Aug 2, 2012

Jenuh





Tidak ada yang lebih melelahkan daripada kesepian. Sekalipun dalam kesunyian sebuah jiwa tidak melakukan apa – apa, tapi kesendiriannya saja sudah menyerap banyak energi setidaknya memikirkan waktu yang tepat untuk mengakhiri sepi yang berkelanjutan

Arimbi meneguk sebotol soda yang telah lama Ia genggam, mata bulatnya yang terbalut kaca mata berbingkai hitam menatap lurus ke arah monitor di hadapannya. Menyelesaikan beberapa pekerjaan, sembari menyelesaikan beberapa urusan.

Sejenak kemudian Ia melamun, sudah tak terhitung kali yang keberapa Ia tergugu tak berkedip. Mungkin seperti inilah bila hidup terlalu monoton. Pagi sampai petang bergumul dengan kesibukan sebagai wanita muda yang sukses dalam karirnya. Kemudian menikmati kemacetan di dalam transportasi umum selama perjalanan pulang menuju apartemen tempat Ia tinggal dua tahun terakhir seorang diri, benar – benar sendirian. Bahkan tidak ada seekorpun binatang peliharaan.

Berkedip mata Arimbi setelah sekian detik Ia melamun. Menarik napas panjang dan kembali bergelut dengan laptopnya yang bisu. Ah, betapa Ia memang mencintai kesepian. Bahkan tidak ada lagu yang disetel dari laptopnya itu. Jam di ruangan itupun digital tanpa suara. Tidak ada suara binatang, tidak ada suara detak jarum jam, tidak ada melodi bersenandung. Hanya berkali – kali napas panjang, beberapa kali tegukan, dan sesekali gumaman pelan, sangat pelan.
***

Ketika hidup hanya butuh sedikit tempat untuk ketenangan, dan ruang sewajarnya untuk berbagi resah, maka sungguh, kebersamaan adalah muara dari segala kebahagiaan

Malam semakin larut. Pikiran semakin kusut. Hidup bersama orang tua yang tiap waktu berdebat adalah hal terburuk yang harus diterima menjadi bagian dari sebuah takdir. Raga meremas jemarinya, geram. Betapa Ia tak tahan, baru saja suapan kedua makan malam Ia lumat habis, sang Ibu menyinggung masalah sederhana yang terlalu dibesar – besarkan. Dan betapa hebatnya sang Ayah justru menanggapinya dengan kalimat ketus.

Berdebatlah mereka berdua. Seolah lupa bila anak semata-wayangnya diam menyaksikan mereka. Lama – lama perdebatan menjadi semakin sengit, hal lain diungkit – ungkit. Segera Ia lepaskan genggaman sendok dan garpu, menyudahi makan. Hilang semua selera. Keluarga macam apa? batinnya berkecamuk.
Raga berdiri hendak pergi sesegera mungkin dari rumah sebelum tangan sang Ibu akhirnya menahannya.

“Mau kemana, kamu?”

“Main” singkat dan jelas Raga menjawab pertanyaan Ibunya sambil melepaskan genggaman tangan sang Ibu dan pergi. Pergi mencari ketenangan yang tidak pernah Ia temukan di rumah.

***

Di hati sebuah jiwa yang kesepian terkadang masih terselip serpihan kenangan, yang sekali dua kali mengoyak pedih, tiap kali rindu datang

-          Hai, Bi. Aku kangen.

Ah! Arimbi terkejut. Sekalipun tidak sampai menjatuhkan botol soda yang Ia genggam, tetapi raut wajahnya seketika berubah. Pesan singkat itu masuk begitu saja ke ponselnya, tanpa permisi. Dan sungguh tidak sopan sang pengirim, tanpa salam atau sedikit saja basa – basi, mudah sekali Ia umbar rindu, yang kalau boleh jujur sudah tidak pada tempatnya.

