Jun 18, 2011

Rindu merindu


Patah – patah kuikuti tiap gemeretak sepi melangkah
sebab alurku mendadak tanpa arah
jadi biar saja segala sunyi paksaku pasrah
lalui kepingan elegi yang buat batin jadi gerah

Kearah mana rindu kutuju ?
kepada siapa galau kuramu ?
kepada kamu ?
atau aku ?
atau ?
siapa aku ?
dan siapa kamu ?

Demi senja yang sinarnya selalu merona, aku rindu merindu
Ah, mana mungkin aku lupa rupa rindu, tuan

Mendekati setengah tahun semenjak luka membawa pergi rindu
Aku sempurna seorang diri tergugu
Tuhan, aku ingin kembali merindu

Bekasi, Juni 2011


Jun 11, 2011

Trauma


Dulu,
dulu yang tidak terlalu dulu
Kira – kira setahun lalu
Waktu aku masih lumayan lugu
Nurut sana sini tanpa ragu
Senyam senyum malu malu


               Aku pernah jadi keji
               Berhati tapi tak ada isi
               Dengan tega menyakiti hati seorang lelaki
               Lantas pergi dengan lelaki lain lagi

Lalu semenjak itu
Ia terpuruk dalam kelu
Sakit – sakitan karena pilu
Melamun melulu


                Ah, aku merasa bersalah


Semenjak itu pula aku trauma jadi jahat
Kapok buat orang lain hampir sekarat
Takut kena kualat


***


Kemudian detik mengulum masa
Bersamanya kurasa bahagia
Namun sayang dikata ia tak setia
Pergi tinggalkanku begitu saja


                Tak ingin berakhir secepat ini
                Kucari tahu apa sebabnya pindah ke lain hati
                Lalu betapa malangnya diri ini
                Katanya terlalu baik kupunya hati


Uh, ingin rasanya kubunuh.


                Tuhan, sekarang ini aku trauma jadi baik
                Lantas bagaimana ?


Jun 4, 2011

Bertemu Tuhan


Ada kalanya ketika benar - benar kesepian, aku ingin bertemu Tuhan.
Untuk sekedar minum teh bersama, misalnya.
Ah, bukan itu saja tentu.
Aku ingin bercerita, karna pasti orang - orang bosan mendengar tiap keluhan yang aku pamerkan di mana - mana.
Kau juga bosan, kan ?

Ada kalanya ketika benar - benar lelah melewati malam sendirian, aku ingin bersama Tuhan.
Barangkali Tuhan akan membacakan dongeng sebelum tidur, mungkin.
Ah, itu terlalu biasa.
Aku ingin berdiam bersama Tuhan satu malam penuh.
Itu saja, kah ?
Tentu tidak.
Aku ingin Tuhan menasihatiku sepanjang malam, hingga akhirnya aku terlelap di pelukanNya.
Bah, hamba macam apa aku ini ?

Ada kalanya ketika benar - benar galau di ujung gundah, di sela sepi, aku ingin bersenang - senang dengan Tuhan.
Sepertinya Tuhan akan mengajakku bermain teka - teki, benar kan ?
Ah, tapi itu kurang mengesankan.
Aku ingin Tuhan membawaku kemanapun kebahagiaan bertumpu,
Kebahagiaan yang aku rindukan sejak lama,
Kebahagiaan yang tak sekedar lekat di muka, tetapi abadi di jiwa.

Benar aku ingin bertemu Tuhan,
bukan di dasar neraka yang apinya menyala - nyala
atau di lembah surga yang embunnya manis tak terkira

Tapi di sini, malam ini.

Ada kalanya ketika benar - benar kesepian, Aku benar - benar ingin bertemu Tuhan.
Seperti malam ini.

Jangan marah ya, Tuhan. I love You.

May 19, 2011

MONOLOG (1) - terluka tapi tidak tercela

Wajah kusam, senyum sendu
Rupa masam, tatapan pilu
Apalagi?

Lagi? Apanya?

Merenung penuh ratap
Menangisi nasib
cih ! Lihat betapa mengenaskan rupamu

Biarkan aku menikmati tiap detik sayatan luka menganga
Biarkan aku bergelut dalam airmata
Biarkan, sebab kelak kan kudapati sendiri hikmahnya

Omong kosong dengan retorika, kawan
Kenyataannya apa?
Kau masih terpuruk tapi pura – pura tegar
Membusuk dibalik topengmu yang sesumbar

Tau apa kau perihal keterpurukan?
Kehilangan yang menjadi racun dalam tiap udara yang kau hela
KEHILANGAN
Sumpal mulutmu sebelum paham artinya

Aku paham luar kepala
Kehilangan itu maksudmu ketiadaan, benar?
Ketiadaan yang kau buat sendiri
cih ! Betapa sempit pikirmu, kawan

Untuk apa membuang waktu dengan membuat ketiadaan, hah?
Ialah kehilangan penyebab seolah semua tiada
seolah segala tak ada arti apa – apa

Lihat.
Kau yang berucap dengan lidahmu sendiri
Rasa kehilanganmu itu yang menciptakan segala luka
segala tiada yang dibuat – buat agar penghuni surga iba
Lekaslah malu, sebelum seisi dunia menertawakan kepedihanmu itu

Belum pernah kau temui cinta jelas kepalamu sekeras batu
Juga hatimu
Juga pikirmu
Atau jangan – jangan kau tak punya hati, hah?

