Oct 14, 2013

Gagal Move On dari #KerjaBakti

Malam.

Saya niat ngepost ini udah dari seminggu lalu. Cuman ya gagal melulu.

Malam ini diiringi gemuruh takbir dan perasaan yang belum bisa move on, akhirnya saya tulis sekarang!

Eitsss, tenang kaliiii kak. Gagal move on dari apa nih?

***

Gak bakal bisa berhenti!

Temen temen pasti tau lah ya Gerakan Indonesia Mengajar? google-ing aja kalo belom tau.

Gerakan yang markasnya di Jalan Galuh dua nomer empat ini mengajarkan saya banyak hal. Banyak sekali.

April tahun ini saya ikut - ikutan jadi panitia di acara #PackYourSpirit yang diadain sama Indonesia Menyala (Gerakan Perpustakaan Indonesia Mengajar). Sendirian. Kayak anak ilang.

Waktu rapat perdana beneran kayak anak ilang. Sampe di sana kaget. Loh? ini kok kakak kakak semua, ya? Saya terus terang nyari anak kuliahan juga. Dan nemu! lima orang......

Di rapat perdana itu dapet banyak cerita dan motivasi. Satu kalimat yang akan selalu saya ingat adalah yang diucapkan oleh Bu Evi,
......Sekali temen - temen ikut kegiatan kita, udah deh, temen - temen bakal terjebak di sini. Gak bisa keluar, gak bisa berhenti....
Awalnya saya gak ngerti. Tapi sekarang. I really understand. I really do.

***

#KerjaBakti Lebih Awal

Karena pernah ikutan #PackYourSpirit itu, akhirnya sekitar dua bulan lalu dapet email ajakan #KerjaBakti lebih awal. Apaan nih?

Jadi ternyata, GIM mau ngadain festival pendidikan. Tapi gak kayak festival lain yang cuma nonton sekadarnya, di sini relawan yang dateng bakal #KerjaBakti bareng bikin media belajar yang langsung dikirim ke 126 SD penempatan pengajar muda. 

Ah gila! Gokil banget ini acara! Ngegerakin orang buat capek capek bikin media? Serius loooooo?

Saya semangat. Semangat sekali. Mungkin karena kakak - kakak pengajar muda menularkan semangat ini kepada siapapun. Setidaknya mahasiswa macam saya dengan mudahnya tertular.

Saya ikut.

Dengan hati yang berdebar - debar saking semangatnya.

***

Ini Beneran Kerja Bakti

Saya berangkat dari rumah menuju Gedung Kwarnas buat kumpul perdana dengan semangat yang hampir tumpah kemana - mana. Dan begitu sampe di sana. Pecah. Tumpah semua. Sekitar dua ratus orang ada di sana. Yang tidak saya kenal. Yang rata - rata sudah bekerja mapan.

Wow.

Ini pasti bakal seru banget.

Dan bener.

Begitu hari - H. Relawan panitia bertambah lebih banyak, karena ajakan yang bersambut semangat.

5 - 6 Oktober, Ecovention Hall di Ancol jadi saksi ribuan orang kerjabakti. Beneran #KerjaBakti !!! Anak - anak, nenek - nenek, remaja, artis, dokter, segala profesi, ikutan. Ada yang capek gunting - gunting bikin puzzle, nulis info di kartu bergambar, bikin peraga sains, kemas - kemas buku pelajaran, nyanyi lagu anak, sharing profesi, ngedongeng, ah! GOKIL ABIS. 

RIBUAN ORANG BIKIN MEDIA BELAJAR BUAT ANAK INDONESIA YANG ADA DI PELOSOK.

RIBUAN ORANG PERCAYA INDONESIA PUNYA MASA DEPAN CEMERLANG DI BALIK SEMANGAT ANAK - ANAKNYA.

Semangat saya buncah banget. Euforianya masih terasa sampe sekarang.

***

Memelihara Masa Depan

Masa depan sebuah bangsa ada pada anak - anaknya. Seberapa banyak anak - anak yang tetap melanjutkan sekolah di suatu negara menjadi ramalan kondisi negara tersebut beberapa tahun kemudian.

Seberapa besar informasi yang anak - anak ketahui juga menjadi penentu tingkat kemajuan yang akan negara tersebut alami beberapa tahun kedepan.

Tuhan menitipkan masa depan sebuah bangsa pada tiap semangat anak - anak yang lahir di negara tersebut. Dan kita memeliharanya. 

Kita.

Anda, keluarga anda, teman - teman anda, dan saya. Kita semua.

Untuk Indonesia.





***

Dengan ini secara resmi saya menyatakan #GagalMoveOn dari #KerjaBakti Festival Gerakan Indonesia Mengajar.

Salam,

S.

 


 

Oct 12, 2013

Seribu Jendela -- Bulan Kesatu (Part 2. Survey)

Halo ! :D

Akhirnya bersua kembali! Mohon maaf karena kurang aktifnya saya bercerita di blog ini -_-*

Seperti yang sudah saya kemukakan di sini, bahwa saya akan menceritakan pengalaman survey area taman bacaan bersama rekan tim saya, Kiki.

