Dec 31, 2011

Mencoba Semalam Tinggal di Kampung Tertinggal ( refleksi akhir tahun )

Kami menjejakkan langkah pertama di Kampung Cibuyutan sekitar jam sembilan pagi pada Sabtu, 24 Desember 2011, usai menempuh enam jam perjalanan Rawamangun – Cibuyutan, tiga jam perjalanan diantaranya Kami tempuh dengan jalan kaki. Sekilas hampir serupa dengan Desa lain di hampir seluruh pelosok nusantara, dengan tipe rumah yang sederhana dan jalanan yang apa adanya. Setelah merapikan beberapa bawaan Kami di rumah Ketua Rukun Tetangga setempat, Kami berkunjung ke sekolah yang ada di sana.

Menyedihkan, hanya ada satu sekolah yaitu MI Miftahussolah dengan kondisi bangunan yang seharusnya disebut kandang sapi. Bangunan berlantai tanah dengan dinding bilik dan atap yang ala kadarnya, satu bangunan yang dipergunakan untuk kegiatan belajar – mengajar enam kelas. Matahari menyembulkan sinarnya lewat sela – sela bilik dan air hujan bisa kapan saja mengguyur atau bahkan bila hujan disertai angin, atap sekolah bisa terombang – ambing. Keadaan yang benar – benar mengundang iba.

Tertinggal dan sedikit terabaikan


Kampung Cibuyutan terletak di antara lereng Gunung Lingga dan Gunung Sungging, Kecamatan Sukarasa, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Keletihan yang Kami hadapi dalam menempuh perjalanan kaki dengan trek yang terjal sedikit terobati kenampakan alam yang luar biasa. Sawah terhampar luas di kanan – kiri jalan, sawah yang merupakan pendapatan utama bagi warga kampung. Trek yang tidak menguntungkan ini sekiranya menjadi salah satu faktor terisolasinya Kampung dari uluran tangan pemerintah.

Ada lebih dari 70 kepala keluarga di Kampung ini, dengan sedikitnya tiga orang anak tiap keluarga. Berdasarkan data yang Kami peroleh siang hingga sore hari Sabtu lalu, tidak sedikit pengantin baru dengan usia yang relatif muda. Teh Siti, salah satu gadis berusia 17 tahun yang menikah setahun silam mengaku bahwa di Kampung Cibuyutan ini, anak perempuan yang sudah lulus SD atau sudah menginjak usia 12 – 13 tahun memang wajar bila sudah dinikahkan. Sebuah alasan klise terungkap yakni, untuk mengurangi beban orang tua.

Malam hari di Kampung ini lumayan tenang, terlebih menenangkan mata Kami yang terbiasa dengan lampu jalan raya Ibukota yang tiada sekalipun padam. Tidak ada listrik di Cibuyutan. Hanya beberapa keluarga yang memiliki Genset dengan 1 liter solar untuk 2 jam penerangan. Menurut keterangan seorang warga, ketiadaan listrik di Kampung ini karena jarak Kampung dengan Desa sebelumnya yang sudah dapat listrik sangat jauh, sehingga disinyalir PLN tidak mau rugi dengan membuat tiang listrik yang tentunya tidak sedikit. Belum lagi masalah sarana jalan yang sangat memprihatinkan dan juga cukup beresiko.

Ada satu kebiasaan anak – anak Kampung Cibuyutan yang dirasa cukup menggerus ulu hati Kami. Bila malam datang, mereka seringkali menuju sebuah bukit di Kampung ini dan ‘menikmati’ tebaran lampu Kota Bogor dari atas. “Kapan ya Kampung kita seperti itu?” gumam seorang anak sembari tersenyum terpesona. Jelaslah ini kenyataan pedih, sangat pedih. Bahkan nyatanya Kampung ini memang sangat jauh tertinggal, padahal letaknya sangat tidak jauh dari Ibu kota.

