Sep 23, 2013

Seribu Jendela -- Bulan Kesatu (Part 1. Kabar - Kabar)




Halo halo hai !

Apa kabar? Pasti kabar baik, ya!

Tenang, postingan ini bukan tentang puisi - puisi galau yang bikin pening atau curhatan fans KPOP abis nonton konser atau beli CD. tenaaaaaang. hehe

Makanya, boleh baca sambil diminum tehnya, Kak! :) snacknya juga boleh diicip - icip! :)

***

Mengajar - Menyala

Saya pengagum pengajar muda -sebutan untuk kakak - kakak yang dikirim ke beberapa desa tertinggal di seluruh pelosok negeri-. Bila kesempatan menemui saya, kelak saya ingin menjadi pengajar muda.

Lalu apa itu Penyala? Sebutan untuk siapapun yang ingin menyalakan Indonesia. Siapapun. Di manapun. Dengan berbagi pengetahuan melalui buku ke seluruh penjuru, dan kelak pengetahuan ini akan secara otomatis 'menyalakan' Indonesia. Begitu filosofinya. Indah nian, bukan?

Berawal dari gerakan perpustakaan di tiap penempatan pengajar muda, Indonesia Menyala menggagas sebuah kegiatan taman bacaan di daerah Jabodetabek.

Mengapa Taman Baca? - Sebab anak - anak perlu dibiasakan membaca sejak dini, dan kebiasaan tersebut akan muncul bila tiap anak memiliki minat membaca. Taman Baca diharapkan mampu membantu memunculkan minat tersebut.

Mengapa hanya Jabodetabek? - Tenaaaaang! :) ini baru Pilot Project. Waktu akan mewujudkan taman baca - taman baca menjamur di Indonesia. Ah, bukan waktu. Tapi kita semua //amin//

***

Ah, Ternyata Gambir bukan cuma Monas dan Stasiun Gambir :)

Saya mendaftar. Saya tidak tahu jalan. Saya belum khatam peta Ibukota. Saya tinggal di Bekasi, kuliah di Rawamangun.

Saya gak tau kalo Gambir itu luas.Yang saya tau ya Stasiun Gambir sama Monas. Jadi waktu ada kolom pemilihan daerah penempatan, saya pilih yang di Percetakan Negara sama Gambir. Karena saya pikir gampang lah bolak - balik kampus.

Kemudian ada sms dan email pemberitahuan. Saya ditempatkan di SDN Duripulo 01 Pagi, Gambir. Tidak ada perasaan yang aneh - aneh karena saya masih berpikir Gambir itu ya di sekitar stasiun gambir itu aja.

Tibalah saat kami dipertemukan dengan penanggung jawab daerah penempatan. 

"Mbaknya tinggal di mana ya?"

"Bekasi, Pak"

"Wah, jauh sekali"

"Tapi saya kuliah di Rawamangun kok, Pak"

"Masih lumayan jauh loh, Mbak. Harus transit di harmoni soalnya trus lanjut lagi yang ke arah Grogol"

".............................."(Dalem hati) APAH?? GROGOL??

"Jadi duripulo itu memang masih masuk kecamatan Gambir tapi letaknya gak pusat pusat banget"

".........................." (Dalem hati) Oh, gitu ya, Pak..........

Kamudian dengan sukacita dan penuh harap kami menetapkan tanggal survey ke sana.

Ceritanya di next part yaaaaa :)))))

Mengapa Kisah Seribu Jendela

Seribu jendela adalah filosofi pribadi saya. Indonesia menyala dengan filosofinya bahwa pengetahuan akan menyalakan Indonesia dan saya, dengan filosofi tersebut.

Saya mengibaratkan Indonesia adalah sebuah bangunan yang tidak memiliki jendela. Sehingga, di siang hari sekalipun tidak ada cahaya yang menyinari. Lalu buku adalah jendela dunia. Satu anak membaca buku, maka pengetahuannya bertambah - satu jendela dunia bagi Indonesia tersusun. Satu lainnya membaca buku, maka jendela dunia lain terbentuk. Begitu seterusnya hingga seribu jendela bahkan jutaan jendela dunia. 

//Maaf kalo agak kacau penyampaiannya// -__-"

Ya pokoknya begitu hehehehehe..

Ditunggu yaaa next partnya :D

Malam,

Sufia.



  

Sep 1, 2013

Huruf Berputar



Bila saja huruf depanku berputar
melawan arah jarum jam.

Aku merindukanmu.
Begitu.

Dan bila waktu juga berputar.

Maaf ----

Jul 26, 2013

Pesakitan

copyright picture above. google search


Yang terbuang sayang, sebuah penantian.
Sebuah kerinduan.

Dalam batas - batas letih yang menuan, di ujung - ujung pengharapan.
Dalam celah - celah rindu yang cakap bergaung.
Terbaring jiwa yang pesakitan.

Mencinta Ia sakit
Merindu Ia sakit
Mengharap Ia sakit
Menanti Ia sakit
Mengeluh Ia sakit

Sakit yang pilu,
amat pilu dan memilukan.

Sakit yang menyebar, tak kenal arah.
Sebab tuannya tak peduli arah.

***

Kembali merangkul hujan di ujung akhir kemarau,
yang tak berkesudahan.