Hey wanita sok tau !
Cinta adalah kebahagiaan, bukan luka seperti yang kau agungkan
Bila cinta pada akhirnya berujung pada perpisahan
Maka hanya dengan melepaskan, cinta akan tetap bersemayam kekal, penuh kehormatan

Ah, tua sekali segala ucapmu !
Lihat dirimu sendiri
iya, SENDIRI
Tidakkah kau bosan berkutat dengan semua retorika kehidupan?
Petuah – petuah basi yang kau bilang kalimat bijak
Kedewasaan yang dieluh – eluhkan semua orang
Padahal jauh di lubuk sana, kau RAPUH
Menasihati orang membuatmu dapat menyingkirkan gelisah, kan?

Setidaknya itu lebih baik tinimbang berpura – pura bahagia
Setidaknya dengan menasihati orang lain aku telah menasihati diriku sendiri
Setidaknya aku bukan kamu

Apa kau bilang?
Aku bukan kamu?
BODOH
Sudah jelas kita hidup berlekatan
Dalam raga yang serupa
Itu jelas berarti aku dan kamu adalah kamu dan aku

(diam)

Diam berarti iya, kan?
HAHA

(tetap diam)

Ternyata kau sepecundang itu, ya
Belagak tau segala hal
Padahal seperti yang kubilang, RAPUH

Sesaat tadi aku berpikir betapa bodohnya kau
Dan betapa dungunya aku
Betapa munafiknya kau
Dan betapa idiotnya aku
Beginilah, sebab aku adalah kamu dan kamu adalah aku

Jadi intinya, aku masih boleh mencintainya atau tidak?

Dalam hal ini jelas kau memang paling bodoh
Sudah jelas sedari tadi kita tidak membahas itu

Boleh atau tidak?

Dia sudah punya yang baru
Lepaskan ia, lalu berbahagia
Relakan saja, lantas bersuka cita

Jawab sajalah, iya atau tidak?

Tidak ada yang perlu dijawab sebab kau jelas sudah tau jawabannya

Jawabku iya, itu jugakah jawabmu?

BODOH
Lalu apa bedanya kau dengan wanita itu bila kau masih berani mencintainya, hah?

Why not?

Cause there isn’t yes anymore, dude.

***

dua tiga lima bilangan prima
lantas sepuluh seratus seribu hakikatnya dua angka saja
sudah kelu hati juga pikir berucap 'iya'
disakiti diam saja, kini letih temui jera

jatuh bangun atlet lari jarak jauh
tak kalah berpeluh atlet panahan
sungguh pilu seakan berjumpa teluh
jangan sekali - kali jatuh cinta bila tak ingin terluka, kawan.

***

SUFIA, Mei 2011
ketika jiwa - jiwa nakal berkelahi di dalam pikiran sempit penuh sesak


Apr 28, 2011

Senja di Bira dalam Barisan Ode



- senja di pesisir pulau bira besar, 23 April 2011. diiringi lagu Padi - Ode

--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Semua cerita tentangmu
Yang masih tersimpan di dalam benakku
Meresap dijiwaku
Memenuhi ruang hatiku

Lantunan nada baku hantam dengan tamparan angin, mengibarkan helaian kain kudung ke segala arah, syairnya menggelitik jiwa berbaur resah.

Seperti cahaya mentari kau hadir
Terangi hidupku, terangi jalanku
Menuntunku memaknai semua yang ada
 


Kembali terbayang, kembali menerawang. Kudapat satu bayangan, cukup satu saja. Kemudian kembali sesak, namun batin lelah terisak.

Dan aku takkan melupakan semua yang indah
Yang pernah engkau ucapkan


Aku kalah, membatin mengucap gundah. Apa salahnya mengalah? 


Meski kau telah berlalu
Tak lagi di sisi, namun cintamu akan tetap hidup
Tak terhapuskan, tak tergilas oleh waktu

Jelas sekali senja itu kita beda pulau, tapi suaramu tak samar membungkam segalanya. Kita beda pulau, tapi suaramu jelas sekali menggelitik manja di telinga, JELAS.


Dan aku takkan melupakan semua yang indah
Yang pernah engkau berikan
 

Kembali bercengkrama, kembali berpura-pura tertawa, kembali bermuka ganda, kembali bicara dalam pangkuan nada ceria, dan pelan-pelan kembali terluka



Cintaku tak henti mengalir untukmu
Mengenalmu adalah hal terindah yang pernah aku alami
 

Sesaat lagi surya kembali pada peristirahatannya, sesaat lagi senja menyuguhkan lembayungnya yang istimewa, sesaat lagi. Iya, sesaat lagi suaramu berakhir. Ah, mengapa tak Kau hentikan waktu pada saat itu saja, Tuhan


aku takkan melupakan segala yang terindah
Yang hadir dalam hidupku
Setiap kata kan terukir di hati
Semoga damai selalu bersamamu

Hey, lekaslah segera pergi dari pikirku. Aku cuma mau sebahagia kamu, itu saja.



#Sufia

Sorbonne, Seoul, Saudi Arabia, SOON