Jan 17, 2013

Surat Keempat - Cerita Hujan

Untukmu, yang senyumnya kurindukan.

Hai, kamu.

Aku sangat menyukai hujan, bagaimanapun ia. Aku suka saat rintik gerimis mulai berjatuhan titik demi titik. Juga saat rintiknya tak lagi kecil, dan jatuhnya tak lagi sedikit demi sedikit. Aku menikmati bagaimana angin menari - nari bersama debu, lalu mewangilah sang debu. Aku sungguh menikmatinya. Seolah rintik gerimis yang setitik itu membisikan bahwa kemarau telah usai. Penghujan menemui masanya. Lalu angin yang menerbangkan debu tadi, membuat butir debu itu berhempasan bersama air menjadi harum. Aroma yang seringkali orang bilang "bau hujan". Ah! Bukankah itu debu? Aku menggemari hujan, karena hanya pada saat itulah, keberadaan debu tak lagi dikeluhkan.

Hai, kamu.

Aku sangat menyukai hujan, kapanpun ia turun. Saat fajar ataupun malam hari. Hujan tetaplah hujan. Saat bahagia ataupun sedang sendu. Hujan tetaplah hujan. Aku merasakan cinta pertamaku saat hujan turun dengan derasnya. Kemudian gerimis juga menemaniku saat lara bertamu di hatiku. Selalu begitu. Hujan selalu ada, karena itu aku begitu menyukainya.

Hai, kamu.

Herankah kamu mengapa sedari tadi kusebut hujan di surat yang kutulis untukmu ini? Hari ini hujan. Derasnya bukan main. Persis seperti setahun lalu. Saat itu aku sedang terlalu sendu mengenang masa lalu. Persoalan cinta memang bukan perkara sulit yang pantas dikeluhkan, namun bukan persoalan mudah untuk dilupakan. Aku mengenang masa laluku. Lalu tiba - tiba ada panggilan video, darimu, yang jauh di sana. Bersama gitarmu sebuah lagu mulai kau nyanyikan.

I try smiling again today, this way you’ll smile
Because that guy keep making you cry, whatever it takes I want to make you smile

To me, loving you alone is so painful I can barely put up with it
But I’d rather die than to see you cry, for you, I try smiling again today
Aku terdiam. Tidak ada percakapan malam itu. Hanya hujan yang terlalu deras, suaramu yang tak henti memantul sudut - sudut ruangan dan menggema benakku, dan hatiku. Hatiku yang lima menit sebelumnya merindu masa lalu, kini luruh seutuhnya.

Hai, kamu.

Aku salah terlalu mengagungkan masa lalu yang sudah terlalu jauh meninggalkanku. Dan kamu benar tentang perkara cinta bukanlah untuk dikeluhkan. Malam itu hujan menemani kita, menemaniku yang mulai bergerak menjauhi masa lalu. Hari ini hujan juga menemaniku, menemani tiap rindu yang aku tuliskan dalam surat ini.

Hai, kamu. Semoga musim dingin tidak membuatmu beku. Semoga kau juga merinduku.

Dariku, yang seharian ini kedinginan karena hujan tak henti - hentinya turun sangat deras, cepatlah kembali agar kita bisa berbagi hangat!

   

No comments:

Post a Comment

#Sufia

Sorbonne, Seoul, Saudi Arabia, SOON