Arimbi berusaha untuk tidak mengindahkan pesan masuk itu, tapi hatinya tak mau patuh. Debar yang sudah bukan masanya lagi, sesak yang tiba – tiba muncul kembali. Berusaha tenang, Arimbi menghabiskan soda dalam dua kali tegukan. Sudah hampir dua tahun, bodoh! Arimbi bergerumul pelan, kesal lantaran merasa begitu mudah terpedaya.

            “Kamu terlalu baik buat aku, Bi”
             “Kita temenan dulu ya, Bi”
            “Aku sayang sama wanita lain, Bi”
            “Bi, apa kabar? Kangen nih, ketemu yuk,”
            “Hai, Bi. Aku kangen”

Persetan! Arimbi geram. Suara – suara masa lalu seolah berkumpul di kepala, memantul buat gema. Sesak. Suara – suara dua tahun silam hingga saat ini. Suara yang melumpuhkannya, membuat Ia begitu tertutup dan sedikit acuh. Ia trauma. Trauma yang berlebih. Trauma yang menyeretnya kepada lubang kesendirian yang dalam, yang kelam.

Ditengok kembali layar ponsel. Dibacanya lagi kata demi kata. Kemudian sesaknya buncah. Ponsel terlepas dari genggaman, sengaja. Biar pecah sekalian, musnah sekalian. Lemah Ia terkulai lalu berairmata. Menangisi keadaannya yang begitu payah, lebih dari lemah.

Ah, paling tidak ruang kamarnya jadi tak sesunyi tadi. Kini memantul isak tangis di sudut – sudut ruangan. Kepedihan yang begitu ramai, begitu ramai.

***

Dan semestinya rindu ada untuk kebersamaan yang sempat tertunda, sebab bila jiwa terpaut jarak sejauh apapun, rindu mempertemukannya di sebuah ruang tersendiri

Raga memacu mobilnya serupa orang kesetanan. Entahlah yang kesetanan itu seperti apa. Yang jelas, gemuruh amarah di dadanya bersorak sorai, ramai. Ia melaju tanpa arah. Yang terpikir dalam benaknya hanya satu: sejauh mungkin dari rumah.

Ponsel tidak Ia matikan, sengaja. Sekedar menguji apakah kedua orangtuanya cemas  atau tidak. Ah, rupanya Ia masih peduli hal itu.

Ia anak tunggal. Bila di buku – buku cerita anak tertulis dengan indahnya hidup menjadi anak tunggal, dijejali kasih sayang yang berlebih dan hidup tanpa kurang perhatian ayah ibu, maka hal tersebut sempurna menjadi cerita pengantar tidur bagi Raga.

Secara materi memang Ia tidak kekurangan secuil debu sekalipun. Usianya tahun ini genap dua puluh dua, tapi selama itu pula hanya tiga atau lima kali bepergian bersama kedua orangtuanya. Masa kecil Ia habiskan di Manado, bersama nenek dan kakeknya sebab ayah dan ibunya tengah menyelesaikan studi magister hingga doktoral di Amerika.

Selama hidup berpisah dengan orang tua, Raga tak pernah absen menerima bingkisan luar negeri. Begitulah caranya mengenal orangtua, begitu pula Ia merasa ‘diakui’ sebagai anak.
Sudah lima tahun belakangan ini Raga tinggal bersama kedua oragtuanya. Tahun pertama memang kebahagiaan masih Ia rasakan derasnya. Namun kemudian sesekali perdebatan kecil antara ayah dan ibunya. Kecil lalu besar. Begitulah.

Raga menginjak rem tetiba. Kembali ke dunia nyata. Napasnya tersengal tak keruan, emosinya meletup tak tertahan. Ia ingin teriak, sungguh. Raga sudah letih menangis. Sedari kecil Ia sudah langganan menangis ketika diejek teman – temannya karena hanya Ia seorang yang tidak ditemani orangtua saat pengambilan rapor maupun pertemuan – pertemuan orangtua. Karena itulah kepribadiannya kini begitu keras. Sebab baginya, hidup memang terlanjur keras untuk dilewati, dan terlalu sulit untuk diakhiri.