***

Ya. Antara Rawamangun dan Ciputat 

Survey kami lakukan sekitar tiga minggu lalu. Saya berangkat dari kampus saya di Rawamngun sementara Kiki berangkat dari kampusnya di Ciputat. Kami berdua berencana bertemu di Halte TransJakarta Grogol -sesuai dengan petunjuk Bapak Karsono, penanggung jawab Duri Pulo-

Saya tiba tiga puluh menit lebih awal dari Kiki, sekitar pukul setengah dua belas siang. Kemudian pukul dua belas tepat kami menuju Duri Pulo. 

Kami berdua tidak tahu jalan. Akhirnya kami menuruti petunjuk Pak Karsono untuk naik ojeg dari Grogol ke Jl. Setiakawan 3 -alamat kompleks SD DuriPulo-.

Luar biasa pandai benar Bapak Ojegnya, kami memboros uang saku hampir sebanyak 15 ribu karena ternyata jarak Grogol - Setiakawan tidak terlalu jauh. Sudahlah, pelajaran bagi kami untuk lebih sering menengok peta Jakarta, lumayan untuk menghemat -__-*

***

Ya. Ini Benar Kompleks SD

Karena kami naik ojeg dari arah Grogol, kami turun di gang kecil bertuliskan Jl. Setiakawan 3.

 

Siang itu sepi, mungkin karena memang jam tidur siang. Kami langsung saja ke sekolah untuk menemui guru di sana.

Sesamapainya di sana, Kami takjub. Halaman sekolahnya luas. Kami segera menuju ruang guru terdekat, lalu kami disambut oleh Bu Arhaeni, Kepala Sekolah SD Duri Pulo 03 pagi. 

Beliau menyampaikan bahwa Kompleks SD Duri Pulo terdiri dari tujuh sekolah dasar yaitu: SD Duri Pulo 01 pagi, 02 pagi, 03 pagi, 04 pagi, 05 pagi, 06 pagi dan 10 petang.

Kemudian kami diantar untuk berkeliling melihat ruang perpustakaan tiap sekolah. Karena keterbatasan ruang, tiap sekolah memiliki satu ruang perpustakaan yang terletak di dalam ruang Kepala Sekolah.

Hanya 01 Pagi yang memiliki ruang baca terpisah.
Masalah pertama: Ruang. Ah, tapi cerita dari Kak Fitut, ruang bukanlah masalah besar rendahnya minat baca, kok!

***

Pendopoku sayang ----

Di halaman sekolah yang luas itu, terdapat sebuah pendopo. Pendopo yang merupakan hibah dari sebuah perusahaan swasta tersebut sempat menjadi tempat baca bagi anak - anak. Namun, karena alasan buku - buku menjadi cepat rusak, akhirnya pendopo tersebut dibiarkan begitu saja



***
Enam bulan terhitung dari hari ketika kami survey, banyak harapan yang kami bawa pulang bersama dengan pekerjaan rumah dan rencana - rencana. Harapan kami sederhana, agar anak - anak mencintai buku dan terbiasa membaca. Harapan kami sederhana, agar impian tumbuh meliar bersama dengan imajinasi yang mereka dapat dari bacaan - bacaan yang semestinya mereka baca. Harapan kami sederhana, agar kelak, anak - anak ini memiliki pribadi yang kuat untuk menghadapi hidup dan melanjutkan perjuangan bangsa.

Sederhana, kan?






Semangat menyala,

Salam,

S.




Photos were taken by. Sufia

Sep 23, 2013

Seribu Jendela -- Bulan Kesatu (Part 1. Kabar - Kabar)




Halo halo hai !

Apa kabar? Pasti kabar baik, ya!

Tenang, postingan ini bukan tentang puisi - puisi galau yang bikin pening atau curhatan fans KPOP abis nonton konser atau beli CD. tenaaaaaang. hehe

Makanya, boleh baca sambil diminum tehnya, Kak! :) snacknya juga boleh diicip - icip! :)

***

Mengajar - Menyala

Saya pengagum pengajar muda -sebutan untuk kakak - kakak yang dikirim ke beberapa desa tertinggal di seluruh pelosok negeri-. Bila kesempatan menemui saya, kelak saya ingin menjadi pengajar muda.

Lalu apa itu Penyala? Sebutan untuk siapapun yang ingin menyalakan Indonesia. Siapapun. Di manapun. Dengan berbagi pengetahuan melalui buku ke seluruh penjuru, dan kelak pengetahuan ini akan secara otomatis 'menyalakan' Indonesia. Begitu filosofinya. Indah nian, bukan?

Berawal dari gerakan perpustakaan di tiap penempatan pengajar muda, Indonesia Menyala menggagas sebuah kegiatan taman bacaan di daerah Jabodetabek.

Mengapa Taman Baca? - Sebab anak - anak perlu dibiasakan membaca sejak dini, dan kebiasaan tersebut akan muncul bila tiap anak memiliki minat membaca. Taman Baca diharapkan mampu membantu memunculkan minat tersebut.

