Dec 10, 2011

Sorak - Sorai Segitiga


     Wanita itu mengernyitkan dahi, untuk kali yang ke enam belas dalam dua puluh menit terakhir. Terlalu banyak pikir membuat banyak kerut – kerut kecil di pelipisnya mendadak menjadi garis penghias wajahnya yang berpeluh, keletihan. Sorak – sorai makin ramai di sekitarnya. Sorak yang penuh nada menyentil hati, menyinggung perasaan. Sorai yang membuat lidah kaku terkunci grogi. 

      Wanita itu kembali mengernyitkan dahi –kini genap yang ke tujuh belas kali– sembari memainkan pena di jemari kanannya. Mengetukkan berkali – kali pena tersebut ke meja di hadapannya. Resahnya sudah tak terkira, tak terhitung jumlahnya meletup – letup dalam dada. Mulutnya masih terkunci di tengah – tengah kerusuhan sorak – sorai yang seolah mengepungnya. Sorak yang tak ingin Ia dengar barang sekalipun, sorai yang sebenarnya tak ingin Ia pedulikan.
 
***

     Kalau dua puluh menit pertama sorak – sorai yang mengganggu pikir itu hanya berupa ledekan dan godaan tak penting –sebenarnya– tetapi dalam dua puluh menit berikutnya keramaian berubah menjadi lebih rusuh, lebih berisik, lebih menyentil – nyentil hati. Ah! Wanita itu benar – benar geram. Lantas mengapa Ia tak beranjak saja dari tempat itu, lantas mengapa Ia masih betah duduk di antara rusuh – kisruh yang membuat Ia seolah ingin misuh – misuh ?

     Seolah ingin meledak dalam hitungan detik ke tiga puluh, pertahanan batinnya benar – benar merapuh, lambat laun. Kalau runtuh sudah batinnya, bisa jadi Ia menangis, atau setidaknya menitikkan satu – dua tetes air mata. Tapi dalam kondisi segenting inipun, Ia masih belagak kuat dan seolah tidak ada apa – apa ataupun tidak terjadi apa – apa.
 
     Ada bagian dalam hatinya yang menahan bulir airmatanya jatuh, setidaknya untuk saat ini. Hanya berupa sebuah pertanyaan sederhana, Sorak sorai itu jelas bukan untuk dirinya, lantas mengapa Ia teramat sangat gerah mendengarnya? Entahlah. Seharusnya bukan entah, tapi entah.

***

     Wanita itu kini melempar pandangnya jauh ke depan, jauh melesat masuk ke dalam kerumunan sorak, gerombolan sorai. Matanya yang hanya berupa sekali tatap, kemudian mulai mencari sebuah sosok. Ah, tidak. Dua buah sosok. Ah, tidak juga. Dua orang sosok.

     Sosok pertama mudah sekali Ia temukan. Seorang wanita yang tentu seusia dengannya. Mukanya –sosok pertama itu– sempurna bersemu merah dalam sekiranya satu jam terakhir, atau bahkan dari mulai sorak – sorai itu sahut – sahutan. Sesekali Ia bertingkah begini begitu, mungkin terlampau malu, atau senang? Lagi – lagi entah.

     Sedikit lebih sulit ketika mencari sosok kedua. Wanita itu kemudian memutar arah pandang. Ke arah yang berlawanan dari sosok pertama. Nihil. Kemudian melayangkan pandang ke sudut – sudut ruangan. Tidak ada juga. Dimanakah sosok kedua? Padahal jelas dialah sebab sorak – sorai ini mengudara. Ah, entah.

     Lalu dilanjutkan kesibukannya dalam satu jam terakhir, memainkan pena, memukul – mukulnya manja ke meja. Sementara kegaduhan di sekitar belum juga lelah, ah. 

     Seketika wanita itu terkejut, sosok kedua yang Ia cari ternyata –mungkin– dalam beberapa menit terakhir berdiam di sebelahnya. Laki – laki tampan yang rautnya sangat bersahabat. Menekan – nekan tombol handphone. Entah sedang berkirim pesan singkat, entah sedang bermain game, entah sebenarnya basa – basi saja, entah. Lagi – lagi entah. 

     Sekali – dua kali sosok kedua di sebelahnya tersenyum menimpali kekisruhan di sekitar –yang memang sebenarnya ditujukan kepadanya dan sosok pertama– tetapi lebih banyak tidak memedulikan.Wanita itu kemudian membuka mulut –pertama kalinya dalam satu jam terkahir– memulai pembicaraan. 

     Tidak sulit bagi wanita itu untuk mengajak bicara, terlebih dengan laki – laki di sebelahnya itu. Mereka memang dekat, orang – orang menyebut mereka bersahabat. 

