Dec 19, 2013
Dec 18, 2013
Batas, yang akan selalu ada.
Ada aturan yang menghidupiku duapuluh tahun terakhir -yang kusebut batas-karena sesuai namanya-memang membatasiku-
Pada awalnya aku terganggu, namun tidak lagi.
Aku nyaman dibatasi.
Sebab itu membuatku merasa istimewa.
Meski tak sekali aku kehilangan mereka-yang-ku-anggap-istimewa karena mereka-yang-ku-anggap-istimewa ini tak mampu menembus batasku atau paling tidak, tak sabar berjalan bersamaku dengan batas yang akan selalu ada itu.
***
Setelahnya aku sadar,
akan ada yang-lebih-istimewa dari mereka-yang-pernah-ku-anggap-istimewa yang kelak menikmatiku dengan semua batas yang akan selalu ada.
Aku tidak tau kapan yang-lebih-istimewa ini datang, tapi aku tau Ia pasti datang.
Tuhanku menjaminnya.
***
Desember yang ke 18, saat aku secara tiba - tiba merindukan yang-lebih-istimewa.
Pada awalnya aku terganggu, namun tidak lagi.
Aku nyaman dibatasi.
Sebab itu membuatku merasa istimewa.
Meski tak sekali aku kehilangan mereka-yang-ku-anggap-istimewa karena mereka-yang-ku-anggap-istimewa ini tak mampu menembus batasku atau paling tidak, tak sabar berjalan bersamaku dengan batas yang akan selalu ada itu.
***
Setelahnya aku sadar,
akan ada yang-lebih-istimewa dari mereka-yang-pernah-ku-anggap-istimewa yang kelak menikmatiku dengan semua batas yang akan selalu ada.
Aku tidak tau kapan yang-lebih-istimewa ini datang, tapi aku tau Ia pasti datang.
Tuhanku menjaminnya.
***
Desember yang ke 18, saat aku secara tiba - tiba merindukan yang-lebih-istimewa.
Dec 5, 2013
Batas
Ada batas yang seringkali tersembunyi
di balik kesediaan menanti
Yang dicipta waktu
yang dijaga kelu
Sengaja kuabaikan, batas itu
***
Ada batas yang seringkali tersembunyi
di balik kesediaan menanti
Yang begitu nyata
Jelas adanya
Sengaja kuabaikan, batas itu
***
Hai,
apa kabar, kamu?
saved as draft.
di balik kesediaan menanti
Yang dicipta waktu
yang dijaga kelu
Sengaja kuabaikan, batas itu
***
Ada batas yang seringkali tersembunyi
di balik kesediaan menanti
Yang begitu nyata
Jelas adanya
Sengaja kuabaikan, batas itu
***
Hai,
apa kabar, kamu?
saved as draft.
Oct 14, 2013
Gagal Move On dari #KerjaBakti
Malam.
Saya niat ngepost ini udah dari seminggu lalu. Cuman ya gagal melulu.
Malam ini diiringi gemuruh takbir dan perasaan yang belum bisa move on, akhirnya saya tulis sekarang!
Eitsss, tenang kaliiii kak. Gagal move on dari apa nih?
***
Gak bakal bisa berhenti!
Temen temen pasti tau lah ya Gerakan Indonesia Mengajar? google-ing aja kalo belom tau.
Gerakan yang markasnya di Jalan Galuh dua nomer empat ini mengajarkan saya banyak hal. Banyak sekali.
April tahun ini saya ikut - ikutan jadi panitia di acara #PackYourSpirit yang diadain sama Indonesia Menyala (Gerakan Perpustakaan Indonesia Mengajar). Sendirian. Kayak anak ilang.
Waktu rapat perdana beneran kayak anak ilang. Sampe di sana kaget. Loh? ini kok kakak kakak semua, ya? Saya terus terang nyari anak kuliahan juga. Dan nemu! lima orang......