Sekolah seperti ‘Laskar Pelangi’ tidak hanya ada di pelosok Belitong

Kami menyelesaikan beberapa tugas yang sudah terbagi – bagi di hari Sabtu. Ada Tim Air yang membuat saluran air, Tim Lembaga Dakwah Kampung yang sedikit merapihkan satu – satunya musola di Kampung ini dan juga mengadakan pengajian di malam harinya, Tim Pemberdayaan Warga yang melakukan sensus, Tim Pemberdayaan Anak yang bermain bersama anak – anak dan memberi motivasi juga Tim Renovasi Sekolah yang sedikit ‘memperindah’ sekolah.

Sekolah di Kampung ini hanya ada satu. Satu Sekolah dasar, MI Miftahussolah. Jangan bayangkan gedung sekolah seperti di Ibukota. Tidak ada pendingin ruangan, tidak ada loker, tidak ada whitescreen atau projector. Tentu ingat dengan Laskar Pelangi, bukan? Film yang mengisahkan perjalanan sepuluh anak Belitong yang semangat mengejar mimpi. Coba diingat – ingat SD Muhammadiyah yang ada di film tersebut. Menyedihkan, bukan? MI Miftahussolah lebih menyedihkan lagi.








 
Kami  jelas ingin menangis ketika melihatnya. Ini jelas tidak layak disebut gedung sekolah. Mana letak gedungnya? Ini hanya berupa bilik beralas tanah yang sekali hujan tentu bocor. Luas yang hanya sebesar Saung Ungu FMIPA UNJ dipakai  untuk belajar 6 kelas. Tanpa sekat pemisah. Terbayangkan?

“Sekolahnya bagus kok, masih untung bisa belajar,” jawaban dari Ridho – alumni MI Miftahussolah yang kini kelas 1 SMP – ketika Kami mintai pendapat perihal sekolahnya. Ridho adalah salah satu dari 3 orang siswa pertama MI Miftahussolah yang melanjutkan studi ke jenjang berikutnya setelah 21 tahun lebih sekolah ini berdiri. Dua anak yang lain, Mislah dan Harun juga rela merantau ke Kampung lain demi mengejar cita – cita.

Hanya ada 3 orang guru yang mengajar di MI Miftahussolah. Pak Mislah adalah guru tetap yang 21 tahun bertahan sementara 2 guru lain seringkali mengalami pergantian orang. Karena luas sekolah yang tidak seberapa untuk menjadi sarana belajar 6 kelas setiap harinya, kegiatan belajar – mengajar dibagi menjadi pagi dan siang.
 
Jangan Biarkan Abadi

Sebagian besar masyarakat Kampung Cibuyutan masih sangat kesulitan untuk berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Untungnya tidak sedikit dari Kami yang lumayan fasih berbahasa sunda, bahasa keseharian di sini.

Rerata warga Kampung sangat mengharapkan masuknya listrik di wilayah mereka. Juga adanya perbaikan jalan serta pembangunan gedung sekolah.

Telah banyak media massa yang berkunjung ke Kampung ini, bahkan adapula dari negara tetangga, Malaysia. Namun selalu, kedatangan media – media ini seolah hanya foto sana – sini lalu esoknya tiada kabar lagi. Seolah, keberadaan Kampung ini memang hanya untuk diabadikan dalam rekaman foto atau parahnya, pemerintah memang sengaja ‘mengabadikan’ keberadaan Kampung ini dengan segala pahit getir kondisinya. Entahlah.

Salam, S.


