Kepadamu yang senyumnya lebih indah dari lembayung senja,
Hujan yang tengah menemui musimnya mengurangi intensitasku menikmati senja. Bila dibanding fajar, aku lebih menggemari senja. Karena senja melukiskan lembayung di langit, warna yang begitu menghangatkan.
Bila hujan berhenti tepat sebelum petang, tepat sebelum gelap pertama tiba, dan mentari berada di posisi dimana memungkinkan munculnya pelangi, maka lengkaplah keindahan senja. Jingga yang tidak terlalu terang, lembayung yang terbias diagonal, serta pelangi yang melengkung syahdu. Aku sungguh menggemarinya.
Hai, kamu.
Hari ini awan tengah sendu. Tidak gelap, namun putihnya menutup rapat. Seolah menghalau senja, yang beberapa hari ini aku rindukan.
Dua tahun lalu, senja menemaniku menangis di bawah Pohon Ficus tua. Menangisi kepedihanku. Lalu setelahnya, tiap senja kulalui dengan sendu yang tiada ujungnya.
Kemudian ingatkah kamu suatu hari di bulan Oktober tahun lalu? Senja juga menjadi saksi perjumpaan kita pertama kalinya. Kamu dengan kaus abu - abumu, tersenyum. Hari itu, langit berhiaskan lembayung senja. Merangkul kerinduanku yang menguap seketika.
Esok hari di surat ketigabelas, akan aku ceritakan saat kita bertemu pertama kalinya.
Hai, kamu.
Entah kapan lagi kita dapat bertemu. Entah kau yang akan menemuiku kembali, atau aku yang menghampirimu suatu saat kelak. Hanya waktu yang mampu menjawab.
Dariku, yang hampir pingsan di suatu senja di bulan Oktober tahun lalu.
Hujan yang tengah menemui musimnya mengurangi intensitasku menikmati senja. Bila dibanding fajar, aku lebih menggemari senja. Karena senja melukiskan lembayung di langit, warna yang begitu menghangatkan.
Bila hujan berhenti tepat sebelum petang, tepat sebelum gelap pertama tiba, dan mentari berada di posisi dimana memungkinkan munculnya pelangi, maka lengkaplah keindahan senja. Jingga yang tidak terlalu terang, lembayung yang terbias diagonal, serta pelangi yang melengkung syahdu. Aku sungguh menggemarinya.
Hai, kamu.
Hari ini awan tengah sendu. Tidak gelap, namun putihnya menutup rapat. Seolah menghalau senja, yang beberapa hari ini aku rindukan.
Dua tahun lalu, senja menemaniku menangis di bawah Pohon Ficus tua. Menangisi kepedihanku. Lalu setelahnya, tiap senja kulalui dengan sendu yang tiada ujungnya.
Kemudian ingatkah kamu suatu hari di bulan Oktober tahun lalu? Senja juga menjadi saksi perjumpaan kita pertama kalinya. Kamu dengan kaus abu - abumu, tersenyum. Hari itu, langit berhiaskan lembayung senja. Merangkul kerinduanku yang menguap seketika.
Esok hari di surat ketigabelas, akan aku ceritakan saat kita bertemu pertama kalinya.
Hai, kamu.
Entah kapan lagi kita dapat bertemu. Entah kau yang akan menemuiku kembali, atau aku yang menghampirimu suatu saat kelak. Hanya waktu yang mampu menjawab.
Dariku, yang hampir pingsan di suatu senja di bulan Oktober tahun lalu.
No comments:
Post a Comment