Di rapat perdana itu dapet banyak cerita dan motivasi. Satu kalimat yang akan selalu saya ingat adalah yang diucapkan oleh Bu Evi,
***
#KerjaBakti Lebih Awal
Karena pernah ikutan #PackYourSpirit itu, akhirnya sekitar dua bulan lalu dapet email ajakan #KerjaBakti lebih awal. Apaan nih?
Jadi ternyata, GIM mau ngadain festival pendidikan. Tapi gak kayak festival lain yang cuma nonton sekadarnya, di sini relawan yang dateng bakal #KerjaBakti bareng bikin media belajar yang langsung dikirim ke 126 SD penempatan pengajar muda.
Ah gila! Gokil banget ini acara! Ngegerakin orang buat capek capek bikin media? Serius loooooo?
Saya semangat. Semangat sekali. Mungkin karena kakak - kakak pengajar muda menularkan semangat ini kepada siapapun. Setidaknya mahasiswa macam saya dengan mudahnya tertular.
Saya ikut.
Dengan hati yang berdebar - debar saking semangatnya.
***
Ini Beneran Kerja Bakti
Saya berangkat dari rumah menuju Gedung Kwarnas buat kumpul perdana dengan semangat yang hampir tumpah kemana - mana. Dan begitu sampe di sana. Pecah. Tumpah semua. Sekitar dua ratus orang ada di sana. Yang tidak saya kenal. Yang rata - rata sudah bekerja mapan.
Wow.
Ini pasti bakal seru banget.
Dan bener.
Begitu hari - H. Relawan panitia bertambah lebih banyak, karena ajakan yang bersambut semangat.
5 - 6 Oktober, Ecovention Hall di Ancol jadi saksi ribuan orang kerjabakti. Beneran #KerjaBakti !!! Anak - anak, nenek - nenek, remaja, artis, dokter, segala profesi, ikutan. Ada yang capek gunting - gunting bikin puzzle, nulis info di kartu bergambar, bikin peraga sains, kemas - kemas buku pelajaran, nyanyi lagu anak, sharing profesi, ngedongeng, ah! GOKIL ABIS.
RIBUAN ORANG BIKIN MEDIA BELAJAR BUAT ANAK INDONESIA YANG ADA DI PELOSOK.
RIBUAN ORANG PERCAYA INDONESIA PUNYA MASA DEPAN CEMERLANG DI BALIK SEMANGAT ANAK - ANAKNYA.
Semangat saya buncah banget. Euforianya masih terasa sampe sekarang.
***
Memelihara Masa Depan
Masa depan sebuah bangsa ada pada anak - anaknya. Seberapa banyak anak - anak yang tetap melanjutkan sekolah di suatu negara menjadi ramalan kondisi negara tersebut beberapa tahun kemudian.
Seberapa besar informasi yang anak - anak ketahui juga menjadi penentu tingkat kemajuan yang akan negara tersebut alami beberapa tahun kedepan.
Tuhan menitipkan masa depan sebuah bangsa pada tiap semangat anak - anak yang lahir di negara tersebut. Dan kita memeliharanya.
Kita.
Anda, keluarga anda, teman - teman anda, dan saya. Kita semua.
Untuk Indonesia.
***
Dengan ini secara resmi saya menyatakan #GagalMoveOn dari #KerjaBakti Festival Gerakan Indonesia Mengajar.
Salam,
S.
Saya niat ngepost ini udah dari seminggu lalu. Cuman ya gagal melulu.
Malam ini diiringi gemuruh takbir dan perasaan yang belum bisa move on, akhirnya saya tulis sekarang!
Eitsss, tenang kaliiii kak. Gagal move on dari apa nih?
***
Gak bakal bisa berhenti!
Temen temen pasti tau lah ya Gerakan Indonesia Mengajar? google-ing aja kalo belom tau.
Gerakan yang markasnya di Jalan Galuh dua nomer empat ini mengajarkan saya banyak hal. Banyak sekali.
