Jul 17, 2014

When my mind is talking blablabla.

Dear, Pages.

I keep disappointing myself and it truly hurts me inside. I keep cheering myself up and it still on progress. I keep hoping for the best and will always be. I keep looking for a miracle and believe it lies in somewhere I haven't seen.

I keep trying to love myself and it is the hardest part.

Dear, Pages.

How the future will be? How does it look like? Am I sacrificing for some great things ahead? Could you give the answer?

Dear, Pages.

You don't have to answer it anyway.

Thanks for being here.

Love,
S.

Jun 28, 2014

Marhaban Yaa Ramadhan!

Halo!

Ini waktu yang berputar lebih cepat atau saya yang menjalani hidup dengan terlalu santai, ya? Ramadhan tahun ini sudah tiba. Saya menyambut Ramadhan dengan perasaan gugup gegap gempita membayangkan keberkahan yang membuncah di bulan ini, seperti anak kecil yang kebingungan di tengah hujan lolipop, bingung mau menadah lolipop dari sebelah mana. Analogi itu agak gak baik sih sebenernya. Soalnya bingung yang lama akan menyebabkan bengong. Jadinya malah gak ngambil satu lolipop pun, kan malah jadi salah.

Makanya jangan melamun di tengah hujan lolipop, Adik-adik! Lekas ambil wadah untuk menampung. Begitupun Ramadhan tahun ini. Semoga berkah yang berlimpah bisa kita nikmati dengan sebaik-baiknya. Amin.

---

Selamat menjalani hari-hari penuh berkah di bulan Ramadhan.
Selamat menikmati santap sahur dan berbuka dengan yang tersayang.
Selamat beribadah sepuas-puasnya.

Salam,

S. 


May 26, 2014

Mencari Alasan Untuk Tidak Mengeluh

Kita hidup untuk alasan-alasan yang harus kita hidupi dan pada akhirnya menghidupi kita. Saya bingung menentukan siapa yang menghidupi siapa pada konteks kalimat itu. Saya percaya bahwa tiap dari kita pasti punya alasan untuk melakukan apapun atau menjadi siapapun dan bagaimanapun caranya. Saya makan karena saya lapar. Saya tidur karena saya mengantuk. Saya ingin menjadi guru karena........... dan karena-karena lainnya dalam hidup kita.

Saya gemar mencari alasan. ha ha ha ha. Jadi saya suka banyak nanya, "kenapa begini? kenapa begitu?". Kalo ada yang baik meladeni pertanyaan saya ya pasti dijawab, tapi untuk mereka yang gak sabar pasti jawab "Gak semua yang terjadi harus ada alasan, Pi," atau "Gak punya alasan juga alasan orang gak mau jawab, kan?" sampe kayak gini "gak semua pertanyaan ada jawabannya,". Ya pokoknya begitu. Pada akhirnya saya menelan rasa penasaran dan semua kenapa yang ada di kepala saya sendirian.

Kebetulan semester akhir memang memancing saya untuk sedikit lebih banyak mengeluh dibanding semester sebelumnya. Sebentar-sebentar capek, sebentar-sebentar males, sebentar-sebentar galau, sebentar-sebentar pengin main. Ya gitulah. Semester ini seru banget sih, cuma ya jadi cepet ngeluh, lebih manja, pengin diperhatiin, dll.

Makanya saya memutuskan untuk ikut ke Cibuyutan hari Sabtu lalu, bermalam di sana lagi untuk kedua kalinya setelah 3 tahun nggak ke sana. Saya pernah cerita tentang di mana Cibuyutan dan pengalaman saya ke sana waktu itu di sini. Saya dan teman-teman juga punya wadah untuk siapapun yang mau bantu Cibuyutan di sini. ((promosi))  

Salah satu perbedaan dari perjalanan pertama saya waktu itu dan perjalanan saya kemarin adalah waktu itu kami berangkat pagi, jadi cuaca belum terlalu panas. Sementara kemarin kami naik ke Cibuyutan tengah hari pas matahari ada di atas kepala. ha ha ha ha. Seruuuu kan.

Alhamdulillah banyak perubahan yang terjadi di Cibuyutan semenjak kedatangan pertama kami waktu itu. Banyak pihak yang membantu dan mendukung Cibuyutan dari segi apapun. MI Miftahussolah sekarang sudah berbentuk bangunan dengan fasilitas yang memadai, tidak lagi bilik bambu seperti kandang sapi. Setiap sabtu dan minggu ada kegiatan belajar untuk orang tua yang tuna aksara. Cibuyutan sudah punya panel surya, jadi setiap malam bisa menikmati listrik tergantung cuaca pada siang harinya. Kalau terik seperti kemarin, listrik bisa tahan semalaman sampai pagi. Alhamdulillah.

Saya ke sana memang dengan niat untuk mencari alasan agar tidak cepat mengeluh. Anak-anak Cibuyutan yang melanjutkan sekolah ke tingkat SMP harus turun dari kampungnya menuju kampung di bawah yang lebih maju, melewati hampir 10 km pulang pergi perjalanan dengan trek bebatuan yang naik turun terjal. Tapi mereka tidak mengeluh. Anak-anak harus belajar dengan semangat dari diri mereka sendiri tanpa bantuan siapapun di rumah karena orangtua mereka tuna aksara, dan mereka belajar dengan keterbatasan informasi, hanya dari buku, tanpa akses internet. Tapi mereka tidak mengeluh.

Sementara saya.........................................................................................

***

Jangan sampai karena terlalu sering menunduk, kita jadi lupa bagaimana caranya menoleh.

Jangan karena terlalu sering mengeluhkan apa yang kita hadapi, kita jadi gak sempet sadar kalau di sekeliling kita ada yang dihadapkan dengan masalah yang jauh lebih berat dan mereka mampu menghadapinya dengan senyuman.

Semoga selalu lebih dewasa ya, diriku.

Salam,

S.


Apr 13, 2014

Ya.

Selama cinta ini masih haram, ini haram.
Maka halalkan.

Selama rindu ini masih haram, ini haram.
Maka halalkan.

Semoga doa kita bersua di satu titik di langit sana,
menggema semesta.

---

Love,

S.

 

Apr 3, 2014

Untuk Sementara by @PramoeAga on tumblr

Untuk sementara, kita lebih banyak berteman dengan rindu; dengan doa - doa pelipat jarak, dengan sekarung harapan bertemu.

Untuk sementara, biar kita berjalan beriringan tanpa sejalan. Percakapan adalah tanaman yang musti kita rawat, dan kesabaran adalah bocah rewel yang perlu dijaga. Ingatlah, mereka adalah harta yang mengayakan kita.

Untuk sementara, biar rindu menjadi teman paling rajin hinggap di dada. Menggelembung, menyesakkan ruang sempit di sana. Memanjangkan musim dingin, menambah rajin gigil.

Lelah ini hanya sementara. Hanya mengambil beberapa jumput waktu bersama dan mengalikan dua jarak yang ada. Tak apa, hanya sementara. Bukan selamanya. 

---

source: here

#Sufia

Sorbonne, Seoul, Saudi Arabia, SOON