Tidak ada yang lebih
melelahkan daripada kesepian. Sekalipun dalam kesunyian sebuah jiwa tidak
melakukan apa – apa, tapi kesendiriannya saja sudah menyerap banyak energi setidaknya
memikirkan waktu yang tepat untuk mengakhiri sepi yang berkelanjutan
Arimbi
meneguk sebotol soda yang telah lama Ia genggam, mata bulatnya yang terbalut
kaca mata berbingkai hitam menatap lurus ke arah monitor di hadapannya.
Menyelesaikan beberapa pekerjaan, sembari menyelesaikan beberapa urusan.
Sejenak
kemudian Ia melamun, sudah tak terhitung kali yang keberapa Ia tergugu tak
berkedip. Mungkin seperti inilah bila hidup terlalu monoton. Pagi sampai petang
bergumul dengan kesibukan sebagai wanita muda yang sukses dalam karirnya.
Kemudian menikmati kemacetan di dalam transportasi umum selama perjalanan
pulang menuju apartemen tempat Ia tinggal dua tahun terakhir seorang diri,
benar – benar sendirian. Bahkan tidak ada seekorpun binatang peliharaan.
Berkedip
mata Arimbi setelah sekian detik Ia melamun. Menarik napas panjang dan kembali
bergelut dengan laptopnya yang bisu. Ah, betapa Ia memang mencintai kesepian.
Bahkan tidak ada lagu yang disetel dari laptopnya itu. Jam di ruangan itupun
digital tanpa suara. Tidak ada suara binatang, tidak ada suara detak jarum jam,
tidak ada melodi bersenandung. Hanya berkali – kali napas panjang, beberapa
kali tegukan, dan sesekali gumaman pelan, sangat pelan.
***
Ketika hidup hanya
butuh sedikit tempat untuk ketenangan, dan ruang sewajarnya untuk berbagi
resah, maka sungguh, kebersamaan adalah muara dari segala kebahagiaan
Malam
semakin larut. Pikiran semakin kusut. Hidup bersama orang tua yang tiap waktu
berdebat adalah hal terburuk yang harus diterima menjadi bagian dari sebuah
takdir. Raga meremas jemarinya, geram. Betapa Ia tak tahan, baru saja suapan
kedua makan malam Ia lumat habis, sang Ibu menyinggung masalah sederhana yang
terlalu dibesar – besarkan. Dan betapa hebatnya sang Ayah justru menanggapinya
dengan kalimat ketus.
Berdebatlah
mereka berdua. Seolah lupa bila anak semata-wayangnya diam menyaksikan mereka. Lama
– lama perdebatan menjadi semakin sengit, hal lain diungkit – ungkit. Segera Ia
lepaskan genggaman sendok dan garpu, menyudahi makan. Hilang semua selera. Keluarga macam apa? batinnya berkecamuk.
Raga
berdiri hendak pergi sesegera mungkin dari rumah sebelum tangan sang Ibu
akhirnya menahannya.
“Mau
kemana, kamu?”
“Main” singkat dan jelas Raga menjawab pertanyaan Ibunya sambil melepaskan genggaman tangan sang Ibu dan pergi. Pergi mencari ketenangan yang tidak pernah Ia temukan di rumah.
***
Di hati sebuah jiwa
yang kesepian terkadang masih terselip serpihan kenangan, yang sekali dua kali
mengoyak pedih, tiap kali rindu datang
-
Hai, Bi. Aku kangen.
Ah!
Arimbi terkejut. Sekalipun tidak sampai menjatuhkan botol soda yang Ia genggam,
tetapi raut wajahnya seketika berubah. Pesan singkat itu masuk begitu saja ke
ponselnya, tanpa permisi. Dan sungguh tidak sopan sang pengirim, tanpa salam
atau sedikit saja basa – basi, mudah sekali Ia umbar rindu, yang kalau boleh
jujur sudah tidak pada tempatnya.
Arimbi
berusaha untuk tidak mengindahkan pesan masuk itu, tapi hatinya tak mau patuh.