April tahun ini saya ikut - ikutan jadi panitia di acara #PackYourSpirit yang diadain sama Indonesia Menyala (Gerakan Perpustakaan Indonesia Mengajar). Sendirian. Kayak anak ilang.
Waktu rapat perdana beneran kayak anak ilang. Sampe di sana kaget. Loh? ini kok kakak kakak semua, ya? Saya terus terang nyari anak kuliahan juga. Dan nemu! lima orang......
Di rapat perdana itu dapet banyak cerita dan motivasi. Satu kalimat yang akan selalu saya ingat adalah yang diucapkan oleh Bu Evi,
......Sekali temen - temen ikut kegiatan kita, udah deh, temen - temen bakal terjebak di sini. Gak bisa keluar, gak bisa berhenti....Awalnya saya gak ngerti. Tapi sekarang. I really understand. I really do.
***
#KerjaBakti Lebih Awal
Karena pernah ikutan #PackYourSpirit itu, akhirnya sekitar dua bulan lalu dapet email ajakan #KerjaBakti lebih awal. Apaan nih?
Jadi ternyata, GIM mau ngadain festival pendidikan. Tapi gak kayak festival lain yang cuma nonton sekadarnya, di sini relawan yang dateng bakal #KerjaBakti bareng bikin media belajar yang langsung dikirim ke 126 SD penempatan pengajar muda.
Ah gila! Gokil banget ini acara! Ngegerakin orang buat capek capek bikin media? Serius loooooo?
Saya semangat. Semangat sekali. Mungkin karena kakak - kakak pengajar muda menularkan semangat ini kepada siapapun. Setidaknya mahasiswa macam saya dengan mudahnya tertular.
Saya ikut.
Dengan hati yang berdebar - debar saking semangatnya.
***
Ini Beneran Kerja Bakti
Saya berangkat dari rumah menuju Gedung Kwarnas buat kumpul perdana dengan semangat yang hampir tumpah kemana - mana. Dan begitu sampe di sana. Pecah. Tumpah semua. Sekitar dua ratus orang ada di sana. Yang tidak saya kenal. Yang rata - rata sudah bekerja mapan.
Wow.
Ini pasti bakal seru banget.
Dan bener.
Begitu hari - H. Relawan panitia bertambah lebih banyak, karena ajakan yang bersambut semangat.
5 - 6 Oktober, Ecovention Hall di Ancol jadi saksi ribuan orang kerjabakti. Beneran #KerjaBakti !!! Anak - anak, nenek - nenek, remaja, artis, dokter, segala profesi, ikutan. Ada yang capek gunting - gunting bikin puzzle, nulis info di kartu bergambar, bikin peraga sains, kemas - kemas buku pelajaran, nyanyi lagu anak, sharing profesi, ngedongeng, ah! GOKIL ABIS.
RIBUAN ORANG BIKIN MEDIA BELAJAR BUAT ANAK INDONESIA YANG ADA DI PELOSOK.
RIBUAN ORANG PERCAYA INDONESIA PUNYA MASA DEPAN CEMERLANG DI BALIK SEMANGAT ANAK - ANAKNYA.
Semangat saya buncah banget. Euforianya masih terasa sampe sekarang.
***
Memelihara Masa Depan
Masa depan sebuah bangsa ada pada anak - anaknya. Seberapa banyak anak - anak yang tetap melanjutkan sekolah di suatu negara menjadi ramalan kondisi negara tersebut beberapa tahun kemudian.
Seberapa besar informasi yang anak - anak ketahui juga menjadi penentu tingkat kemajuan yang akan negara tersebut alami beberapa tahun kedepan.
Tuhan menitipkan masa depan sebuah bangsa pada tiap semangat anak - anak yang lahir di negara tersebut. Dan kita memeliharanya.
Kita.
Anda, keluarga anda, teman - teman anda, dan saya. Kita semua.
Untuk Indonesia.
***
Dengan ini secara resmi saya menyatakan #GagalMoveOn dari #KerjaBakti Festival Gerakan Indonesia Mengajar.
Salam,
S.
