Apr 28, 2011

Senja di Bira dalam Barisan Ode



- senja di pesisir pulau bira besar, 23 April 2011. diiringi lagu Padi - Ode

--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Semua cerita tentangmu
Yang masih tersimpan di dalam benakku
Meresap dijiwaku
Memenuhi ruang hatiku

Lantunan nada baku hantam dengan tamparan angin, mengibarkan helaian kain kudung ke segala arah, syairnya menggelitik jiwa berbaur resah.

Seperti cahaya mentari kau hadir
Terangi hidupku, terangi jalanku
Menuntunku memaknai semua yang ada
 


Kembali terbayang, kembali menerawang. Kudapat satu bayangan, cukup satu saja. Kemudian kembali sesak, namun batin lelah terisak.

Dan aku takkan melupakan semua yang indah
Yang pernah engkau ucapkan


Aku kalah, membatin mengucap gundah. Apa salahnya mengalah? 


Meski kau telah berlalu
Tak lagi di sisi, namun cintamu akan tetap hidup
Tak terhapuskan, tak tergilas oleh waktu

Jelas sekali senja itu kita beda pulau, tapi suaramu tak samar membungkam segalanya. Kita beda pulau, tapi suaramu jelas sekali menggelitik manja di telinga, JELAS.


Dan aku takkan melupakan semua yang indah
Yang pernah engkau berikan
 

Kembali bercengkrama, kembali berpura-pura tertawa, kembali bermuka ganda, kembali bicara dalam pangkuan nada ceria, dan pelan-pelan kembali terluka



Cintaku tak henti mengalir untukmu
Mengenalmu adalah hal terindah yang pernah aku alami
 

Sesaat lagi surya kembali pada peristirahatannya, sesaat lagi senja menyuguhkan lembayungnya yang istimewa, sesaat lagi. Iya, sesaat lagi suaramu berakhir. Ah, mengapa tak Kau hentikan waktu pada saat itu saja, Tuhan


aku takkan melupakan segala yang terindah
Yang hadir dalam hidupku
Setiap kata kan terukir di hati
Semoga damai selalu bersamamu

Hey, lekaslah segera pergi dari pikirku. Aku cuma mau sebahagia kamu, itu saja.



Feb 24, 2011

aku bicara pada Tuhan dalam doa tengah malam, kami membicarakanmu diam-diam

 

Feb 14, 2011

Peace out, Boy !


Jangan kau pikir malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya.
Memang tidak kubaca lagi sms pengantar tidur darimu, tapi malam ini berbeda.

Jangan kau pikir malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya.
Memang tidak kudengar suaramu mengudara lagi di tiap sudut kamar, tapi malam ini berbeda.

Jangan kau pikir malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya.
Sebab mataku tak lagi buta.
Jadi hilang sudah segala rasa
juga semua asa.

Jangan kau pikir malam ini sama,
masih adakah cinta yang tersisa?
Kuharap tidak.

Feb 6, 2011

entah untuk siapa :)

Kepada engkau yang senyumnya menghangatkan relung, kuucap salam kerinduan tak terbendung.
   
Apa kabar? Semoga doa-doaku selama ini di dengar Tuhan sehingga saat kau membaca surat ini, kau dalam keadaan terbaikmu, dan tentunya, juga dengan perasaan rindu yang sama seperti rinduku.
   
Aku sudah menunggu lama di sini, di tepian takdir yang tak jua berubah. Aku masih menanti kehadiranmu yang entah membawa setangkai mawar merah ataupun sekedar senyum ramah. Aku hanya bisa menunggu, tidak bisa lebih dari itu. Aku mau, tapi tidak bisa. Sebab takdir menahanku begitu, sebab kodrat melarangku berbuat lain.
  
Sayang, lidahku sudah geregetan untuk memujamu. Jemariku sudah tidak tahan ingin membelai wajah tampanmu. Aku juga tidak sabar tenggelam dalam pelukanmu. Tapi lagi-lagi yang, aku hanya bisa menunggu. Aku hanya bisa mengikuti alur yang sudah Tuhan atur untuk kita.
  
Kekasihku, bila tiba waktunya nanti, jangan umbar janji. Sebab aku sudah bosan dengan janji dari yang terdahulu yang gagal terpenuhi. Bila akhirnya kita bertemu, jangan ragu menyapaku terlebih dahulu, sebab aku terlahir pemalu. Bila akhirnya kita bersua, jangan sungkan bertanya nama, sebab namaku dan namamu sudah menjadi satu di atas sana.
   
Itu saja ya untuk sekarang, ini bukan surat cinta loh. Harusnya kan kamu yang mengirimiku surat cinta. Ini namanya apa ya, surat kerinduan? apalah namanya tidak mengubah sedikitpun rasaku.
   
Teruntuk engkau, lelaki yang sampai sekarang masih dirahasiakan Tuhan

Jan 24, 2011

Lelakiku (bukan lagi) Lelakiku

Pagi ini sama
di kamar yang sama
di sudut yang sama
kepada orang yang sama
apa?

Siang pernah tertawa
saat jerit hilang gema
saat tangis hilang makna
saat hati hilang rasa
peduli apa?

Luka berebut tempat
di selipan-selipan nadi yang sekarat
lalu satu lawan banyak
tak kuat berontak
diam sesak
  
Masih cerita yang sama
meski tahun beda angka
aku kamu kita
duka tak berani ada
sebab bahagia terlampau nyata

Masih cerita yang sama
meski tahun beda angka
aku kamu tanpa kita
duka datang tiba tiba
bahagia jenuh, katanya
  
Masih cerita yang sama
meski tahun beda angka
si dia peduli apa?
merebutmu sesukanya
kamu tak bisa di bagi dua
apa daya

Dulu
tepat setahun lalu
bangganya aku jadi wanitamu
tapi gara gara waktu
dia bangga sekali menyebutmu 'lelakiku'
apa urusanku?
sebab adanya begitu
  
Pagi yang sama
di kamar yang sama
di sudut yang sama
pelan-pelan kuusap dada
takut takut robek lagi luka
repot urusannya

#Sufia

Sorbonne, Seoul, Saudi Arabia, SOON