Jan 16, 2013

Surat Ketiga - Tawamu, Bahagiaku

Lagi - lagi untukmu, yang senyumnya begitu menenangkan.

Bagaimana suratku kemarin? Semoga kamu tidak lantas berlatih menjadi romantis. Meskipun aku yakin, kamu di sana pasti malah menertawakanku.

Ah, tertawa. Aku jadi ingat. Di bulan kedua kedekatan kita, karena sudah mulai merasa nyaman satu sama lain, kita sudah tidak sungkan lagi. Usiamu tiga tahun lebih tua dariku. Sehingga kamu memang jauh lebih dewasa. Kamu tidak bosan mendengar ceritaku yang kadang - kadang tidak penting. Atau sebenarnya kamu bosan tapi tidak bilang? Hahaha, entah. Tapi begitulah kamu. Namun di bulan kedua, aku mulai menemukan sisi lain darimu. Kamu sangat humoris dan senang tertawa.

Iya, kamu seperti orang gila. Aku baru sadar di bulan kedua bahwa kamu memiliki selera humor yang luar biasa. Setiap kali kita berbincang pasti ada saja leluconmu yang baru. Dan yang lebih lucunya, saat kamu tertawa, matamu hilang! Aku tidak bohong! Tertawamu begitu menyenangkan. Baiklah, caramu tersenyum adalah nomor satu yang aku rindukan.

Kamu bilang, saat kita tertawa, sebelah tangan kita harus memegang perut sementara tangan lainnya dibiarkan bebas. Katamu, itu untuk menghormati lawan bicara kita. Entah itu metode macam apa?! Tapi sungguh, itu favoritku.

Kemudian kamu bercerita, saat kesalahpahaman menimpamu beberapa waktu lalu, satu hal yang kau cemaskan adalah apakah nantinya kamu masih pantas untuk tertawa dan dapat membuat orang lain tertawa? Mendengarnya lantas aku berpikir bahwa, Nila setitik rusak susu sebelanga itu memang benar ada. Namun aku percaya, kebenaran pada akhirnya akan mengembalikan kepercayaan yang sempat hilang.
  
Hai, kamu. Lelakiku yang selalu berhasil membuat orang di sekitarnya tersenyum.

Mengingat tawamu yang renyah membuat rinduku makin membuncah. Setelah masalahmu usai kini, semua orang kembali mendukungmu. Semoga dunia juga tidak berhenti membuatmu bahagia, ya!

Dariku, yang merindumu selalu.


 


No comments:

Post a Comment

#Sufia

Sorbonne, Seoul, Saudi Arabia, SOON