Debar yang sudah bukan masanya lagi, sesak yang tiba – tiba muncul kembali.
Berusaha tenang, Arimbi menghabiskan soda dalam dua kali tegukan. Sudah hampir dua tahun, bodoh! Arimbi
bergerumul pelan, kesal lantaran merasa begitu mudah terpedaya.
“Kamu
terlalu baik buat aku, Bi”
“Kita
temenan dulu ya, Bi”
“Aku
sayang sama wanita lain, Bi”
“Bi,
apa kabar? Kangen nih, ketemu yuk,”
“Hai,
Bi. Aku kangen”
Persetan!
Arimbi geram. Suara – suara masa lalu seolah berkumpul di kepala, memantul buat
gema. Sesak. Suara – suara dua tahun silam hingga saat ini. Suara yang
melumpuhkannya, membuat Ia begitu tertutup dan sedikit acuh. Ia trauma. Trauma
yang berlebih. Trauma yang menyeretnya kepada lubang kesendirian yang dalam,
yang kelam.
Ditengok
kembali layar ponsel. Dibacanya lagi kata demi kata. Kemudian sesaknya buncah.
Ponsel terlepas dari genggaman, sengaja. Biar pecah sekalian, musnah sekalian.
Lemah Ia terkulai lalu berairmata. Menangisi keadaannya yang begitu payah,
lebih dari lemah.
Ah,
paling tidak ruang kamarnya jadi tak sesunyi tadi. Kini memantul isak tangis di
sudut – sudut ruangan. Kepedihan yang begitu ramai, begitu ramai.
***
Dan semestinya rindu
ada untuk kebersamaan yang sempat tertunda, sebab bila jiwa terpaut jarak
sejauh apapun, rindu mempertemukannya di sebuah ruang tersendiri
Raga
memacu mobilnya serupa orang kesetanan. Entahlah yang kesetanan itu seperti
apa. Yang jelas, gemuruh amarah di dadanya bersorak sorai, ramai. Ia melaju
tanpa arah. Yang terpikir dalam benaknya hanya satu: sejauh mungkin dari rumah.
Ponsel
tidak Ia matikan, sengaja. Sekedar menguji apakah kedua orangtuanya cemas atau tidak. Ah, rupanya Ia masih peduli hal
itu.
Ia
anak tunggal. Bila di buku – buku cerita anak tertulis dengan indahnya hidup
menjadi anak tunggal, dijejali kasih sayang yang berlebih dan hidup tanpa
kurang perhatian ayah ibu, maka hal tersebut sempurna menjadi cerita pengantar
tidur bagi Raga.
Secara
materi memang Ia tidak kekurangan secuil debu sekalipun. Usianya tahun ini
genap dua puluh dua, tapi selama itu pula hanya tiga atau lima kali bepergian
bersama kedua orangtuanya. Masa kecil Ia habiskan di Manado, bersama nenek dan
kakeknya sebab ayah dan ibunya tengah menyelesaikan studi magister hingga
doktoral di Amerika.
Selama
hidup berpisah dengan orang tua, Raga tak pernah absen menerima bingkisan luar
negeri. Begitulah caranya mengenal orangtua, begitu pula Ia merasa ‘diakui’
sebagai anak.
Sudah
lima tahun belakangan ini Raga tinggal bersama kedua oragtuanya. Tahun pertama
memang kebahagiaan masih Ia rasakan derasnya. Namun kemudian sesekali
perdebatan kecil antara ayah dan ibunya. Kecil lalu besar. Begitulah.
Raga
menginjak rem tetiba. Kembali ke dunia nyata. Napasnya tersengal tak keruan,
emosinya meletup tak tertahan. Ia ingin teriak, sungguh. Raga sudah letih
menangis. Sedari kecil Ia sudah langganan menangis ketika diejek teman –
temannya karena hanya Ia seorang yang tidak ditemani orangtua saat pengambilan
rapor maupun pertemuan – pertemuan orangtua. Karena itulah kepribadiannya kini
begitu keras. Sebab baginya, hidup memang terlanjur keras untuk dilewati, dan
terlalu sulit untuk diakhiri.