Ia sudah lumayan jauh dari rumah, tapi kejenuhan dalam hatinya meraung tak kenal tempat. Malam sudah hampir temui ujungnya, kendaraan yang lalu – lalang di  jalan raya seperti ini juga hanya bersisa satu – dua. Lengang. Raga menggenggam kemudi erat, bahunya berguncang hebat. Sesengukan.

Yang terlintas di benaknya sedari tadi ialah sebuah pertanyaan sederhana, Mengapa tidak jua ada panggilan masuk dari rumah ke ponselnya?

***

Kesendirian memang melelahkan. Bayang –bayang masa lalu dan halusinasi masa depan berbaur satu. Rindu dan harapan beriringan, lalu temui kenyataan. Yang seringnya menyakitkan

Angin malam memang juaranya mengundang risau. Arimbi sudah dua puluhan langkah menjauh dari gerbang apartemennya. Niatnya menghilangkan penat dan kesal dengan menikmati udara malam, namun ternyata justru meniupkan hawa risau yang lain.

Matanya sembab, tatapannya sendu dan cenderug seolah kosong. Langkahnya yang patah – patah malas melaju tanpa arah. Sesekali berhenti, tertunduk, melamun sekian detik, menghela napas panjang kemudian melangkah lemah lagi. Sekitar langkah ke enam hingga delapan, Ia melakukan hal serupa, langkahnya terhenti, lantas Ia tertunduk lalu melamun, menghela napas panjang dan kembali melangkah.

Mengapa begitu sulit merelakan yang terjadi lantas melupakannya perlahan? Arimbi menggerutu dalam hati. Ia menghentikan langkah di sebuah halte, lantas duduk di sana. Sendirian menikmati malam yang kian matang. Membiarkan bayang – bayang masa lalu kembali mencibirnya. Sendirian.

***

            “Bi, aku masih gak nyangka banget kamu nerima aku, loh! Aku seneng banget,” Bumi sumringah. Seolah hilang sudah semua penat, seolah kebahagiaan tengah berrkumpul dalam hatinya. Buncah, menyeruak.
            “Biasa ajaaaaa kali, Bum,” Arimbi meninju bahu Bumi yang gempal, manja. Senyumnya membuat simpul kebahagiaan.
            “Aku janji gak akan pernah ngecewain kamu, Bi. Kamu baik banget,” Bumi berjanji, janji yang terasa begitu menyakitkan di kemudian hari.

Arimbi kembali sesengukan, sekian detik setelah Ia sadar dari lamunan, dari godaan masa silam. Mudah betul kau buat janji, hah? Ia geram sendiri, sendirian.

***

            “........ Aku jenuh, Bi,”
            “Maaf ya aku ngebosenin,” Arimbi akhirnya membuka suaranya. Parau. Seolah tak bisa sembunyikan galau.
            “Bukan kamu yang ngebosenin, tapi aku lagi bosen aja suasana kayak gini. Kita temenan lagi aja kayak dulu yuk, Bi,”
            Arimbi hanya tergugu. Di sebelahnya kini Bumi menunggu. Menunggu untuk dilepas, biar bebas.

Sudah tidak ada bus yang berhenti di halte tempat Arimbi terkukung masa lalu. Sesekali klakson mobil pribadi menggema panjang, dan lampu tembaknya menyoroti satu – dua pejalan kaki yang tengah menyeberang.

Mengapa jenuh harus kau gunakan sebagai alasan? Mengapa tidak katakan secara terang? Arimbi terus – terusan memaki bayang – bayang masa lalunya. Tapi tiada guna, bahkan kini tidak ada satu nyamukpun menemani sosoknya yang tertunduk berairmata. Kasian.

