Jan 13, 2014
Jan 7, 2014
Dec 30, 2013
Pesan Hitam Putih
Kita pernah sama - sama putih.
Lalu menghitam.
Lalu bersua.
Tercurangi lalu terpuruk
dalam waktu yang tak tau batas
adakah waktu memiliki batas?
Kemudian ada titik yang memutihkan hitammu, perlahan
Saat waktu mulai jenuh mempermainkan perasaan.
Sementara aku masih percaya diri dalam kelam, saat kau mulai membangun harapan
Kita pernah sama - sama putih, dulu sekali
Lalu menghitam
Lalu bersua
Kemudian kau perlahan memutih,
sementara aku masih betah menghitam
Waktu berlari
dan sudah terlalu jauh saat kita menyadari
Putihmu yang baru kemudian tumbuh dalam ketakutan, di balik trauma
sementara hitamku konsisten, meski juga di balik trauma
Waktu berlari
kita masih saja terlambat menyadari
Bahwa takdir terlalu pahit untuk pihak yang menepuk sebelah hati
Kita pernah sama - sama putih, dulu sekali
Lalu menghitam
Lalu bersua
Kemudian kau menumbuhkan putihmu dalam ketakutan
Takdir selalu pahit untuk pihak yang menepuk sebelah hati
Beberapa waktu lalu
hitamku menemui pemutihnya, setelah waktu yang cukup lama.
Namun ketakutanmu berujung pedih
Kau seolah akan menghitam lagi
Sebab kita pernah bertemu saat menghitam
Lalu kau menemui putihmu lebih dulu,
memberi aku harapan
bahwa putih akan jua menemuiku, terbukti sekarang
Aku tak ingin kau menghitam lagi, teman.
Kita harus berakhir pada putih yang bahagia.
Meski takdir selalu pahit untuk pihak yang menepuk sebelah hati,
Meski tak pernah ada pilihan bagi kita untuk memihak
Kumohon jangan menghitam lagi, kumohon.
***
Bekasi, 30 Desember 2013 dini hari
saat teman saya sedang patah hati sementara saya pada akhirnya jatuh hati kembali.
Lalu menghitam.
Lalu bersua.
Tercurangi lalu terpuruk
dalam waktu yang tak tau batas
adakah waktu memiliki batas?
Kemudian ada titik yang memutihkan hitammu, perlahan
Saat waktu mulai jenuh mempermainkan perasaan.
Sementara aku masih percaya diri dalam kelam, saat kau mulai membangun harapan
Kita pernah sama - sama putih, dulu sekali
Lalu menghitam
Lalu bersua
Kemudian kau perlahan memutih,
sementara aku masih betah menghitam
Waktu berlari
dan sudah terlalu jauh saat kita menyadari
Putihmu yang baru kemudian tumbuh dalam ketakutan, di balik trauma
sementara hitamku konsisten, meski juga di balik trauma
Waktu berlari
kita masih saja terlambat menyadari
Bahwa takdir terlalu pahit untuk pihak yang menepuk sebelah hati
Kita pernah sama - sama putih, dulu sekali
Lalu menghitam
Lalu bersua
Kemudian kau menumbuhkan putihmu dalam ketakutan
Takdir selalu pahit untuk pihak yang menepuk sebelah hati
Beberapa waktu lalu
hitamku menemui pemutihnya, setelah waktu yang cukup lama.
Namun ketakutanmu berujung pedih
Kau seolah akan menghitam lagi
Sebab kita pernah bertemu saat menghitam
Lalu kau menemui putihmu lebih dulu,
memberi aku harapan
bahwa putih akan jua menemuiku, terbukti sekarang
Aku tak ingin kau menghitam lagi, teman.
Kita harus berakhir pada putih yang bahagia.
Meski takdir selalu pahit untuk pihak yang menepuk sebelah hati,
Meski tak pernah ada pilihan bagi kita untuk memihak
Kumohon jangan menghitam lagi, kumohon.
***
Bekasi, 30 Desember 2013 dini hari
saat teman saya sedang patah hati sementara saya pada akhirnya jatuh hati kembali.
Dec 23, 2013
Dec 19, 2013
Subscribe to:
Posts (Atom)
#Sufia
Sorbonne, Seoul, Saudi Arabia, SOON ♡