Semisal Aku Kembali -

 gambar dari sini
Saat senja temui ujung,
dekat dan mendekat masa tenang

dan debu bergumul memecah penat
dan pecah penat jadi kesal
sesayup takbir pantul - memantul di kolong mega
bebunyian kendaraan campur baur dengan makian lelah
lalu leburlah satu bersama keluh dua - tiga jiwa

Lalu luruh segala sabar
bak tetumbuhan terbakar lahar

Emosi
dan Emosi
terus Emosi

Sekali atau lebih terkenang lalu dengan suatu pagi
hijau dan hanya hijau sejauh mata temui pandang
Sekelebat kabut menghias yang hijau tadi
dan semburat jingga menyembul di timur, tepat di ujungnya
sempurnalah indah membalut tatap yang hanyut, terpesona

Tenang
dan Tenang
demikian Tenang

Semisal jatuh hati, tiada perasaan sesyahdu ini
rindu dirasa nyata buat bahagia
rindu 'tuk kembali, segera

Saat senja temui ujung dan parade kehidupan berlalu rumit adanya
dan semisal hati boleh dibiarkan jatuh sekali lagi,
inginnya kembali

Ingin kembali,
Berkali - kali lagi

Bekasi, Desember 2011

Salam, S

Dec 10, 2011

Sorak - Sorai Segitiga


     Wanita itu mengernyitkan dahi, untuk kali yang ke enam belas dalam dua puluh menit terakhir. Terlalu banyak pikir membuat banyak kerut – kerut kecil di pelipisnya mendadak menjadi garis penghias wajahnya yang berpeluh, keletihan. Sorak – sorai makin ramai di sekitarnya. Sorak yang penuh nada menyentil hati, menyinggung perasaan. Sorai yang membuat lidah kaku terkunci grogi. 

      Wanita itu kembali mengernyitkan dahi –kini genap yang ke tujuh belas kali– sembari memainkan pena di jemari kanannya. Mengetukkan berkali – kali pena tersebut ke meja di hadapannya. Resahnya sudah tak terkira, tak terhitung jumlahnya meletup – letup dalam dada. Mulutnya masih terkunci di tengah – tengah kerusuhan sorak – sorai yang seolah mengepungnya. Sorak yang tak ingin Ia dengar barang sekalipun, sorai yang sebenarnya tak ingin Ia pedulikan.
 
***

     Kalau dua puluh menit pertama sorak – sorai yang mengganggu pikir itu hanya berupa ledekan dan godaan tak penting –sebenarnya– tetapi dalam dua puluh menit berikutnya keramaian berubah menjadi lebih rusuh, lebih berisik, lebih menyentil – nyentil hati. Ah! Wanita itu benar – benar geram. Lantas mengapa Ia tak beranjak saja dari tempat itu, lantas mengapa Ia masih betah duduk di antara rusuh – kisruh yang membuat Ia seolah ingin misuh – misuh ?

     Seolah ingin meledak dalam hitungan detik ke tiga puluh, pertahanan batinnya benar – benar merapuh, lambat laun. Kalau runtuh sudah batinnya, bisa jadi Ia menangis, atau setidaknya menitikkan satu – dua tetes air mata. Tapi dalam kondisi segenting inipun, Ia masih belagak kuat dan seolah tidak ada apa – apa ataupun tidak terjadi apa – apa.
 
     Ada bagian dalam hatinya yang menahan bulir airmatanya jatuh, setidaknya untuk saat ini. Hanya berupa sebuah pertanyaan sederhana, Sorak sorai itu jelas bukan untuk dirinya, lantas mengapa Ia teramat sangat gerah mendengarnya? Entahlah. Seharusnya bukan entah, tapi entah.

***

     Wanita itu kini melempar pandangnya jauh ke depan, jauh melesat masuk ke dalam kerumunan sorak, gerombolan sorai. Matanya yang hanya berupa sekali tatap, kemudian mulai mencari sebuah sosok. Ah, tidak. Dua buah sosok. Ah, tidak juga. Dua orang sosok.

     Sosok pertama mudah sekali Ia temukan. Seorang wanita yang tentu seusia dengannya. Mukanya –sosok pertama itu– sempurna bersemu merah dalam sekiranya satu jam terakhir, atau bahkan dari mulai sorak – sorai itu sahut – sahutan. Sesekali Ia bertingkah begini begitu, mungkin terlampau malu, atau senang? Lagi – lagi entah.