***

            “Bi, Ayu gak kayak kamu. Dia manja, gak mandiri kayak kamu. Ambekan. Aku kangen kamu, Bi,” suara Bumi di ujung telefon. Arimbi hanya menghela napas. Berusaha tidak mengindahkan. Baru empat bulan setelah Arimbi sadar Bumi mempermainkannya. Mengajak berteman untuk menutupi hatinya yang tengah bermain api. Mereka memang tetap berteman, katanya.
            “Nanti lagi ya, Bum. Lagi banyak kerjaan nih,” Arimbi memutus sambungan sepihak. Bukan karena banyak urusan, tetapi muak oleh Bumi. Hatinya belum sembuh benar. Ia terlalu percaya pada Bumi. Hingga kekecewaan itu terasa begitu perih tak berperi.

***

            Benar kata pepatah tetua, jenuh bisa jadi mematikan

Lima belas menit usai sesengukan sendirian dalam mobil, Raga melamun. Ia tak peduli dengan kelopak matanya yang membengkak, sembap. Diliriknya ponsel yang tergeletak dekat kemudi. Apa perdebatan mereka sudah selesai? Atau semakin parah? Jauh di lubuk hatinya sebagai anak, Raga cemas. Ia hanya merindukan kebersamaan, yang sedari dulu Ia nantikan.

            Drrrt drrrt.

Ponselnya bergetar. Nama sang Ibu yang tertera di layar. Terkejut sebentar saja, kemudia Raga menerima panggilan, bahagia.

            “Halo, ma?”

Tidak ada suara di seberang. Sinyal kurang bagus, kah?

            “Ma?”
            “Ga, kamu di mana?” parau. Suara bekas tangis dari seberang. Kenapa?
       “Mama kenapa, ma?” Raga mengacuhkan pertanyaan Ibunya. Mungkinkah Ibunya menangis karena terlalu khawatir? Ah, mana mungkin.
            “Mama ... sama papa mau cerai, Ga, mama udah gak kuat lagi ..........”

Raga sudah tidak mendengar apa yang Ibunya bicarakan. Seolah telinganya berdengung teramat keras. Seolah kepalanya mau pecah. Ponsel terjatuh, persis seperti kebahagiaannya yang sempurna runtuh.

Ia hilang kendali. Diinjaknya pedal gas sekuat tenaga. Melaju tak kenal arah, melepas semua amarah.

***

Akankah semudah itu meninggalkan dunia saat kita jenuh dengan kehidupan?

Arimbi bangkit dari duduknya. Matanya makin sembap. Kerinduan yang begitu dalam, sakit hati yang menamparnya kelam. Ia seperti tak memandang masa depan. Langkahnya tertatih. Sedih.

Kakinya bergerak tanpa tujuan. Sampai kepada zebra cross yang kosong. Pandanganya menunduk ke bawah, fokus pada hitam putih garis penyebrangan. Arimbi mungkin tengah melamun sambil berjalan, atau berjalan sambil melamun. Ia tak peduli sekitar. Ia tak peduli beberapa kali klakson kendaraan menyerbunya.

Arimbi hanya ingin terus berjalan. Sampai hatinya tak sakit lagi. Dan lima detik kemudian Ia terhenti. Tubuh ringkihnya melayang. Ia pikir terbawa angin karena terlalu lemahnya. Kemudian semuanya gelap di mata Arimbi. Ia tersenyum menjemput kedamaian.

***

            Saat jenuh hilang, maka segala penat seolah terbang bebas..

Raga menginjak rem sedemikian kerasnya. Namun kecepatan mobilnya memang tengah keterlaluan. Ia benar – benar hilang kendali. Ia sempat memutar kemudi, namun gagal. Usai menabrak seorang wanita, mobilnya menabrak tepian jalan.Karena sabuk pengaman yang lupa dipasang, Raga kemudian dengan mudah memeluk kemudi. Terbentur hebat. Darah mengalir dari telinganya, Ia tersenyum sambil terpejam.

Kini, dua jiwa itu tidak jenuh lagi.

*** 

Not allow to copy this post without permission.
Picture above is from google.

 

2 comments:

#Sufia

Sorbonne, Seoul, Saudi Arabia, SOON