Jan 26, 2013

Surat Ketigabelas - Malam Minggu Pertama

Untukmu, yang senyumnya masih kurindu.

Di tempatmu, gelap sudah menggeser petang sementara senja baru saja datang di tempatku. Malam minggu ini kau tengah larut dalam sibukmu di sana. Bicara tentang malam minggu, ingatkah kamu tentang malam minggu pertama kita?

Bulan Oktober lalu, aku begitu bahagianya sebab kamu menyempatkan diri ke sini, menemuiku. Aku menjemputmu di pintu kedatangan luar negeri bandara internasional Soekarno - Hatta. Dengan wajah lusuh usai kegiatan praktikum di kampusku, aku menjemputmu.

Aku tidak menyangka ternyata jam kedatanganmu dipercepat. Sehingga, tepat lima belas menit aku tiba, rombonganmu datang.

Kamu berdiri di sana.

Dengan kaus abu - abu.

Kemudian bergerak semakin dekat, di depan mataku.

Aku gugup, tentu saja.

Ini kali pertama kita bertemu secara nyata, mata bertemu mata, kemudian hati bertemu hati.

Saat itu, kau berdiri tepat lima jengkal dari tempatku berdiri.

Kau tersenyum.

Sementara aku membatu.

Begitulah pertemuan kita memeluk segala rindu.

Senja itu di hari Kamis, aku seutuhnya merasa memilikimu secara nyata. Sebab selama ini dunia maya terlalu asyik mempermainkan hati. Kemudian kita bertukar janji, untuk bertemu di hari sabtu. Iya, malam minggu pertama kita.

Waktu terasa begitu cepat membawaku ke hari Sabtu, tepat tanggal tiga belas Oktober tahun lalu. Kita bertemu, seperti muda - mudi lainnya. Kita bercengkrama, seperti muda - mudi lainnya. Saat itu mungkin aku terlihat begitu bodoh, karena sungguh, aku benar - benar gugup melewati malam minggu pertama kita. Sementara kamu begitu mahir mencairkan suasana.

Kemudian malam mendekap cerita kita, sesempurna malam menguapkan rindu kita.

Malam minggu ini, di surat ketigabelas, entah mengapa setiap detik di malam minggu tiga belas Oktober lalu begitu nyata di benakku. Sederhana saja, aku merindukanmu.

Hai, Kamu.

Malam minggu tahun lalu adalah malam minggu pertama dan malam minggu terindah, tapi tentu, bukan malam minggu terakhir.

Semoga waktu dengan cepatnya mempertemukan kita di malam minggu kedua, ketiga, dan malam minggu kesekian kalinya pada waktu yang tak ditentukan.

Sekali lagi, aku merindumu.

Dariku, yang malam minggu ini hanya bertemankan rinduku akan senyummu.

                

Jan 25, 2013

Surat Keduabelas - Esok Lusa

Untukmu, yang namanya tengah dieluh-eluhkan ribuan orang malam ini.

Aku hanya melihatmu terbang dengan sayapmu dari kejauhan.

Aku di sini.

Melihatmu dengan luapan rindu yang begitu membuncah ruah.

Malam ini terakhir, usai perjalanan kerjamu yang begitu panjang.

Esok akan ada waktu istirahat untukmu, lelaki yang selalu penuh semangat.

Malam ini, melihatmu lebih banyak tersenyum membuatku bahagia.

Meski terlalu jauh jarak membentang.

Namun senyum itu sama dengan senyum di 13 Oktober tahun lalu.

Senyum yang membuatku membatu di tempatku berdiri kala itu.

Esok lusa kau akan kembali bergelut dalam proyekmu berikutnya.

Esok lusa kau akan kembali dalam kesibukanmu.

Aku harap

Esok lusa senyummu tetap sama

Esok lusa semangatmu tetap sama

Esok lusa, dan esok lusa seterusnya.

Esok lusa, saat waktu mengizinkan mata kita bersua, dan melebur rindu bersama.

Esok lusa.

Dariku, yang malam ini tersenyum bersamamu, dalam dekapan jarak yang mempesona kita.

             


Jan 24, 2013

Surat Kesebelas - Lembayung Senja

Kepadamu yang senyumnya lebih indah dari lembayung senja,

Hujan yang tengah menemui musimnya mengurangi intensitasku menikmati senja. Bila dibanding fajar, aku lebih menggemari senja. Karena senja melukiskan lembayung di langit, warna yang begitu menghangatkan.

