Feb 22, 2015

Yang aku ingat

Yang aku ingat dari turunnya hujan adalah
aroma tanah yang mengharum saat basah mulai menerpa
derap langkah yang susul-menyusul mencari peneduh
jemari yang mencari genggaman sambil kaki terus berlari

***

Yang aku ingat dari terbitnya fajar adalah
kesibukan yang muncul dari mulut yang menguap lebar
roti yang terjepit lidah menanti susu yang masih di tangan
asap kendaraan yang malu-malu berteman dengan kabut

***

Yang aku ingat dari datangnya senja adalah
letih yang menyatu dengan polusi
rindu yang terlampiaskan ataupun tidak
jingga yang menghitam pelan-pelan

***

Ada kamu dalam tiap hujan yang aku temui
(dan selalu aku ingat)

Ada kamu dalam tiap fajar yang aku datangi
(dan selalu aku ingat)

Ada kamu dalam tiap senja yang aku lalui
(dan selalu aku ingat)

***

S.
 

Feb 14, 2015

Tersenyum dan Berbahagialah!

Untuk yang hatinya tengah membadai,
tersenyumlah.

Hai.
Sebelumnya kuucapkan selamat mengulang tanggal lahirmu yang ke 23 kalinya, meski agak terlambat. Semoga keberkahan selalu mampu engkau petik dalam tiap langkah kehidupan, walau sulit.

Hai.
Perasaan manusia adalah keabstrakan yang paling menyulitkan. Tak tampak wujudnya, namun begitu nyata akibatnya. Tuhan yang menciptakan, untuk mengistimewakan kita. Lantas bersyukurlah.

Hai.
Tuhan menyimpan alasan dibalik setiap takdir yang ditulisNya. Alasan itu terkunci rapat. Hanya dalam keadaan tertentu seorang hamba mampu menafsirkannya. Salah satunya adalah pertemuan dan perpisahan.

Hai.
Mungkin aku tak terlalu mampu menyelam dalam badai hatimu, karena kelemahanku. Yang aku tahu, kau adalah lelaki baik. Jadi percayalah, Tuhan menyiapkan perempuan baik untukmu. Percayalah, ada saatnya kau dipertemukan dengannya. Teguhkan hatimu untuk selalu percaya. Setidaknya kepercayaan akan membuat badaimu sedikit mereda.

Hai.
Minta tolonglah dalam sabar dan shalat. Itu perintah Tuhan. Yang pertama adalah sabar, lalu jangan pernah meninggalkan sholat. Pasrahkan segalanya kepada Tuhan dengan dua cara itu. Kupercaya yang lebih baik akan menjadi hadiah kelak.

 Temanku,
berbahagialah.
Lakukan yang terbaik untuk hidupmu.

Temanmu yang juga selalu berusaha untuk bahagia,

S.

Feb 6, 2015

Anak baik

"Aku mau jadi anak baik, biar bisa buat Bu Ellys masuk surga,"

***

Hai.
Mengajar anak-anak memang banyak kejutannya. Setiap hari selalu ada cerita, yang lucu ataupun menyebalkan, yang sedih ataupun membahagiakan. Celoteh, tawa, tangis sudah jadi makanan sehari-hari. Anak-anak berumur 6-7 tahun ini mengajarkan saya banyak hal.

Kejadiannya kemarin. Saya kebetulan mengajar sendiri karena partner saya sedang menjadi penguji tes masuk. Mengelola kelas sendiri (apalagi kelas 1 SD) membutuhkan energi yang besar. Tidak boleh emosi, tidak boleh berteriak.

Hari itu saya mengajar pengurangan dengan cara meminjam. Ada 7 orang yang kesulitan dalam memahami. Alhasil saya harus menukar posisi duduk mereka menjadi baris paling depan. Saya tukar dengan anak-anak yang sudah lebih paham. Salah satu diantara yang lebih paham itu adalah Adelia.

Adelia adalah anak yang kemampuan kognitifnya di atas rata-rata. Kemampuan psikomotor dan sosialnya juga tinggi. Dia sudah lebih nalar dibandingkan dengan anak yang lain. Mungkin karena dia adalah anak yang kedua orangtuanya bekerja, sehingga lebih mandiri. Emosinya saja yang belum terkontrol jadi dia suka menegur temannya dengan nada suara yang tinggi, sampai temannya menangis.

