Surat ini tentu masih untukmu, yang senyumnya akan selalu menenangkan
Bagaimana seninmu? Beratkah? Sesaat lagi senin akan berlalu, karena senin memang pasti berlalu. Kebetulan aku sedang menikmati masa liburan semesterku. Itulah mengapa kuputuskan untuk menuliskan 30 surat untukmu secara berturut - turut. Semoga kamu tidak jenuh, semoga aku tidak jenuh.
Bicara soal jenuh, aku berbakat untuk itu. Berbakat menjadi orang paling membosankan di dunia. Aku berbakat membuat orang lain jenuh dengan sangat cepat. Bahkan, beberapa waktu lalu, seseorang yang aku percaya sepenuh hati meninggalkanku dengan sejuta alasan yang menutupi alasan utamanya yaitu, jenuh. Ia jenuh denganku.
Kemudian sepuluh bulan lalu kita bertukar mimpi. Mimpi - mimpi sederhana. Bukan mimpi menjadi dokter ataupun pengusaha. Mimpiku saat itu adalah, aku bisa menjadi seseorang yang tidak membosankan lagi, tidak akan pernah lagi. Aku ingin kehadiranku selalu dirindukan. Aku ingin dirindukan. Dan mimpi sederhanamu adalah, ingin dapat terbang. Dengan 'sayap'mu sendiri.
Hai, kamu.
Waktu berjalan begitu cepat, ya. Apa kabar mimpi - mimpi kita? Setidaknya, kamu belum bosan dan masih merinduku. Itu berarti, kamu membuatku menjadi orang yang tidak membosankan lagi. Karena itulah, karena kamu tetap di sisiku dan membuatku terlihat tidak membosankan lagi, karena dalam kata lain kamu membuat mimpi sederhanaku menjadi nyata, maka aku akan membantumu terbang. Aku akan menjadi sayapmu. Kemudian tidak lama lagi kita akan terbang bersama.
Ah, hakikatnya kita memang memerlukan orang lain untuk menggapai mimpi - mimpi kita. Bukan untuk membantu secara keseluruhan. Ibarat mimpimu adalah terbang, dan aku menjadi sayapmu. Aku menjadi sayapmu dengan sejuta doa dan semangat yang tak bosan kuberi. Kemudian nantinya, kamu akan terbang karena usahamu menggerakkan sayap - sayap ini. Ingatkah, bahwa ayam tidak menggunakan sayapnya untuk terbang?
Hai, kamu.
Terbanglah setinggi impianmu. Dengan aku sebagai sayapmu, maka bukankah kita terbang bersama?
Dariku, yang merindukanmu, sangat.
Bagaimana seninmu? Beratkah? Sesaat lagi senin akan berlalu, karena senin memang pasti berlalu. Kebetulan aku sedang menikmati masa liburan semesterku. Itulah mengapa kuputuskan untuk menuliskan 30 surat untukmu secara berturut - turut. Semoga kamu tidak jenuh, semoga aku tidak jenuh.
Bicara soal jenuh, aku berbakat untuk itu. Berbakat menjadi orang paling membosankan di dunia. Aku berbakat membuat orang lain jenuh dengan sangat cepat. Bahkan, beberapa waktu lalu, seseorang yang aku percaya sepenuh hati meninggalkanku dengan sejuta alasan yang menutupi alasan utamanya yaitu, jenuh. Ia jenuh denganku.
Kemudian sepuluh bulan lalu kita bertukar mimpi. Mimpi - mimpi sederhana. Bukan mimpi menjadi dokter ataupun pengusaha. Mimpiku saat itu adalah, aku bisa menjadi seseorang yang tidak membosankan lagi, tidak akan pernah lagi. Aku ingin kehadiranku selalu dirindukan. Aku ingin dirindukan. Dan mimpi sederhanamu adalah, ingin dapat terbang. Dengan 'sayap'mu sendiri.
Hai, kamu.
Waktu berjalan begitu cepat, ya. Apa kabar mimpi - mimpi kita? Setidaknya, kamu belum bosan dan masih merinduku. Itu berarti, kamu membuatku menjadi orang yang tidak membosankan lagi. Karena itulah, karena kamu tetap di sisiku dan membuatku terlihat tidak membosankan lagi, karena dalam kata lain kamu membuat mimpi sederhanaku menjadi nyata, maka aku akan membantumu terbang. Aku akan menjadi sayapmu. Kemudian tidak lama lagi kita akan terbang bersama.
Ah, hakikatnya kita memang memerlukan orang lain untuk menggapai mimpi - mimpi kita. Bukan untuk membantu secara keseluruhan. Ibarat mimpimu adalah terbang, dan aku menjadi sayapmu. Aku menjadi sayapmu dengan sejuta doa dan semangat yang tak bosan kuberi. Kemudian nantinya, kamu akan terbang karena usahamu menggerakkan sayap - sayap ini. Ingatkah, bahwa ayam tidak menggunakan sayapnya untuk terbang?
Hai, kamu.
Terbanglah setinggi impianmu. Dengan aku sebagai sayapmu, maka bukankah kita terbang bersama?
Dariku, yang merindukanmu, sangat.
No comments:
Post a Comment