Oct 12, 2013
Seribu Jendela -- Bulan Kesatu (Part 2. Survey)
Halo ! :D
Akhirnya bersua kembali! Mohon maaf karena kurang aktifnya saya bercerita di blog ini -_-*
Seperti yang sudah saya kemukakan di sini, bahwa saya akan menceritakan pengalaman survey area taman bacaan bersama rekan tim saya, Kiki.
***
Ya. Antara Rawamangun dan Ciputat
Survey kami lakukan sekitar tiga minggu lalu. Saya berangkat dari kampus saya di Rawamngun sementara Kiki berangkat dari kampusnya di Ciputat. Kami berdua berencana bertemu di Halte TransJakarta Grogol -sesuai dengan petunjuk Bapak Karsono, penanggung jawab Duri Pulo-
Saya tiba tiga puluh menit lebih awal dari Kiki, sekitar pukul setengah dua belas siang. Kemudian pukul dua belas tepat kami menuju Duri Pulo.
Kami berdua tidak tahu jalan. Akhirnya kami menuruti petunjuk Pak Karsono untuk naik ojeg dari Grogol ke Jl. Setiakawan 3 -alamat kompleks SD DuriPulo-.
Luar biasa pandai benar Bapak Ojegnya, kami memboros uang saku hampir sebanyak 15 ribu karena ternyata jarak Grogol - Setiakawan tidak terlalu jauh. Sudahlah, pelajaran bagi kami untuk lebih sering menengok peta Jakarta, lumayan untuk menghemat -__-*
***
Ya. Ini Benar Kompleks SD
Karena kami naik ojeg dari arah Grogol, kami turun di gang kecil bertuliskan Jl. Setiakawan 3.
Siang itu sepi, mungkin karena memang jam tidur siang. Kami langsung saja ke sekolah untuk menemui guru di sana.
Sesamapainya di sana, Kami takjub. Halaman sekolahnya luas. Kami segera menuju ruang guru terdekat, lalu kami disambut oleh Bu Arhaeni, Kepala Sekolah SD Duri Pulo 03 pagi.
Beliau menyampaikan bahwa Kompleks SD Duri Pulo terdiri dari tujuh sekolah dasar yaitu: SD Duri Pulo 01 pagi, 02 pagi, 03 pagi, 04 pagi, 05 pagi, 06 pagi dan 10 petang.
Kemudian kami diantar untuk berkeliling melihat ruang perpustakaan tiap sekolah. Karena keterbatasan ruang, tiap sekolah memiliki satu ruang perpustakaan yang terletak di dalam ruang Kepala Sekolah.
Hanya 01 Pagi yang memiliki ruang baca terpisah.
Masalah pertama: Ruang. Ah, tapi cerita dari Kak Fitut, ruang bukanlah masalah besar rendahnya minat baca, kok!
***
Pendopoku sayang ----
Di halaman sekolah yang luas itu, terdapat sebuah pendopo. Pendopo yang merupakan hibah dari sebuah perusahaan swasta tersebut sempat menjadi tempat baca bagi anak - anak. Namun, karena alasan buku - buku menjadi cepat rusak, akhirnya pendopo tersebut dibiarkan begitu saja
***
Enam bulan terhitung dari hari ketika kami survey, banyak harapan yang kami bawa pulang bersama dengan pekerjaan rumah dan rencana - rencana. Harapan kami sederhana, agar anak - anak mencintai buku dan terbiasa membaca. Harapan kami sederhana, agar impian tumbuh meliar bersama dengan imajinasi yang mereka dapat dari bacaan - bacaan yang semestinya mereka baca. Harapan kami sederhana, agar kelak, anak - anak ini memiliki pribadi yang kuat untuk menghadapi hidup dan melanjutkan perjuangan bangsa.
Sederhana, kan?
Semangat menyala,
Salam,
S.
Photos were taken by. Sufia
Subscribe to:
Posts (Atom)
#Sufia
Sorbonne, Seoul, Saudi Arabia, SOON ♡