     Sorak – sorai di sekitar sudah menemui titik lelah, sebab sosok pertama –entah sejak kapan– menghilang dari sana. Setidaknya perasaannya kini sudah sedikit lega. Cenderung menuju bahagia.

     Pembicaraan – pembicaraan sederhana yang sudah sangat biasa Ia lakukan dengan sosok kedua. Guyonan ringan yang membuat tawa berduyun – duyun datang. Sangat menyenangkan, sangat membahagiakan. 
     
     Ia sangat menikmati suasana seperti ini. Saat canda dan tawa memang seolah diciptakan untuk membuat mereka berdua bahagia. Saat kebahagiaan itu memberi warna tersenderi dalam dada. Saat Ia benar – benar ingin waktu berhenti saat itu juga. 

     Pernah sekali waktu saat Ia dan sosok kedua bercengkrama, saling melempar kekonyolan – kekonyolan remaja, sosok kedua secara tiba – tiba melempar kalimat sederhana yang sebenarnya biasa saja. Tetapi entah. 

     “Gue selalu kepingin ketawa ya kalo sama elo, bahagia mulu bawaannya,” 

     Kalimat yang meluncur begitu saja dari sosok kedua. Wanita itu memang hanya tertawa ringan, tetapi andai saja bisa, saat itu juga Ia akan guling – guling atau paling tidak lompat – lompat di sana. 

     Kejadian itu sudah lama berlangsung. Mungkin saat ini lelaki di sebelahnya itu sudah lupa bilamana pernah mengatakan hal tersebut. Entahlah.
 
*** 

     Cinta dan persahabatan, dua hal yang nyaris serupa, tapi apakah bisa berjalan berdampingan? Apakah cinta yang bermula dari persahabatan akan menemui keabadian di suatu tempat, kelak? Atau malah kehancuran yang menyakitkan? Entah. 

     Wanita itu mengernyitkan dahi –selalu setiap saat Ia memikirkan perihal cinta dan persahabatan– di selipan obrolannya dengan sosok kedua, sahabat yang dicintainya. Sementara lelaki itu masih asyik dengan guyonan – guyonan yang terkadang lucu, terkadang tidak. 

     Kemudian entah kenapa Ia teringat sorak – sorai yang sudah lima belas menit tidak terdengar. Ledekan – ledekan itu. Sorak yang membuat Ia cemburu, sorai yang membuat Ia mati kutu. 

     Sorak – sorai yang mencie-ciekan sosok pertama dan sosok kedua. Penyebabnya karena sosok pertama secara tidak langsung dan tidak sengaja melontarkan kalimat yang memancing sorak dan sorai itu. Dan jadilah seperti tadi. 

     Tetapi selalu seperti ini yang wanita itu alami. Usai geram dalam hati karena kebisingan yang membuat telinga dan hatinya panas –karena cemburu–, sosok kedua selalu berada di sebelahnya untuk kemudian membuatnya bahagia, lalu tenang. 

     Tiada risau, tiada resah. Sorak tiada, begitu pula sorai yang tadi membahana. Wanita itu sempurna tersipu, sempurna malu – malu. Wanita itu, aku.
 
Bekasi, Desember 2011


Dec 7, 2011

dan, tiga?

gambar dari sini


dan lelah
ketika malam lalu siang dan siang kemudian malam, begitu terus, dan terus berulang
ketika padam lalu terang dan kembali padam, biasanya seperti itu, seperti itu selalu
    kemudian tiba dimana hati lagi - lagi membuka pintunya yang rapuh
           jauh lebih rapuh tinimbang bongkahan kayu reyot yang hampir lapuk, belum busuk
    dan hadirlah yang memang sudah seharusnya hadir, datang yang memang pasti datang
    lalu sedikit gundah, gulana sebab hilang tenang
    dan resah, risau karena sedikit bimbang

dan jatuh
selayaknya hujan, cinta tak pernah tahu arah tujuan. mungkin sedikit buta. atau memang sengaja dicipta seperti itu. biar yang terjadi menjadi lebih alami.
bergerak mendayu serupa angin, yang sepoi tak terkira kesejukannya. lalu terlena, persis seperti itu.

dan lelah (lagi)
lelah dibuai dan dibual. padahal membual adalah kelakuan nakal yang paling mudah dilakukan. tapi membuai?

dan aku
tetap seperti ini. belagak sedang tidak terjadi apa - apa
pura - pura begini dan begitu. seperti ini lalu seperti itu. tiba - tiba galau

dan kamu
lagi - lagi kenapa? kenapa kamu? dan kenapa sekarang? dan kenapa begini ? dan kenapa begitu?
kenapa kamu tertawa? kamu gila? atau? atau apa? aku yang gila? aku badut? kenapa? kenapa? kenapa?
kenapa?
   
              kenapa?
       
