Untuk yang aku rindu,
yang datangnya dalam enam bulan hanya sewaktu,
liburanku.
Hai, liburanku.
Mengapa kau tak pernah datang tepat waktu? Apa karena enam bulan sebelum kau datang, aku selalu asyik menyia - nyiakan waktu? Kalau itu sebabnya, aku mohon maaf. Tapi sungguh, untuk yang kali ini aku sangat mengharapkan kehadiranmu. Enam bulan berlalu dengan banyak energi dan emosi yang hanyut terbawa. Enam bulan berlalu dengan napasku yang agak terengah - engah dalam terseok - seoknya langkah. Enam bulan yang mengajariku jangan terlalu bergantung pada hari esok selagi kau bisa selesaikan urusanmu hari ini. Enam bulan yang membuatku makin merindukanmu, sungguh.
Liburanku, yang aku tunggu.
Ingatkah kau beberapa kenangan kita di tahun - tahun silam? Sejak aku kecil, aku sudah mengenalmu dan boleh saja dibilang, aku tumbuh dewasa bersamamu. Dengan tempat wisata yang kukunjungi bersamamu, dengan buku cerita dan komik yang kuhabiskan bersamamu, dan saat aku kuliah, kunikmati kehadiranmu dengan drama-marathon yang mengasyikkan. Kita hanya bertemu beberapa kali dalam setahun, tapi aku selalu menikmati kebersamaanku denganmu. Selalu.
Liburanku, yang aku rindu.
Kehadiranmu kali ini bukan hanya tak tepat waktu -karena kau telat seminggu- tapi juga tak kusadari. Iya, aku tak menyadarimu. Kewajibanku sebagai mahasiswi tingkat akhir menyita lumayan banyak waktu kebersamaan kita. Sesekali kau hadir diam - diam di sela - sela kewajibanku itu. Tapi tetap saja, aku tak bisa menikmatimu secara utuh. Dan kehadiranmu kali ini berlalu begitu saja. Seperti alur drama melankolis, kau berlalu bahkan sebelum aku sepenuhnya menyadari kau ada. Tiba - tiba saja hari ini sudah senin, aku sudah harus menemui catatan kuliah dan revisi, dan itu berarti aku harus melepas kepergianmu. Tentu saja, kulepas kau dengan berat hati.
Liburanku, yang kutunggu dan kurindu.
Enam bulan dari sekarang akan jauh lebih berat dari enam bulan lalu. Berbekal pertemuan kita yang singkat kemarin, aku akan berusaha menyelesaikan segala urusan enam bulan ini dengan baik dan sepenuh hati. Doakan aku, ya. Enam bulan yang akan datang, kubuat kau hadir tepat waktu dan singgah lebih lama. Enam bulan yang akan datang, kunikmati kau sesempurna yang aku bisa. Semoga bahagia menyelimuti kita.
Dariku,
yang senantiasa menantimu,
S.
yang datangnya dalam enam bulan hanya sewaktu,
liburanku.
Hai, liburanku.
Mengapa kau tak pernah datang tepat waktu? Apa karena enam bulan sebelum kau datang, aku selalu asyik menyia - nyiakan waktu? Kalau itu sebabnya, aku mohon maaf. Tapi sungguh, untuk yang kali ini aku sangat mengharapkan kehadiranmu. Enam bulan berlalu dengan banyak energi dan emosi yang hanyut terbawa. Enam bulan berlalu dengan napasku yang agak terengah - engah dalam terseok - seoknya langkah. Enam bulan yang mengajariku jangan terlalu bergantung pada hari esok selagi kau bisa selesaikan urusanmu hari ini. Enam bulan yang membuatku makin merindukanmu, sungguh.
Liburanku, yang aku tunggu.
Ingatkah kau beberapa kenangan kita di tahun - tahun silam? Sejak aku kecil, aku sudah mengenalmu dan boleh saja dibilang, aku tumbuh dewasa bersamamu. Dengan tempat wisata yang kukunjungi bersamamu, dengan buku cerita dan komik yang kuhabiskan bersamamu, dan saat aku kuliah, kunikmati kehadiranmu dengan drama-marathon yang mengasyikkan. Kita hanya bertemu beberapa kali dalam setahun, tapi aku selalu menikmati kebersamaanku denganmu. Selalu.
Liburanku, yang aku rindu.
Kehadiranmu kali ini bukan hanya tak tepat waktu -karena kau telat seminggu- tapi juga tak kusadari. Iya, aku tak menyadarimu. Kewajibanku sebagai mahasiswi tingkat akhir menyita lumayan banyak waktu kebersamaan kita. Sesekali kau hadir diam - diam di sela - sela kewajibanku itu. Tapi tetap saja, aku tak bisa menikmatimu secara utuh. Dan kehadiranmu kali ini berlalu begitu saja. Seperti alur drama melankolis, kau berlalu bahkan sebelum aku sepenuhnya menyadari kau ada. Tiba - tiba saja hari ini sudah senin, aku sudah harus menemui catatan kuliah dan revisi, dan itu berarti aku harus melepas kepergianmu. Tentu saja, kulepas kau dengan berat hati.
Liburanku, yang kutunggu dan kurindu.
Enam bulan dari sekarang akan jauh lebih berat dari enam bulan lalu. Berbekal pertemuan kita yang singkat kemarin, aku akan berusaha menyelesaikan segala urusan enam bulan ini dengan baik dan sepenuh hati. Doakan aku, ya. Enam bulan yang akan datang, kubuat kau hadir tepat waktu dan singgah lebih lama. Enam bulan yang akan datang, kunikmati kau sesempurna yang aku bisa. Semoga bahagia menyelimuti kita.
Dariku,
yang senantiasa menantimu,
S.
kamu tak setia pada liburan yang telah datang, jika kau terus begitu dia akan kecewa.
ReplyDeleteLiburan kemarin = liburan mendatang = liburan
DeleteMANA LIBURAAAAAN