Wanita itu mengernyitkan dahi, untuk kali yang ke enam belas dalam dua puluh menit terakhir. Terlalu banyak pikir membuat banyak kerut – kerut kecil di pelipisnya mendadak menjadi garis penghias wajahnya yang berpeluh, keletihan. Sorak – sorai makin ramai di sekitarnya. Sorak yang penuh nada menyentil hati, menyinggung perasaan. Sorai yang membuat lidah kaku terkunci grogi.
Wanita itu kembali mengernyitkan dahi –kini genap yang ke tujuh belas kali– sembari memainkan pena di jemari kanannya. Mengetukkan berkali – kali pena tersebut ke meja di hadapannya. Resahnya sudah tak terkira, tak terhitung jumlahnya meletup – letup dalam dada. Mulutnya masih terkunci di tengah – tengah kerusuhan sorak – sorai yang seolah mengepungnya. Sorak yang tak ingin Ia dengar barang sekalipun, sorai yang sebenarnya tak ingin Ia pedulikan.
***
Kalau dua puluh menit pertama sorak – sorai yang mengganggu pikir itu hanya berupa ledekan dan godaan tak penting –sebenarnya– tetapi dalam dua puluh menit berikutnya keramaian berubah menjadi lebih rusuh, lebih berisik, lebih menyentil – nyentil hati. Ah! Wanita itu benar – benar geram. Lantas mengapa Ia tak beranjak saja dari tempat itu, lantas mengapa Ia masih betah duduk di antara rusuh – kisruh yang membuat Ia seolah ingin misuh – misuh ?
Seolah ingin meledak dalam hitungan detik ke tiga puluh, pertahanan batinnya benar – benar merapuh, lambat laun. Kalau runtuh sudah batinnya, bisa jadi Ia menangis, atau setidaknya menitikkan satu – dua tetes air mata. Tapi dalam kondisi segenting inipun, Ia masih belagak kuat dan seolah tidak ada apa – apa ataupun tidak terjadi apa – apa.
Ada bagian dalam hatinya yang menahan bulir airmatanya jatuh, setidaknya untuk saat ini. Hanya berupa sebuah pertanyaan sederhana, Sorak sorai itu jelas bukan untuk dirinya, lantas mengapa Ia teramat sangat gerah mendengarnya? Entahlah. Seharusnya bukan entah, tapi entah.
***
Wanita itu kini melempar pandangnya jauh ke depan, jauh melesat masuk ke dalam kerumunan sorak, gerombolan sorai. Matanya yang hanya berupa sekali tatap, kemudian mulai mencari sebuah sosok. Ah, tidak. Dua buah sosok. Ah, tidak juga. Dua orang sosok.
Sosok pertama mudah sekali Ia temukan. Seorang wanita yang tentu seusia dengannya. Mukanya –sosok pertama itu– sempurna bersemu merah dalam sekiranya satu jam terakhir, atau bahkan dari mulai sorak – sorai itu sahut – sahutan. Sesekali Ia bertingkah begini begitu, mungkin terlampau malu, atau senang? Lagi – lagi entah.
Sedikit lebih sulit ketika mencari sosok kedua. Wanita itu kemudian memutar arah pandang. Ke arah yang berlawanan dari sosok pertama. Nihil. Kemudian melayangkan pandang ke sudut – sudut ruangan. Tidak ada juga. Dimanakah sosok kedua? Padahal jelas dialah sebab sorak – sorai ini mengudara. Ah, entah.
Lalu dilanjutkan kesibukannya dalam satu jam terakhir, memainkan pena, memukul – mukulnya manja ke meja. Sementara kegaduhan di sekitar belum juga lelah, ah.
Seketika wanita itu terkejut, sosok kedua yang Ia cari ternyata –mungkin– dalam beberapa menit terakhir berdiam di sebelahnya. Laki – laki tampan yang rautnya sangat bersahabat. Menekan – nekan tombol handphone. Entah sedang berkirim pesan singkat, entah sedang bermain game, entah sebenarnya basa – basi saja, entah. Lagi – lagi entah.
Sekali – dua kali sosok kedua di sebelahnya tersenyum menimpali kekisruhan di sekitar –yang memang sebenarnya ditujukan kepadanya dan sosok pertama– tetapi lebih banyak tidak memedulikan.Wanita itu kemudian membuka mulut –pertama kalinya dalam satu jam terkahir– memulai pembicaraan.
Tidak sulit bagi wanita itu untuk mengajak bicara, terlebih dengan laki – laki di sebelahnya itu. Mereka memang dekat, orang – orang menyebut mereka bersahabat.
Sorak – sorai di sekitar sudah menemui titik lelah, sebab sosok pertama –entah sejak kapan– menghilang dari sana. Setidaknya perasaannya kini sudah sedikit lega. Cenderung menuju bahagia.
Pembicaraan – pembicaraan sederhana yang sudah sangat biasa Ia lakukan dengan sosok kedua. Guyonan ringan yang membuat tawa berduyun – duyun datang. Sangat menyenangkan, sangat membahagiakan.
Ia sangat menikmati suasana seperti ini. Saat canda dan tawa memang seolah diciptakan untuk membuat mereka berdua bahagia. Saat kebahagiaan itu memberi warna tersenderi dalam dada. Saat Ia benar – benar ingin waktu berhenti saat itu juga.
Pernah sekali waktu saat Ia dan sosok kedua bercengkrama, saling melempar kekonyolan – kekonyolan remaja, sosok kedua secara tiba – tiba melempar kalimat sederhana yang sebenarnya biasa saja. Tetapi entah.
“Gue selalu kepingin ketawa ya kalo sama elo, bahagia mulu bawaannya,”
Kalimat yang meluncur begitu saja dari sosok kedua. Wanita itu memang hanya tertawa ringan, tetapi andai saja bisa, saat itu juga Ia akan guling – guling atau paling tidak lompat – lompat di sana.
Kejadian itu sudah lama berlangsung. Mungkin saat ini lelaki di sebelahnya itu sudah lupa bilamana pernah mengatakan hal tersebut. Entahlah.
***
Cinta dan persahabatan, dua hal yang nyaris serupa, tapi apakah bisa berjalan berdampingan? Apakah cinta yang bermula dari persahabatan akan menemui keabadian di suatu tempat, kelak? Atau malah kehancuran yang menyakitkan? Entah.
Wanita itu mengernyitkan dahi –selalu setiap saat Ia memikirkan perihal cinta dan persahabatan– di selipan obrolannya dengan sosok kedua, sahabat yang dicintainya. Sementara lelaki itu masih asyik dengan guyonan – guyonan yang terkadang lucu, terkadang tidak.
Kemudian entah kenapa Ia teringat sorak – sorai yang sudah lima belas menit tidak terdengar. Ledekan – ledekan itu. Sorak yang membuat Ia cemburu, sorai yang membuat Ia mati kutu.
Sorak – sorai yang mencie-ciekan sosok pertama dan sosok kedua. Penyebabnya karena sosok pertama secara tidak langsung dan tidak sengaja melontarkan kalimat yang memancing sorak dan sorai itu. Dan jadilah seperti tadi.
Tetapi selalu seperti ini yang wanita itu alami. Usai geram dalam hati karena kebisingan yang membuat telinga dan hatinya panas –karena cemburu–, sosok kedua selalu berada di sebelahnya untuk kemudian membuatnya bahagia, lalu tenang.
Tiada risau, tiada resah. Sorak tiada, begitu pula sorai yang tadi membahana. Wanita itu sempurna tersipu, sempurna malu – malu. Wanita itu, aku.
Bekasi, Desember 2011