Dalam romansa kerisauan yang tak kenal akhir.
Sebab tak pernah ada waktu baginya saling berkenalan
Dengan akhir, yang tak bersahabat dengan awal.

Masih terbaring di sana, pesakitan itu.

Mencinta Ia sakit
Merindu Ia sakit

Bahkan mimpipun baginya menyakitkan

***

Kita bersamaan dengan waktu,
berkenalan dalam awal dan akhir.

Kemudian menjadi pesakitan, Kita.

Yang sakit saat saling mencinta
Yang sakit saat saling merindu
Yang sakit saat saling mengharap
Yang sakit saat saling menanti
Yang sakit saat saling mengeluh

Mencintamu aku sakit, Merinduku kamu sakit

***

Bersamaan dalam perbaringannya yang belum juga berakhir
Tak ada penawar bagi jiwa pesakitan itu

Tidak juga keikhlasan

Sebab mereka - kami - kita yang pesakitan merasa
betapa ikhlasnya untuk menikmati sakit

Mencinta aku sakit, aku ikhlas mencintamu
Merindu kamu sakit, kamu ikhlas merinduku

***

Sebab tak ada pesakitan yang benar - benar sakit dalam sakitnya
Sebab sakit bisa jadi suatu jalan untuk bahagia
Bahagia yang menyembunyikan sakit

Lalu hilang sakitnya.

***

Bekasi, 26 Juli 2013

Sufia.

 
 

Apr 9, 2013

Tenun

Hai, rindu.
Aku rindu.

Seberapa lama lagi kau melangkah?
Seberapa dekat lagi jarakmu?

Aku tak pernah tau

*

Maka biarkan aku menenun rindu malam ini
sebab penantian tanpa rindu adalah basi
seperti perjalananmu yang jauh tak beralas kaki
jatuh lalu mengaduh
atau beberapa pilihan - pilihan lain

kau yang membuat pilihan
juga pilihan untuk menanti
dan merindu

*

Hai, rindu.
Aku rindu.

Seberapa lama lagi kau mencari?
sebab aku selalu di sini.
menanti.

 

Feb 5, 2013

Sang Pemindai Surga

Untukmu Kashva, Sang Pemindai Surga

Apa kabarmu, Kashva?

Terakhir kita bertemu, kau tengah sibuk mencari Xerxes, anak lelaki dari mantan kekasihmu, Astu. Kau tampak begitu lelah baik jiwa dan ragamu, usai perjalanan panjang menuju Yang Terpuji harus terhenti di negeri atap dunia.

Aku begitu mengagumimu, sungguh. Bukan hanya karena kecerdasanmu dalam berbagai hal, ataupun keberanianmu mencari kebenaran. Lebih dari itu. Sosokmu terlalu mendekati sempurna untuk kukagumi. Kesetiaanmu akan cinta membuat kekagumanku semakin besar.

Ialah Astu, wanita beruntung itu. Wanita cerdas nan cantik yang menerima kesetiaanmu. Astu adalah sahabatmu sejak kecil, teman diskusi yang paling hebat di matamu. Namun sayang sekali, sepuluh tahun sudah Ia mengecewakanmu namun Kau masih setia mengenangnya. Sementara Ia sudah berbahagia dengan suami dan anak lelakinya, Xerxes, yang tengah Kau cari.

Kau memutuskan untuk melakukan perjalanan dari Persia menuju tanah tempat tinggal Yang Terpuji, yang namanya tertulis dalam kitab ajaran agamamu. Namun tiada sangka, di tengah perjalanan Kau bertemu Astu bersama suami dan anaknya. Sementara Pasukan yang diperintah Raja Koshrou tengah menyerbumu usai Kau melakukan penyerangan kecil terhadapnya. Astu dan suaminya memintamu untuk melanjutkan perjalanan dengan membawa Xerxes, sementara Ia dan suaminya berusaha menahan pasukan Koshrou. Kemudian sampailah Kau di Tibet hingga karena suatu kecerobohan kau kehilangan Xerxes.

Hai, Kashva.

Kau disebut pemindai surga karena kejeniusanmu dalam berbagai hal seimbang dengan ketaatan terhadap ajaran agamamu. Kau juga penyair luar biasa yang pernah kukenal.

Namun aku khawatir, sebab pikiranmu mungkin terlalu lelah sehingga kau mulai berimajinasi yang berlebihan, setidaknya itu yang diucapkan Mahsya dan Vhakshur, dua orang yang menemani perjalanan panjangmu.

Entahlah, bulan depan akan ada kelanjutan kabar darimu. Aku berharap kau tidak apa - apa. Aku harap kau berkesempatan menemui Yang Terpuji kemudian menceritakannya padaku. Aku juga berharap kau menemukan Xerxes, dan menemukan cintamu.

Dariku, pengagummu yang tinggal sangat jauh dari Persia, tempatmu.

         

 note:
Kashva adalah tokoh fiksi dalam novel MUHAMMAD karangan Tasaro GK. Sudah ada 2 buku yaitu Muhammad, Lelaki Penggenggam Hujan dan Muhammad, Para Pengeja Hujan. Bulan depan buku ketiga akan terbit sebagai lanjutan perjalanan Kashva dan juga perjalanan Rasullullah.

#Sufia

Sorbonne, Seoul, Saudi Arabia, SOON