     Sedikit lebih sulit ketika mencari sosok kedua. Wanita itu kemudian memutar arah pandang. Ke arah yang berlawanan dari sosok pertama. Nihil. Kemudian melayangkan pandang ke sudut – sudut ruangan. Tidak ada juga. Dimanakah sosok kedua? Padahal jelas dialah sebab sorak – sorai ini mengudara. Ah, entah.

     Lalu dilanjutkan kesibukannya dalam satu jam terakhir, memainkan pena, memukul – mukulnya manja ke meja. Sementara kegaduhan di sekitar belum juga lelah, ah. 

     Seketika wanita itu terkejut, sosok kedua yang Ia cari ternyata –mungkin– dalam beberapa menit terakhir berdiam di sebelahnya. Laki – laki tampan yang rautnya sangat bersahabat. Menekan – nekan tombol handphone. Entah sedang berkirim pesan singkat, entah sedang bermain game, entah sebenarnya basa – basi saja, entah. Lagi – lagi entah. 

     Sekali – dua kali sosok kedua di sebelahnya tersenyum menimpali kekisruhan di sekitar –yang memang sebenarnya ditujukan kepadanya dan sosok pertama– tetapi lebih banyak tidak memedulikan.Wanita itu kemudian membuka mulut –pertama kalinya dalam satu jam terkahir– memulai pembicaraan. 

     Tidak sulit bagi wanita itu untuk mengajak bicara, terlebih dengan laki – laki di sebelahnya itu. Mereka memang dekat, orang – orang menyebut mereka bersahabat. 

     Sorak – sorai di sekitar sudah menemui titik lelah, sebab sosok pertama –entah sejak kapan– menghilang dari sana. Setidaknya perasaannya kini sudah sedikit lega. Cenderung menuju bahagia.

     Pembicaraan – pembicaraan sederhana yang sudah sangat biasa Ia lakukan dengan sosok kedua. Guyonan ringan yang membuat tawa berduyun – duyun datang. Sangat menyenangkan, sangat membahagiakan. 
     
     Ia sangat menikmati suasana seperti ini. Saat canda dan tawa memang seolah diciptakan untuk membuat mereka berdua bahagia. Saat kebahagiaan itu memberi warna tersenderi dalam dada. Saat Ia benar – benar ingin waktu berhenti saat itu juga. 

     Pernah sekali waktu saat Ia dan sosok kedua bercengkrama, saling melempar kekonyolan – kekonyolan remaja, sosok kedua secara tiba – tiba melempar kalimat sederhana yang sebenarnya biasa saja. Tetapi entah. 

     “Gue selalu kepingin ketawa ya kalo sama elo, bahagia mulu bawaannya,” 

     Kalimat yang meluncur begitu saja dari sosok kedua. Wanita itu memang hanya tertawa ringan, tetapi andai saja bisa, saat itu juga Ia akan guling – guling atau paling tidak lompat – lompat di sana. 

     Kejadian itu sudah lama berlangsung. Mungkin saat ini lelaki di sebelahnya itu sudah lupa bilamana pernah mengatakan hal tersebut. Entahlah.
 
*** 

     Cinta dan persahabatan, dua hal yang nyaris serupa, tapi apakah bisa berjalan berdampingan? Apakah cinta yang bermula dari persahabatan akan menemui keabadian di suatu tempat, kelak? Atau malah kehancuran yang menyakitkan? Entah. 

     Wanita itu mengernyitkan dahi –selalu setiap saat Ia memikirkan perihal cinta dan persahabatan– di selipan obrolannya dengan sosok kedua, sahabat yang dicintainya. Sementara lelaki itu masih asyik dengan guyonan – guyonan yang terkadang lucu, terkadang tidak. 