                               kenapa?

dan dia
kenapa jadi ada dia? berarti tiga? berarti segitiga? lalu? apanya yang lalu? ini belum berlalu!

teman, kan?

                   siapa?

kita bertiga, kan?

dan ini, juga dan itu

terlalu banyak dan, terlalu banyak pilihan

ah, hidup memang pilihan, bukan?

pilih satu dari dua, atau tidak keduanya.

salam, S


Dec 6, 2011

do (not)


witing trisno jalaran soko kulino

Awalnya selalu bersama, kemudian menjadi ingin selalu bersama.
Ingin ini lantas ingin itu
Mau begini dan mau begitu

      Tidak ingin tapi dalam hati kepingin
      Tak mau padahal beneran mau

Dibilang cinta, masa iya
Cuma suka, ah masa iya

***

Seandainya bisa memilih, seandainya.
Tapi cinta memang dicipta buta arah.

***

Kodrat wanita memang menunggu,
tapi perkara hati, mengapa cinta tidak bisa menunggu untuk jatuh di saat yang tepat ?

***

ah! kenapa harus kamu?

***

salam, S.


Nov 30, 2011

Ketika baik - jahat (ternyata) relatif



Malam, pemirsa !
Saya sedang tidak dalam kondisi hati dan pikiran yang baik. Kebetulan yang mau saya ceritakan malam ini juga ada kaitannya tentang hal tersebut.
Tapi tenang, saya yang sekarang sedikit berbeda dengan saya ketika awal mula blog ini lahir. Dulu, saya sulit sekali mengontrol emosi di dunia maya. Kesel sedikit berkoar - koar di jejaring sosial, misuh sana - sini. Kalo sekarang, saya cukup berbagi hikmah yang saya dapat dari serangkaian masalah - masalah tersebut.

***
Naif - terlalu naif

Saya punya kekurangan, semua orang punya kekurangan. Saya sadar bahwasanya kekurangan saya lebih banyak dari kelebihan saya jikalau memang ada. Satu dari sekian banyak kekurangan saya adalah saya yang terlalu naif.
Saya selalu menganggap bahwa tidak ada orang jahat di dunia ini, dan saya selalu percaya bila semua orang pada dasarnya baik. sangat naif, bukan?

Kemudian ketika nyatanya sekelompok orang yang saya anggap baik ini melukai hati saya, jatuhlah saya.

Positif - selalu positif

Kelemahan saya yang satu ini sebenarnya bukan kelemahan jikalau masih dalam batas kewajaran. Hanya saja, saya memang lebih dan berlebihan.
Ada hubungannya dengan kenaifan saya yang luar biasa, saya selalu berpikir sisi baik dari setiap hal yang membuat saya sakit hati atau terluka atau sakit jiwa. Misalnya, ketika saya dibohongi, saya anggap bahwa mungkin saja orang yang membohongi saya itu tidak secara sengaja melakukannya. Mungkin sifat ini baik, seharusnya. 

Menjadi agak sedikit tidak baik ketika saya selalu menilai positif orang lain tapi menilai negatif diri sendiri. Dalam hal ini berarti saya selalu menganggap diri saya salah, meski secara nalar dan logika tidak demikian.

Relativitas baik dan jahat

Manusia tidak mungkin hidup sendiri, itu mutlak. Tetapi dengan siapa ia hidup dan atau melalui kehidupannya barulah tidak mutlak. Kemudian kita mengenal ada orang baik, ada orang jahat. Saya yang sedikit terlambat dalam memahami baik - jahat nya orang lain dikarenakan sifat naif - positif saya tadi, masih saja sedikit canggung dengan baik - jahat seseorang.
Lalu saya berpikir bahwa baik - jahat itu relatif. Seseorang dikatakan baik oleh suatu kelompok ketika mereka memiliki kesamaan visi dalam menanggapi sebuah problema. Sebaliknya, orang - orang yang kontra akan dikatakan jahat.

Contoh, seorang pencuri jelas dikatakan jahat oleh korban, tapi keadaannya menjadi berubah ketika ternyata pencuri ini adalah lelaki paruh baya yang memliki anak asuh sangat banyak dengan keadaan ekonomi yang sulit. Ketika sang pencuri pulang ke rumah membawa rezeki berupa makanan yang cukup untuk makan seluruh anggota keluarga, maka tentu pencuri ini adalah malaikat bagi anak - anak malang tersebut.

Ini contohnya keribetan haha tapi saya bingung nyari contoh haha -__-"
Selanjutnya timbul pertanyaan besar " Saya ini baik atau tidak ?  "

Ini yang mengganjal. Karena ada satu dan lain hal saya sedang terjebak dalam suatu keadaan dimana seolah saya bersalah, padahal angin pun tau saya tidak salah. ngek!

