Jul 8, 2010

pesimis - realistis

Aku takut jatuh lalu terkapar tak berdaya di atas mukaku yang hina mencium tanah

Aku takut hancur lalu hidup seperti debu yang kotor dan tak menentu

Aku takut kehabisan air mata lalu terkurung dalam penyesalan abadi sampai aku mati konyol tak ada yang peduli

Ya, malam ini aku bercumbu dengan takutku
Entah sampai kapan.


Jul 5, 2010

Untuk kalian yang tersayang, :')

Menikmati tiap detik yang berlalu di penghujung abu-abu, melihat kembali warna merah hingga ungu yang tercipta dari indahnya kelabu.





Tiga tahun lalu, masa orientasi membungkus wajah lugu kami yang masih berseragam biru, yang mungkin masih lucu. Kemudian senyum dan sapa bersahutan menampar semua keacuhan.





Waktu mengalir dalam tiap hentakan kaki, dalam tiap perdebatan materi, begitu cepatnya. Mengeluh bersama, memberontak bahkan tertawa terbahak-bahak dalam satu rengkuhan. Melahap tiap ilmu di sela-sela keringat semangat, di sela-sela canda tawa, di sela-sela kalimat ejekan penuh kasih.





Mendendangkan senandung favorit remaja, apalagi kalau bukan cinta. Getaran klasik yang hadir dalam lirikan manja khas anak muda, membentuk simpul senyum penuh makna. Kemudian berbagi cerita bersama, dan menangis, menangis bila pertengkaran terjadi, menangis bila cemburu membakar, menangis bila perpisahan menjadi pahit yang menusuk. Beginilah cerita kami, terkadang terasa berlebihan.





Tibalah kami di penghujung abu-abu, di lembaran terakhir cerita kami. Kami bergerak perlahan tapi pasti menjauhi abu-abu yang selama ini menjadi kebanggaan, bersiap mengangkat dagu untuk membuka lembaran cerita yang lain, bukan abu-abu lagi.





Kami melangkah berlawanan arah, meski satu tujuan yakni bahagia. Menceburkan diri dalam pilihan masing-masing. Ada kepedihan yang begitu dalam menghunus nurani saat harus berpisah, menapaki kehidupan yang tidak sama-sama lagi.





Biar kelak ada pelangi yang lebih indah di luar sana, jangan pernah lupa tiap rintik hujan yang pernah mengguyur ubun-ubun bersama.





Biar kelak ada mentari yang lebih hangat memeluk raga, jangan pernah lupa tiap terik surya yang memompa semangat mengais ilmu bersama.





Karena di sini, di abu-abu yang memang kelabu ini, ada serangkai cerita yang yang mungkin pada masanya nanti dapat kembali terbagi bersama dalam suasana yang tidak lagi kelabu.





Mari angkat kaki bersama, teman. Lalu tersenyum pada semesta.





Teruntuk teman-teman tersayang, kalian tak akan pernah terganti.













#Sufia

Sorbonne, Seoul, Saudi Arabia, SOON