     Kemudian entah kenapa Ia teringat sorak – sorai yang sudah lima belas menit tidak terdengar. Ledekan – ledekan itu. Sorak yang membuat Ia cemburu, sorai yang membuat Ia mati kutu. 

     Sorak – sorai yang mencie-ciekan sosok pertama dan sosok kedua. Penyebabnya karena sosok pertama secara tidak langsung dan tidak sengaja melontarkan kalimat yang memancing sorak dan sorai itu. Dan jadilah seperti tadi. 

     Tetapi selalu seperti ini yang wanita itu alami. Usai geram dalam hati karena kebisingan yang membuat telinga dan hatinya panas –karena cemburu–, sosok kedua selalu berada di sebelahnya untuk kemudian membuatnya bahagia, lalu tenang. 

     Tiada risau, tiada resah. Sorak tiada, begitu pula sorai yang tadi membahana. Wanita itu sempurna tersipu, sempurna malu – malu. Wanita itu, aku.
 
Bekasi, Desember 2011


Dec 7, 2011

dan, tiga?

gambar dari sini


dan lelah
ketika malam lalu siang dan siang kemudian malam, begitu terus, dan terus berulang
ketika padam lalu terang dan kembali padam, biasanya seperti itu, seperti itu selalu
    kemudian tiba dimana hati lagi - lagi membuka pintunya yang rapuh
           jauh lebih rapuh tinimbang bongkahan kayu reyot yang hampir lapuk, belum busuk
    dan hadirlah yang memang sudah seharusnya hadir, datang yang memang pasti datang
    lalu sedikit gundah, gulana sebab hilang tenang
    dan resah, risau karena sedikit bimbang

dan jatuh
selayaknya hujan, cinta tak pernah tahu arah tujuan. mungkin sedikit buta. atau memang sengaja dicipta seperti itu. biar yang terjadi menjadi lebih alami.
bergerak mendayu serupa angin, yang sepoi tak terkira kesejukannya. lalu terlena, persis seperti itu.

dan lelah (lagi)
lelah dibuai dan dibual. padahal membual adalah kelakuan nakal yang paling mudah dilakukan. tapi membuai?

dan aku
tetap seperti ini. belagak sedang tidak terjadi apa - apa
pura - pura begini dan begitu. seperti ini lalu seperti itu. tiba - tiba galau

dan kamu
lagi - lagi kenapa? kenapa kamu? dan kenapa sekarang? dan kenapa begini ? dan kenapa begitu?
kenapa kamu tertawa? kamu gila? atau? atau apa? aku yang gila? aku badut? kenapa? kenapa? kenapa?
kenapa?
   
              kenapa?
       
                               kenapa?

dan dia
kenapa jadi ada dia? berarti tiga? berarti segitiga? lalu? apanya yang lalu? ini belum berlalu!

teman, kan?

                   siapa?

kita bertiga, kan?

dan ini, juga dan itu

terlalu banyak dan, terlalu banyak pilihan

ah, hidup memang pilihan, bukan?

pilih satu dari dua, atau tidak keduanya.

salam, S


Dec 6, 2011

do (not)


witing trisno jalaran soko kulino

Awalnya selalu bersama, kemudian menjadi ingin selalu bersama.
Ingin ini lantas ingin itu
Mau begini dan mau begitu

      Tidak ingin tapi dalam hati kepingin
      Tak mau padahal beneran mau

Dibilang cinta, masa iya
Cuma suka, ah masa iya

***

Seandainya bisa memilih, seandainya.
Tapi cinta memang dicipta buta arah.

***

Kodrat wanita memang menunggu,
tapi perkara hati, mengapa cinta tidak bisa menunggu untuk jatuh di saat yang tepat ?

***

ah! kenapa harus kamu?

***

salam, S.


#Sufia

Sorbonne, Seoul, Saudi Arabia, SOON