Feb 6, 2011

entah untuk siapa :)

Kepada engkau yang senyumnya menghangatkan relung, kuucap salam kerinduan tak terbendung.
   
Apa kabar? Semoga doa-doaku selama ini di dengar Tuhan sehingga saat kau membaca surat ini, kau dalam keadaan terbaikmu, dan tentunya, juga dengan perasaan rindu yang sama seperti rinduku.
   
Aku sudah menunggu lama di sini, di tepian takdir yang tak jua berubah. Aku masih menanti kehadiranmu yang entah membawa setangkai mawar merah ataupun sekedar senyum ramah. Aku hanya bisa menunggu, tidak bisa lebih dari itu. Aku mau, tapi tidak bisa. Sebab takdir menahanku begitu, sebab kodrat melarangku berbuat lain.
  
Sayang, lidahku sudah geregetan untuk memujamu. Jemariku sudah tidak tahan ingin membelai wajah tampanmu. Aku juga tidak sabar tenggelam dalam pelukanmu. Tapi lagi-lagi yang, aku hanya bisa menunggu. Aku hanya bisa mengikuti alur yang sudah Tuhan atur untuk kita.
  
Kekasihku, bila tiba waktunya nanti, jangan umbar janji. Sebab aku sudah bosan dengan janji dari yang terdahulu yang gagal terpenuhi. Bila akhirnya kita bertemu, jangan ragu menyapaku terlebih dahulu, sebab aku terlahir pemalu. Bila akhirnya kita bersua, jangan sungkan bertanya nama, sebab namaku dan namamu sudah menjadi satu di atas sana.
   
Itu saja ya untuk sekarang, ini bukan surat cinta loh. Harusnya kan kamu yang mengirimiku surat cinta. Ini namanya apa ya, surat kerinduan? apalah namanya tidak mengubah sedikitpun rasaku.
   
Teruntuk engkau, lelaki yang sampai sekarang masih dirahasiakan Tuhan

No comments:

Post a Comment

#Sufia

Sorbonne, Seoul, Saudi Arabia, SOON