Ia
sudah lumayan jauh dari rumah, tapi kejenuhan dalam hatinya meraung tak kenal
tempat. Malam sudah hampir temui ujungnya, kendaraan yang lalu – lalang di jalan raya seperti ini juga hanya bersisa
satu – dua. Lengang. Raga menggenggam kemudi erat, bahunya berguncang hebat.
Sesengukan.
Yang
terlintas di benaknya sedari tadi ialah sebuah pertanyaan sederhana, Mengapa tidak jua ada panggilan masuk dari
rumah ke ponselnya?
***
Kesendirian memang
melelahkan. Bayang –bayang masa lalu dan halusinasi masa depan berbaur satu.
Rindu dan harapan beriringan, lalu temui kenyataan. Yang seringnya menyakitkan
Angin
malam memang juaranya mengundang risau. Arimbi sudah dua puluhan langkah
menjauh dari gerbang apartemennya. Niatnya menghilangkan penat dan kesal dengan
menikmati udara malam, namun ternyata justru meniupkan hawa risau yang lain.
Matanya
sembab, tatapannya sendu dan cenderug seolah kosong. Langkahnya yang patah –
patah malas melaju tanpa arah. Sesekali berhenti, tertunduk, melamun sekian
detik, menghela napas panjang kemudian melangkah lemah lagi. Sekitar langkah ke
enam hingga delapan, Ia melakukan hal serupa, langkahnya terhenti, lantas Ia
tertunduk lalu melamun, menghela napas panjang dan kembali melangkah.
Mengapa begitu sulit merelakan yang
terjadi lantas melupakannya perlahan? Arimbi menggerutu dalam
hati. Ia menghentikan langkah di sebuah halte, lantas duduk di sana. Sendirian
menikmati malam yang kian matang. Membiarkan bayang – bayang masa lalu kembali
mencibirnya. Sendirian.
***
“Bi,
aku masih gak nyangka banget kamu nerima aku, loh! Aku seneng banget,” Bumi
sumringah. Seolah hilang sudah semua penat, seolah kebahagiaan tengah
berrkumpul dalam hatinya. Buncah, menyeruak.
“Biasa
ajaaaaa kali, Bum,” Arimbi meninju bahu Bumi yang gempal, manja. Senyumnya
membuat simpul kebahagiaan.
“Aku
janji gak akan pernah ngecewain kamu, Bi. Kamu baik banget,” Bumi berjanji,
janji yang terasa begitu menyakitkan di kemudian hari.
Arimbi
kembali sesengukan, sekian detik setelah Ia sadar dari lamunan, dari godaan
masa silam. Mudah betul kau buat janji,
hah? Ia geram sendiri, sendirian.
***
“........
Aku jenuh, Bi,”
“Maaf
ya aku ngebosenin,” Arimbi akhirnya membuka suaranya. Parau. Seolah tak bisa
sembunyikan galau.
“Bukan
kamu yang ngebosenin, tapi aku lagi bosen aja suasana kayak gini. Kita temenan
lagi aja kayak dulu yuk, Bi,”
Arimbi
hanya tergugu. Di sebelahnya kini Bumi menunggu. Menunggu untuk dilepas, biar
bebas.
Sudah
tidak ada bus yang berhenti di halte tempat Arimbi terkukung masa lalu.
Sesekali klakson mobil pribadi menggema panjang, dan lampu tembaknya menyoroti
satu – dua pejalan kaki yang tengah menyeberang.
Mengapa jenuh harus kau gunakan
sebagai alasan? Mengapa tidak katakan secara terang? Arimbi
terus – terusan memaki bayang – bayang masa lalunya. Tapi tiada guna, bahkan
kini tidak ada satu nyamukpun menemani sosoknya yang tertunduk berairmata.
Kasian.
***
“Bi,
Ayu gak kayak kamu. Dia manja, gak mandiri kayak kamu. Ambekan. Aku kangen
kamu, Bi,” suara Bumi di ujung telefon. Arimbi hanya menghela napas. Berusaha
tidak mengindahkan. Baru empat bulan setelah Arimbi sadar Bumi mempermainkannya.