Bila hujan berhenti tepat sebelum petang, tepat sebelum gelap pertama tiba, dan mentari berada di posisi dimana memungkinkan munculnya pelangi, maka lengkaplah keindahan senja. Jingga yang tidak terlalu terang, lembayung yang terbias diagonal, serta pelangi yang melengkung syahdu. Aku sungguh menggemarinya.

Hai, kamu.

Hari ini awan tengah sendu. Tidak gelap, namun putihnya menutup rapat. Seolah menghalau senja, yang beberapa hari ini aku rindukan.

Dua tahun lalu, senja menemaniku menangis di bawah Pohon Ficus tua. Menangisi kepedihanku. Lalu setelahnya, tiap senja kulalui dengan sendu yang tiada ujungnya.  

Kemudian ingatkah kamu suatu hari di bulan Oktober tahun lalu? Senja juga menjadi saksi perjumpaan kita pertama kalinya. Kamu dengan kaus abu - abumu, tersenyum. Hari itu, langit berhiaskan lembayung senja. Merangkul kerinduanku yang menguap seketika.

Esok hari di surat ketigabelas, akan aku ceritakan saat kita bertemu pertama kalinya.

Hai, kamu.

Entah kapan lagi kita dapat bertemu. Entah kau yang akan menemuiku kembali, atau aku yang menghampirimu suatu saat kelak. Hanya waktu yang mampu menjawab. 

Dariku, yang hampir pingsan di suatu senja di bulan Oktober tahun lalu.

    

  
 

Surat Kesepuluh - Sepuluh Surat Cinta

Untukmu yang kesepuluh kalinya,

Surat ini terhitung terlambat, namun aku berdoa semoga ada keajaiban sehingga surat ini tetap sampai untukmu, semoga.

Menulis surat selama 30 hari penuh membutuhkan konsistensi agar tidak jenuh. Saat ini aku bingung dan mulai terhalau jenuh. Hanya keajaiban yang mampu membuat matamu tidak jenuh saat membaca surat - surat ini.

Ah, keajaiban ya. Setidaknya keajaiban adalah salah satu hal yang berperan besar dalam perjalanan kita. Aku tidak percaya keajaiban. Aku hanya percaya campur tangan Tuhan. Dan ternyata kamu juga percaya itu.

Bahkan pertemuan kita secara langsung pun terjadi karena keajaiban. Akan kuceritakan di suratku yang ketigabelas, sebab pada tanggal tigabelaslah kita bertemu.

Sudah ya, aku hanya ingin bilang di surat kesepuluh ini, bahwa aku masih merindumu, hingga sepuluh hari berikutnya, sepuluh minggu kemudian, dan untuk waktu yang tak dapat ditentukan.

Hai, kamu.
Bagaimana sepuluh surat cintaku? 

Dariku, yang merindumu sepuluh kali lipat dari hari pertama kutulis surat cinta buatmu.

      
 

Jan 23, 2013

Surat Kesembilan - How did we get

Untukmu, dan memang hanya untukmu, yang aku rindukan


I’ve gone through so many shallow relationships
I thought you’d brush past like that too
But as time went by, I realized you were a little different
There was no pretense, you showed me your whole heart

Kadang kala, patah hati memang meninggalkan luka yang perihnya terlalu dalam untuk dilupakan walau sejenak. Namun, entah mengapa. Mungkin aku terlalu lemah berhadapan dengan putus cinta. Hingga kau datang, aku masih terpuruk di awal. Tetapi waktu berpihak padamu, pada kesabaran dan kesungguhanmu. Sedikit demi sedikit dan perlahan tapi pasti, kamu mengisi segala ruang hati. Entah sejak kapan, aku tidak terlalu memperdulikannya. Seperti bunga musim semi yang bermekaran usai salju menutupi tangkainya. Sesederhana itu.
 
So we’ll walk togetherYou and me
The two of us
We’ll walk together from now

Hai, kamu.
Bila waktu berhasil membuatmu hidup di hatiku, maka biar waktu jua yang akan menjaganya tetap hidup.

Dariku, yang sejauh ini tetap merindumu.

 

#Sufia

Sorbonne, Seoul, Saudi Arabia, SOON