Setelah saya pindahkan Ia ke belakang, Ia mengobrol dan mengganggu konsentrasi kelas. Saya tegur dengan memberikan Ia pengertian dan lumayan berhasil walau sesekali masih mengobrol.

Setelah pelajaran usai dan kelas sedang persiapan untuk makan siang, Adelia sudah kembali ke posisi duduknya semula. Ia menyeletuk, "Bu Ellys, aku mau jadi anak baik, biar bisa buat Bu Ellys masuk surga,". Saya tentu saja terkejut mendengar kata-kata itu keluar dari mulut anak kelas 1 SD. Ia berkata lagi "Iya kan kalo aku baik trus masuk surga, nanti ditanya siapa ibunya siapa ayahnya siapa gurunya,".

Saya tahu Adelia pasti baru mendengar kata-kata itu dari orang yang lebih tua, mungkin orangtuanya atau guru mengajinya di rumah. Tapi celoteh yang sederhana itu menyentil hati saya.

Apakah saya sudah cukup baik untuk bisa membuat kedua orangtua saya dan seluruh guru yang pernah mengajar saya masuk surga kelak?

Semoga.

***

Mungkin pekerjaan saya secara formal tertulis 'pengajar' tapi sungguh sebenarnya saya yang terus-menerus belajar banyak dari anak-anak ini. Alhamdulillah.

Tabik,

S.


Jan 31, 2015

Untuk Guru Kami Tersayang

Untuk yang kami sayangi,
Ibu Apriliana.

Apa kabar, Bu?
Semoga Ibu tengah istirahat dengan tenang.

Saya adalah salah satu mahasiswi bimbingan skripsi Ibu, bila Ibu agak lupa. Saya percaya Ibu tidak akan lupa.

Saya ingat, pertama kali bertemu Ibu saat masa orientasi kampus. Ibu masih menjabat sebagai pembantu dekan di fakultas. Yang paling saya ingat adalah ketika di akhir semester 1, saya dan Michael, teman saya, menemui Ibu di ruangan Ibu. Kami, yang masih mahasiswa baru itu, menemui Ibu untuk minta pindah jurusan. Padahal Ibu adalah salah satu dosen di jurusan Kami. Ibu tentu saja bilang tidak bisa waktu itu. Akhirnya saya mengurungkan niat untuk pindah, sementara Michael tetap memutuskan untuk ikut seleksi masuk ulang demi pindah jurusan.

Ibu yang selalu saya dan teman-teman kagumi,
keputusan saya untuk tidak pindah jurusan membuat kita menjadi sering bertemu 4,5 tahun ini. Ibu adalah salah satu dosen favorit saya. Ibu adalah role model bagi saya dan teman-teman. Kami belajar ketekunan, kerja keras, disiplin dan tanggung jawab dari Ibu. Karena saya begitu mengidolakan Ibu, di akhir semester 7, saya ke ruangan Ibu lagi, bukan untuk pindah jurusan, tetapi ingin meminta Ibu berkenan  menjadi dosen pembimbing skripsi saya. Waktu itu adalah akhir masa jabatan Ibu sebagai pembantu dekan. Ibu menerima saya dan 7 orang teman saya yang lain.

Ibu yang selalu saya dan teman-teman sayangi,
dalam perjalanan kami menyusun skripsi, Ibu tidak pernah lelah untuk membimbing dan memotivasi kami. Kami mohon maaf, Bu, karena ketidakpekaan dan keegoisan kami. Kami tidak tahu bila Ibu menderita sakit keras karena Ibu selalu terlihat semangat. Kami tidak tahu bila Ibu letih, karena kami hanya memikirkan keletihan kami sendiri. Maaf, Bu. Bahkan sampai di akhir kita bertemu waktu di rumah sakit, Ibu masih memikirkan kami.

Bu, kami sudah lulus. Tentu saja dengan bantuan Ibu.

Meski Ibu tidak hadir di ruangan sidang kami, semangat, nasihat dan bimbingan Ibu menyala-nyala di hati kami. InsyAllah doa kami selalu untuk Ibu.

Bu, masih ada satu teman kami belum lulus semester ini, insyAllah semester depan. Semoga Ibu tenang dalam peristirahatan Ibu. Kami percaya, dedikasi Ibu untuk kami, jurusan dan universitas terhitung sebagai perbuatan amal baik bagi Ibu.

