Untukmu, yang namanya tengah dieluh-eluhkan ribuan orang malam ini.
Aku hanya melihatmu terbang dengan sayapmu dari kejauhan.
Aku di sini.
Melihatmu dengan luapan rindu yang begitu membuncah ruah.
Malam ini terakhir, usai perjalanan kerjamu yang begitu panjang.
Esok akan ada waktu istirahat untukmu, lelaki yang selalu penuh semangat.
Malam ini, melihatmu lebih banyak tersenyum membuatku bahagia.
Meski terlalu jauh jarak membentang.
Namun senyum itu sama dengan senyum di 13 Oktober tahun lalu.
Senyum yang membuatku membatu di tempatku berdiri kala itu.
Esok lusa kau akan kembali bergelut dalam proyekmu berikutnya.
Esok lusa kau akan kembali dalam kesibukanmu.
Aku harap
Esok lusa senyummu tetap sama
Esok lusa semangatmu tetap sama
Esok lusa, dan esok lusa seterusnya.
Esok lusa, saat waktu mengizinkan mata kita bersua, dan melebur rindu bersama.
Esok lusa.
Dariku, yang malam ini tersenyum bersamamu, dalam dekapan jarak yang mempesona kita.
Kepadamu yang senyumnya lebih indah dari lembayung senja,
Hujan yang tengah menemui musimnya mengurangi intensitasku menikmati senja. Bila dibanding fajar, aku lebih menggemari senja. Karena senja melukiskan lembayung di langit, warna yang begitu menghangatkan.
Bila hujan berhenti tepat sebelum petang, tepat sebelum gelap pertama tiba, dan mentari berada di posisi dimana memungkinkan munculnya pelangi, maka lengkaplah keindahan senja. Jingga yang tidak terlalu terang, lembayung yang terbias diagonal, serta pelangi yang melengkung syahdu. Aku sungguh menggemarinya.
Hai, kamu.
Hari ini awan tengah sendu. Tidak gelap, namun putihnya menutup rapat. Seolah menghalau senja, yang beberapa hari ini aku rindukan.
Dua tahun lalu, senja menemaniku menangis di bawah Pohon Ficus tua. Menangisi kepedihanku. Lalu setelahnya, tiap senja kulalui dengan sendu yang tiada ujungnya.
Kemudian ingatkah kamu suatu hari di bulan Oktober tahun lalu? Senja juga menjadi saksi perjumpaan kita pertama kalinya. Kamu dengan kaus abu - abumu, tersenyum. Hari itu, langit berhiaskan lembayung senja. Merangkul kerinduanku yang menguap seketika.
Esok hari di surat ketigabelas, akan aku ceritakan saat kita bertemu pertama kalinya.
Hai, kamu.
Entah kapan lagi kita dapat bertemu. Entah kau yang akan menemuiku kembali, atau aku yang menghampirimu suatu saat kelak. Hanya waktu yang mampu menjawab.
Dariku, yang hampir pingsan di suatu senja di bulan Oktober tahun lalu.
Untukmu yang kesepuluh kalinya,
Surat ini terhitung terlambat, namun aku berdoa semoga ada keajaiban sehingga surat ini tetap sampai untukmu, semoga.
Menulis surat selama 30 hari penuh membutuhkan konsistensi agar tidak jenuh. Saat ini aku bingung dan mulai terhalau jenuh. Hanya keajaiban yang mampu membuat matamu tidak jenuh saat membaca surat - surat ini.
Ah, keajaiban ya. Setidaknya keajaiban adalah salah satu hal yang berperan besar dalam perjalanan kita. Aku tidak percaya keajaiban. Aku hanya percaya campur tangan Tuhan. Dan ternyata kamu juga percaya itu.
Bahkan pertemuan kita secara langsung pun terjadi karena keajaiban. Akan kuceritakan di suratku yang ketigabelas, sebab pada tanggal tigabelaslah kita bertemu.
Sudah ya, aku hanya ingin bilang di surat kesepuluh ini, bahwa aku masih merindumu, hingga sepuluh hari berikutnya, sepuluh minggu kemudian, dan untuk waktu yang tak dapat ditentukan.
Hai, kamu.
Bagaimana sepuluh surat cintaku?
Dariku, yang merindumu sepuluh kali lipat dari hari pertama kutulis surat cinta buatmu.
Untukmu, dan memang hanya untukmu, yang aku rindukan
I’ve gone through so many shallow relationships
I thought you’d brush past like that too
But as time went by, I realized you were a little different
There was no pretense, you showed me your whole heart
Kadang kala, patah hati memang meninggalkan luka yang perihnya terlalu dalam untuk dilupakan walau sejenak. Namun, entah mengapa. Mungkin aku terlalu lemah berhadapan dengan putus cinta. Hingga kau datang, aku masih terpuruk di awal. Tetapi waktu berpihak padamu, pada kesabaran dan kesungguhanmu. Sedikit demi sedikit dan perlahan tapi pasti, kamu mengisi segala ruang hati. Entah sejak kapan, aku tidak terlalu memperdulikannya. Seperti bunga musim semi yang bermekaran usai salju menutupi tangkainya. Sesederhana itu.
So we’ll walk togetherYou and me
The two of us
We’ll walk together from now
Hai, kamu.
Bila waktu berhasil membuatmu hidup di hatiku, maka biar waktu jua yang akan menjaganya tetap hidup.
Dariku, yang sejauh ini tetap merindumu.
To my dearest Dragon, this letter is brought to you.
My heart feels this sad but i have no one to talk to
I wanna smile broadly sometime but have no one beside me
Maybe I'm missing you
I was about to cry and jump into you. Because that time I really had no one to talk to. And also that time, I was missing someone. So, just because of that, I am very thankful for being there.
Thankyou, for composing that kind of song, since you are one of a kind.
Hi, my dearest Dragon.
You've worked so hard till now. You've reached your goal, your dreams. The whole world really respect to you, even Rihanna and Adam Lambert too. So, up to now, why so serious?
And, my dearest Dragon. Could you bring all the boys to twitter, please? Then we could have fun together.
That's all. Since my english and korean aren't good enough.
Love,
me.
just another one that wanna be your real important person.
#Sufia
Sorbonne, Seoul, Saudi Arabia, SOON ♡