Entahlah, saya bukan tipikal orang yang hobi mengoleksi musuh atau sejenisnya. Tapi kalau ada satu - dua orang yang menilai saya kurang baik ya silahkan. toh pada akhirnya, hati kita bisa menilai mana yang baik dan mana yang tidak.

Salam, S.


Nov 26, 2011

Mengingat dan diingat

gambar dari sini

Halo halo haaaay. Kabar baik kan? Alhamdulillah.
Kabar saya baik, tapi sedang sedikit gundah gulana cemas tak terkira. apeuh. iya jadi ada sesuatu yang mengganjal hati dan pikiran. tapi tenang, postingan kali ini bukan ngebahas tentang kegalauan hati saya kok.


Ingat dan ingatan

Manusia ialah makhluk istimewa yang diberikan kemampuan untuk mengingat benar - benar menggunakan pikiran nya, tidak seperti binatang yang hanya dengan insting atau kebiasaan - kebiasaan yang ada. IMO, ingatan itu ada dua jenis menurut sifatnya, ingatan sengaja dan ingatan tidak disengaja. ( ih, berasa pakar ingatan gak sih ini orang? -___- ) Jadi ingatan sengaja adalah ingatan yang memang sengaja ditanam dalam pikiran karena alasan - alasan tertentu. Misalnya, kita mengingat rumus matematika karena besok ulangan matematika ataupun hal - hal semacam itu. Sedangkan ingatan tidak sengaja timbul karena pengulangan yang rutin atau terlalu seringnya sesuatu hal berkutat di sekitar kita. apasih? Gini, contohnya kita inget nomer hape sahabat atau pacar karena terlalu seringnya kita smsan atau telfonan sama orang tersebut.

Sebenernya banyak pembagian ingatan yang lain, tapi berhubung saya bukan pakar ingatan atau semacamnya dan juga postingan kali ini saya bukan mau ngomongin ini jadi yaaaa langsung kepada topik.


Mengingat - ingat

Saya adalah tipe orang yang mudah lupa atau pelupa untuk hal - hal yang tidak terlalu penting. Tapi untuk sesuatu yang penting atau berkesan, saya akan mengingat - ingatnya terus dan sulit lupa.
Saya masih ingat kenakalan - kenakalan saya saat masa kecil ( ciyeeee pernah kecil ), saya ingat nama lengkap sahabat - sahabat saya, saya ingat siapa cinta monyet saya, saya ingat semua tanggal lahir keluarga besar saya, saya ingat tanggal jadian dan putus saya, dan seterusnya.


Sampai sekarang, saya masih sering mengingat hal - hal yang seharusnya tidak perlu diingat lagi. Saya masih ingat dengan jelas bagaimana mantan saya menyatakan cinta, atau saat dia dengan sabarnya nemenin saya 14 jam buat daftar kuliah, atau saat dia nemenin saya belajar sampe ketiduran dan lain - lain. Hal - hal seperti ini yang sebenarnya tidak ingin saya ingat - ingat lagi. for sure.


Saat ini saya sedang membuka hati untuk seseorang, yang mengingat perkataan saya bahkan yang tidak terlalu penting sekalipun. seseorang yang senantiasa tiada henti membuat saya tertawa. oke oke, postingan ini juga bukan buat ngomongin yang bersangkutan, back to the topic!


Yang jelas adalah, mengingat - ingat sesuatu yang seharusnya tidak perlu lagi diingat benar - benar tiada guna. zz


Diingat - ingat

Nah, sebenernya inti postingan ada di sini. huehehehe.
Sekitar tiga hari lalu saya mendapatkan kenyataan yang membuat saya malu dan merasa bersalah.
Bermula dari saya, yang beberapa waktu lalu menjadi tutor di desa binaan. Berbagi ceria dan cerita dengan anak - anak bermata malaikat. Mencurahkan semua kasih yang saya punya. Begitulah, saya luar biasa menikmati masa - masa itu.
Kemudian beberapa waktu belakangan ini, saya sedang dalam masa perbaikan nilai akademik dan berhubung sudah ada pergantian masa tutor jadi saya jarang main - main ke DB lagi.
Tapi tiga hari yang lalu, ketika saya sedang menunggu angkutan umum di gerbang depan kampus, anak - anak saya (baca: anak DB yang saya pegang) berjalan pulang usai DB. dan mereka menyapa saya dengan sumringah. mereka masih ingat saya! benar - benar tidak lupa!
jujur sepenuh hati saya terharu.


Di sinilah saya sadar, bahwa disadari atau tidak, banyak orang di sekitar kita yang selalu meningat kita karena mungkin keberadaan kita memiliki arti bagi mereka. Dan saya juga sadar bahwa, ialah salah bila mengingat yang bahkan sekalipun tidak pernah mengingat kita dan tidak mengingat yang senantiasa mengingat kita.


Salam, S.




#Sufia

Sorbonne, Seoul, Saudi Arabia, SOON