumah karena orangtua mereka tuna aksara, dan mereka belajar dengan keterbatasan informasi, hanya dari buku, tanpa akses internet. Tapi mereka tidak mengeluh.
Sementara saya.........................................................................................
***
Jangan karena terlalu sering mengeluhkan apa yang kita hadapi, kita jadi gak sempet sadar kalau di sekeliling kita ada yang dihadapkan dengan masalah yang jauh lebih berat dan mereka mampu menghadapinya dengan senyuman.
Semoga selalu lebih dewasa ya, diriku.
Salam,
S.
Saya gemar mencari alasan. ha ha ha ha. Jadi saya suka banyak nanya, "kenapa begini? kenapa begitu?". Kalo ada yang baik meladeni pertanyaan saya ya pasti dijawab, tapi untuk mereka yang gak sabar pasti jawab "Gak semua yang terjadi harus ada alasan, Pi," atau "Gak punya alasan juga alasan orang gak mau jawab, kan?" sampe kayak gini "gak semua pertanyaan ada jawabannya,". Ya pokoknya begitu. Pada akhirnya saya menelan rasa penasaran dan semua kenapa yang ada di kepala saya sendirian.
Kebetulan semester akhir memang memancing saya untuk sedikit lebih banyak mengeluh dibanding semester sebelumnya. Sebentar-sebentar capek, sebentar-sebentar males, sebentar-sebentar galau, sebentar-sebentar pengin main. Ya gitulah. Semester ini seru banget sih, cuma ya jadi cepet ngeluh, lebih manja, pengin diperhatiin, dll.
Makanya saya memutuskan untuk ikut ke Cibuyutan hari Sabtu lalu, bermalam di sana lagi untuk kedua kalinya setelah 3 tahun nggak ke sana. Saya pernah cerita tentang di mana Cibuyutan dan pengalaman saya ke sana waktu itu di sini. Saya dan teman-teman juga punya wadah untuk siapapun yang mau bantu Cibuyutan di sini. ((promosi))
Salah satu perbedaan dari perjalanan pertama saya waktu itu dan perjalanan saya kemarin adalah waktu itu kami berangkat pagi, jadi cuaca belum terlalu panas. Sementara kemarin kami naik ke Cibuyutan tengah hari pas matahari ada di atas kepala. ha ha ha ha. Seruuuu kan.
Alhamdulillah banyak perubahan yang terjadi di Cibuyutan semenjak kedatangan pertama kami waktu itu. Banyak pihak yang membantu dan mendukung Cibuyutan dari segi apapun. MI Miftahussolah sekarang sudah berbentuk bangunan dengan fasilitas yang memadai, tidak lagi bilik bambu seperti kandang sapi. Setiap sabtu dan minggu ada kegiatan belajar untuk orang tua yang tuna aksara. Cibuyutan sudah punya panel surya, jadi setiap malam bisa menikmati listrik tergantung cuaca pada siang harinya. Kalau terik seperti kemarin, listrik bisa tahan semalaman sampai pagi. Alhamdulillah.
Saya ke sana memang dengan niat untuk mencari alasan agar tidak cepat mengeluh. Anak-anak Cibuyutan yang melanjutkan sekolah ke tingkat SMP harus turun dari kampungnya menuju kampung di bawah yang lebih maju, melewati hampir 10 km pulang pergi perjalanan dengan trek bebatuan yang naik turun terjal. Tapi mereka tidak mengeluh. Anak-anak harus belajar dengan semangat dari diri mereka sendiri tanpa bantuan siapapun di rumah karena orangtua mereka tuna aksara, dan mereka belajar dengan keterbatasan informasi, hanya dari buku, tanpa akses internet. Tapi mereka tidak mengeluh.
Sementara saya.........................................................................................
***
Jangan sampai karena terlalu sering menunduk, kita jadi lupa bagaimana caranya menoleh.
Jangan karena terlalu sering mengeluhkan apa yang kita hadapi, kita jadi gak sempet sadar kalau di sekeliling kita ada yang dihadapkan dengan masalah yang jauh lebih berat dan mereka mampu menghadapinya dengan senyuman.
Semoga selalu lebih dewasa ya, diriku.
Salam,
S.
No comments:
Post a Comment