Mengajak berteman untuk menutupi hatinya yang tengah bermain api. Mereka memang
tetap berteman, katanya.
“Nanti
lagi ya, Bum. Lagi banyak kerjaan nih,” Arimbi memutus sambungan sepihak. Bukan
karena banyak urusan, tetapi muak oleh Bumi. Hatinya belum sembuh benar. Ia
terlalu percaya pada Bumi. Hingga kekecewaan itu terasa begitu perih tak
berperi.
***
Benar
kata pepatah tetua, jenuh bisa jadi mematikan
Lima
belas menit usai sesengukan sendirian dalam mobil, Raga melamun. Ia tak peduli
dengan kelopak matanya yang membengkak, sembap. Diliriknya ponsel yang
tergeletak dekat kemudi. Apa perdebatan
mereka sudah selesai? Atau semakin parah? Jauh di lubuk hatinya sebagai
anak, Raga cemas. Ia hanya merindukan kebersamaan, yang sedari dulu Ia
nantikan.
Drrrt
drrrt.
Ponselnya
bergetar. Nama sang Ibu yang tertera di layar. Terkejut sebentar saja, kemudia
Raga menerima panggilan, bahagia.
“Halo, ma?”
Tidak
ada suara di seberang. Sinyal kurang bagus, kah?
“Ma?”
“Ga, kamu di mana?” parau. Suara
bekas tangis dari seberang. Kenapa?
“Mama kenapa, ma?” Raga mengacuhkan
pertanyaan Ibunya. Mungkinkah Ibunya menangis karena terlalu khawatir? Ah, mana
mungkin.
“Mama ... sama papa mau cerai, Ga,
mama udah gak kuat lagi ..........”
Raga
sudah tidak mendengar apa yang Ibunya bicarakan. Seolah telinganya berdengung
teramat keras. Seolah kepalanya mau pecah. Ponsel terjatuh, persis seperti
kebahagiaannya yang sempurna runtuh.
Ia
hilang kendali. Diinjaknya pedal gas sekuat tenaga. Melaju tak kenal arah,
melepas semua amarah.
***
Akankah semudah itu
meninggalkan dunia saat kita jenuh dengan kehidupan?
Arimbi
bangkit dari duduknya. Matanya makin sembap. Kerinduan yang begitu dalam, sakit
hati yang menamparnya kelam. Ia seperti tak memandang masa depan. Langkahnya
tertatih. Sedih.
Kakinya
bergerak tanpa tujuan. Sampai kepada zebra cross yang kosong. Pandanganya
menunduk ke bawah, fokus pada hitam putih garis penyebrangan. Arimbi mungkin
tengah melamun sambil berjalan, atau berjalan sambil melamun. Ia tak peduli
sekitar. Ia tak peduli beberapa kali klakson kendaraan menyerbunya.
Arimbi
hanya ingin terus berjalan. Sampai hatinya tak sakit lagi. Dan lima detik
kemudian Ia terhenti. Tubuh ringkihnya melayang. Ia pikir terbawa angin karena
terlalu lemahnya. Kemudian semuanya gelap di mata Arimbi. Ia tersenyum
menjemput kedamaian.
***
Saat
jenuh hilang, maka segala penat seolah terbang bebas..
Raga
menginjak rem sedemikian kerasnya. Namun kecepatan mobilnya memang tengah
keterlaluan. Ia benar – benar hilang kendali. Ia sempat memutar kemudi, namun
gagal. Usai menabrak seorang wanita, mobilnya menabrak tepian jalan.Karena
sabuk pengaman yang lupa dipasang, Raga kemudian dengan mudah memeluk kemudi.
Terbentur hebat. Darah mengalir dari telinganya, Ia tersenyum sambil terpejam.
Kini, dua jiwa itu tidak jenuh lagi.
***
Not allow to copy this post without permission.
Picture above is from google.

bagus !
ReplyDeletetarimokasih :')
ReplyDelete