Mengapa hanya Jabodetabek? - Tenaaaaang! :) ini baru Pilot Project. Waktu akan mewujudkan taman baca - taman baca menjamur di Indonesia. Ah, bukan waktu. Tapi kita semua //amin//

***

Ah, Ternyata Gambir bukan cuma Monas dan Stasiun Gambir :)

Saya mendaftar. Saya tidak tahu jalan. Saya belum khatam peta Ibukota. Saya tinggal di Bekasi, kuliah di Rawamangun.

Saya gak tau kalo Gambir itu luas.Yang saya tau ya Stasiun Gambir sama Monas. Jadi waktu ada kolom pemilihan daerah penempatan, saya pilih yang di Percetakan Negara sama Gambir. Karena saya pikir gampang lah bolak - balik kampus.

Kemudian ada sms dan email pemberitahuan. Saya ditempatkan di SDN Duripulo 01 Pagi, Gambir. Tidak ada perasaan yang aneh - aneh karena saya masih berpikir Gambir itu ya di sekitar stasiun gambir itu aja.

Tibalah saat kami dipertemukan dengan penanggung jawab daerah penempatan. 

"Mbaknya tinggal di mana ya?"

"Bekasi, Pak"

"Wah, jauh sekali"

"Tapi saya kuliah di Rawamangun kok, Pak"

"Masih lumayan jauh loh, Mbak. Harus transit di harmoni soalnya trus lanjut lagi yang ke arah Grogol"

".............................."(Dalem hati) APAH?? GROGOL??

"Jadi duripulo itu memang masih masuk kecamatan Gambir tapi letaknya gak pusat pusat banget"

".........................." (Dalem hati) Oh, gitu ya, Pak..........

Kamudian dengan sukacita dan penuh harap kami menetapkan tanggal survey ke sana.

Ceritanya di next part yaaaaa :)))))

Mengapa Kisah Seribu Jendela

Seribu jendela adalah filosofi pribadi saya. Indonesia menyala dengan filosofinya bahwa pengetahuan akan menyalakan Indonesia dan saya, dengan filosofi tersebut.

Saya mengibaratkan Indonesia adalah sebuah bangunan yang tidak memiliki jendela. Sehingga, di siang hari sekalipun tidak ada cahaya yang menyinari. Lalu buku adalah jendela dunia. Satu anak membaca buku, maka pengetahuannya bertambah - satu jendela dunia bagi Indonesia tersusun. Satu lainnya membaca buku, maka jendela dunia lain terbentuk. Begitu seterusnya hingga seribu jendela bahkan jutaan jendela dunia. 

//Maaf kalo agak kacau penyampaiannya// -__-"

Ya pokoknya begitu hehehehehe..

Ditunggu yaaa next partnya :D

Malam,

Sufia.



  

Sep 1, 2013

Huruf Berputar



Bila saja huruf depanku berputar
melawan arah jarum jam.

Aku merindukanmu.
Begitu.

Dan bila waktu juga berputar.

Maaf ----

Jul 26, 2013

Pesakitan

copyright picture above. google search


Yang terbuang sayang, sebuah penantian.
Sebuah kerinduan.

Dalam batas - batas letih yang menuan, di ujung - ujung pengharapan.
Dalam celah - celah rindu yang cakap bergaung.
Terbaring jiwa yang pesakitan.

Mencinta Ia sakit
Merindu Ia sakit
Mengharap Ia sakit
Menanti Ia sakit
Mengeluh Ia sakit

Sakit yang pilu,
amat pilu dan memilukan.

Sakit yang menyebar, tak kenal arah.
Sebab tuannya tak peduli arah.

***

Kembali merangkul hujan di ujung akhir kemarau,
yang tak berkesudahan.

Dalam romansa kerisauan yang tak kenal akhir.
Sebab tak pernah ada waktu baginya saling berkenalan
Dengan akhir, yang tak bersahabat dengan awal.

Masih terbaring di sana, pesakitan itu.

Mencinta Ia sakit
Merindu Ia sakit

Bahkan mimpipun baginya menyakitkan

***

Kita bersamaan dengan waktu,
berkenalan dalam awal dan akhir.

Kemudian menjadi pesakitan, Kita.

Yang sakit saat saling mencinta
Yang sakit saat saling merindu
Yang sakit saat saling mengharap
Yang sakit saat saling menanti
Yang sakit saat saling mengeluh

Mencintamu aku sakit, Merinduku kamu sakit

***

Bersamaan dalam perbaringannya yang belum juga berakhir
Tak ada penawar bagi jiwa pesakitan itu

Tidak juga keikhlasan

Sebab mereka - kami - kita yang pesakitan merasa
betapa ikhlasnya untuk menikmati sakit

Mencinta aku sakit, aku ikhlas mencintamu
Merindu kamu sakit, kamu ikhlas merinduku

***

Sebab tak ada pesakitan yang benar - benar sakit dalam sakitnya
Sebab sakit bisa jadi suatu jalan untuk bahagia
Bahagia yang menyembunyikan sakit

Lalu hilang sakitnya.

***

Bekasi, 26 Juli 2013

Sufia.

 
 

#Sufia

Sorbonne, Seoul, Saudi Arabia, SOON