Terimakasih dan maaf. InsyAllah doa kami turut menemani Ibu.

Salam sayang,


Mahasiswa Ibu.

Dec 21, 2014

Sebuah Doa

Saya sedang membaca buku "Lapis-Lapis Keberkahan" karya Ust. Salim A. Fillah dan terenyuh dalam tiap kalimat yang saya baca di buku beliau ini. Saya berhenti di halaman 48 dan menemukan doa indah. Doa yang Ust. Salim tulis dengan penuh kerendahan hati seorang hamba. Doa yang terpanjat dengan penuh adab. Beginilah seharusnya saya berdoa sebagai hamba, pikir saya. Saya tulis doa tersebut di bawah ini, semoga bermanfaat. :)

***

ya Allah,
susurkan dan susulkan kami di jalan mereka yang Kaulimpahi cinta; dalam sempit maupun lapangnya, senyum dan juga lukanya.
maka, ya Allah, walau tak Kaukayakan kami seberlimpah Sulaiman; karuniai kami syukur dan tawadhu'nya, yang hormati semut serta burung hud-hud.

ya Allah,
walau tak Kauberi kami daya raga dan keajaiban seperkasa Musa, curahi kami keberanian dan keteguhannya memimpin kaum yang sering membuat kecewa.
maka, ya Allah, walau usia tak sepanjang Nuh mulia, tegarkan kami dengan kegigihan da'wah dan tekad bajanya untuk terus menyampaikna kebenaran dalam aneka cara.

ya Allah,
walau paras tak setampan Yusuf rupawan, kuatkan diri kami menahan semua goda dan derita, tajamkan nuraninya hingga mampu membaikkan negeri.
maka, ya Allah,
walau keajaiban tak selalu menyertai perjalanan, penuhi hati kami dengan kasih mesra seperti 'Isa, hingga tunduklah musuh dalam cinta.

ya Allah,
walau tak perlu ditelan ikan di gelap lautan, hiasi jiwa kami dengan kepasrahan Yunus yang rintih doanya Kaudengarkan.
maka, ya Allah,
walau tak usah mengalami kehilangan, dicekik sakit, miskin, dan musibah; sejukkan hati kami dengan sabar dan dzikir seperti Ayyub yang tabah.

ya Allah,
walau ujian cinta tak seberat Ibrahim, Hajar dan Sarah; limpahi keluarga kami dengan sakinah, mawaddah dan rahmah dengan keturunan yang shalih serta shalihah.
maka, ya Allah,
walau ibadah tak seterpelihara Zakaria dan kesucian tak seterjaga Maryam; nikmatkan bagi kami bakti anak mulia seperti Yahya dan Isa.

ya Allah,
walau belum pernah mencicipi surga bak Adam dan Hawa, jadikan rumah kami terasa surga sebelum surga, terimalah taubat atas segala dosa.
maka, ya Allah,
walau hidup tak sepedas-pedih warna-warni hayat Ya'qub, jadikan kami hanya mengadu pada-Mu semata, hingga menampilkan kesabaran cantik yang bercahaya.

ya Allah,
waau tak harus lari dan bersembunyi sebagaimana para Ashabul Kahfi, beri kami keberanian dan perlindungan saat tegas mengatakan Al-Haq di depan tirani.
maka, ya Allah,
walau kerajaan tak seluas Dzul Qarnain, curahi kami akhlaq pemimpin; yang senantiasa menyeru pada iman, membebaskan ummat, serta menebarkan manfaat.

ya Allah,
walau jangan sampai Kaukaruniai pasangan yang mirip Fir'aun, teguhkan kami bagai Asiyah yang mukminah, anugerahkan rumah di sisi-Mu di dalam surga.
maka, ya Allah,
walau persoalan hidup tak sepelik Ibunda Musa, bisikkan kami selalu kejernihan-Mu di firasat kami saat menghadapi musyqilnya hari-hari.

ya Allah,
walau ilmu dan kebijaksanaan tak seutuh Luqman Al-Hakim; tajamkan pikir dan rasa kami untuk mengambil 'ibrah di setiap kejadian.
maka, ya Allah,
susurkan dan susulkan kami di jalan yang lurus, di lapis-lapis keberkahan.

Aamiin.

***

Salam,

S.

 

#Sufia

Sorbonne, Seoul, Saudi Arabia, SOON